aziz-fajar

October 7th, 2007

Ternyata Allah memang Universal

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Ternyata Allah memang Universal

”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” QS Thahaa: 14.

Apa yang akan saya ceritakan bukanlah tentang pluralisme. Karena bagi saya sudah jelas firman Allah dalam QS Al Kafirun yang ditegaskan dalam ayat terakhir (ayat 6), lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku. Saya hanya ingin berbagi pengalaman dan pemahaman saya bahwa Allah sangat inklusif dan universal.

Kurang lebih dua minggu yang lalu, saya ngobrol dengan salah seorang teman. Sebut saja namanya Budi. Sambil download e mail melalui pop 3 di free hot spot milik dia, kami berbincang dan bertukar cerita tentang pengalaman spiritual kami masing-masing. Saya muslim, dia nasrani. Tapi perbedaan itu tidak menghalangi keakraban kami.

Sebenarnya kami kenal juga belum lama, mungkin baru sekitar dua atau tiga bulanan. Tapi keakraban yang muncul seolah-olah kami seperti sahabat lama. Tidak ada sama sekali batasan yang membuat kami saling sungkan. Perbincangan kami mengalir dengan lepas.

Budi adalah seorang nasrani yang percaya dengan takdir, bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tidak berjalan dengan sendirinya. Namun atas kehendak suatu zat yang pasti mempunyai sifat maha segala sesuatu. Berdasarkan pengakuannya, Budi percaya dengan keberadaan Allah. Menurut Budi, sepertinya dia adalah muslim meskipun secara resmi di KTP dia seorang nasrani.

Pada dasarnya tahapan-tahapan dan proses perjalanan spiritual kami mirip satu sama lain. Dimulai dari pertanyaan dan pencarian tentang zat tunggal pencipta semesta, kemudian kami sama-sama mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada banyak orang. Tetapi tidak ada satupun jawaban yang mampu memuaskan dahaga kami. Saat mentok dan tidak tahu lagi harus bertanya kemana, kami sama-sama diberitahu oleh seseorang untuk bertanya saja kepada Yang Maha Pencipta. Ternyata, jawaban atas semua pertanyaan kami datang dengan sendirinya pada saat kami dalam kondisi hening dan khusyu menghadap kepada Tuhan.

Dalam satu kesempatan, Budi menyebut Tuhan dengan nama Allah. Cara mengucapkannyapun menggunakan cara muslim, bukan nasrani. Saat Budi –seorang nasrani yang percaya penuh atas takdir dan keberadaan Allah- menyebut nama Allah dengan cara muslim itulah hati saya tiba-tiba tergetar. Hal ini membuat saya kaget. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa hati saya bergetar, padahal yang menyebut Allah bukan seorang muslim. Ah, mungkin kebetulan saja. Begitu pikir saya dalam hati.

Namun ternyata setiap kali Budi menyebut nama Allah dengan cara muslim, setiap kali juga hati saya tergetar. Saya jadi ingat salah satu hadits qudsi yang pernah disamapaikan dalam sebuah forum pengajian umum yang menyebutkan bahwa sebenarnya yang menetapkan nama zat pencipta semesta alam sebagai Allah adalah Allah sendiri. Secara pasti saya tidak ingat, tapi kira-kira redaksionalnya berbunyi sebagai berikut: ”Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku ingin dikenal oleh makhluk-Ku, dan dengan nama Allah-lah mereka memanggil-Ku.” (Mohon maaf apabila saya lupa dan salah kutip.)

Dalam sebuah forum pertemuan antar penggemar acara sulur kembang di salah satu stasiun radio swasta di Banyuwangi, diceritakan bahwa ada seorang warga negara asing yang ingin bertemu dengan Tuhan. Maka dia diminta untuk memanggil-Nya dengan nama Allah. Ternyata panggilan itu disambut oleh Allah.

Saat itu pemahaman atas nama Allah masih berada pada tataran otak saja, masih sebatas menjadi sebuah teori. Baru pada tahapan wajibul yakin. Belum tertanam dalam hati dan menjadi ’ainul yakin ataupun haqqul yakin. Ternyata kemudian Allah memahamkan hati saya dan memberikan bukti langsung bahwa Allah milik semua makhluk-Nya di alam semesta ini. Semua manusia berhak untuk memanggil dan berkomunikasi dengan-Nya. Tanpa perkecualian. Asalkan kita percaya dan yakin sepenuh hati atas eksistensi Allah sebagai satu-satunya zat pencipta alam semesta.

Subhanallah, ternyata Allah memang benar-benar inklusif. Tidak ada sekat-sekat bagi manusia untuk bertemu dengan-Nya. Allah sangat terbuka kepada manusia. Siapapun yang memanggil-Nya, Allah akan datang dan menyambut panggilan itu. Alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati saya melalui firman-Nya dalam QS Al Kafirun. Allahu akbar, hanya Allah-lah yang mampu memahamkan dan menggerakkan hati manusia. Tanpa kehendak-Nya manusia hanyalah sekedar seonggok daging belaka.

Banyuwangi, 30 september 2007
Aziz Fajar Ariwibowo

June 13th, 2007

Banyuwangi Knowledge Café, Hmmm..

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Banyuwangi Knowledge Café, Hmmm..

Banyuwangi baru saja punya gawe cukup besar, yaitu pameran buku murah yang diselenggarakan di Gedung Wanita mulai 18 – 22 Mei 2007. Aktivitas ini patut diacungi jempol karena disela-sela hiruk pikuk pergelaran musik di Banyuwangi, masih ada sebagian dari kita yang peduli dengan soft skill yang jauh dari kesan gemerlap ini, yaitu membaca buku, melalu launching gerakan banyuwangi membaca.

Gerakan ini bukan gerakan populer, karena berbeda jalan dengan trend yang sedang dilakoni oleh mayoritas kaum muda banyuwangi. Bagi kaum muda gaul, jauh lebih enjoy berkeliling kota di akhir pekan bareng klub otomotif masing-masing dengan membawa semangat ekslusifitas dan arogansi daripada melakukan brain storming atau membaca buku. Sampai-sampai tak menyisakan ruang sedikitpun bagi pengguna jalan yang lain saat mereka sedang memamerkan spirit brotherhoodnya.

Tapi, that’s okey. Itu adalah gairah muda yang harus dicarikan saluran pembuangannya pada jalur yang positif dan tidak destruktif. Pada akhirnya pengguna jalan lain seperti sayalah yang harus lebih mengerti untuk mengalah dan memberikan jalan kepada barisan klub-klub otomotif tersebut.

Let’s get back to the topic, tentang banyuwangi membaca. Secara pribadi, saya sangat suka gerakan moral ini. Saya mendukung 100%. Karena melalui proses membaca, yang diawali dengan membaca buku dan semoga akan selalu dilanjutkan dengan membaca alam semesta, segala hal akan terbuka dengan sendirinya. Saya merasa banyak manfaat yang saya peroleh melalui membaca buku. Wawasan saya menjadi bertambah luas, pengetahuan saya menjadi bertambah banyak, dan imajinasi saya menjadi jauh lebih berkembang. Paling tidak, saya selalu nyambung kalau diajak ngobrol tentang apa saja dan dengan siapa saja.

Namun mengawali kebiasaan membaca buku inilah yang tidak mudah. Membutuhkan niat dan kemauan yang kuat. Bahkan kadang-kadang harus melalui proses pemaksaan telebih dahulu. Pengalaman semasa kecil saya dulupun juga sama. Dalam kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, orang tua saya menekankan pentingnya membaca buku. Bagi kami saat itu, membaca buku merupakan investasi. Meskipun lebih banyak membaca buku-buku lama melalui persewaan buku, karena keterbatasan finansial sehingga tidak mampu membeli buku baru, namun kami yakin bahwa isi buku tersebut suatu saat pasti akan berguna dalam kehidupan kami kelak.

Bahkan saat kuliah, saya nyaris berhenti membaca buku. Karena uang kiriman dari rumah hanya cukup untuk hidup satu bulan saja. Buku adalah (masih) barang mahal bagi saya saat itu, sama mahalnya seperti menikmati live music di café. Hingga saya mulai bekerja, perlahan-lahan saya mulai mampu membeli buku sendiri. Sedikit demi sedikit koleksi buku saya bertambah. Sejak saat itu juga saya mulai belajar menulis dan berlanjut sampai sekarang.

Membaca buku itu penting. Sama pentingnya juga dengan proses transfer pengetahuan yang kita peroleh dari membaca buku tersebut kepada lingkungan kita. Sehingga pada akhirnya seluruh anggota komunitas dimana kita berada menjadi sama tercerahkannya seperti kita.

Spirit inilah membuat saya memimpikan sebuah knowledge café di Banyuwangi. Sebuah tempat nongkrong yang ramah dan nyaman, sehingga mampu membuat segenap pengunjungnya merasa comfort untuk berlama-lama berdiskusi tentang apa saja di situ. Pengunjungnya sangat heterogen, mulai dari anak-anak sampai orang tua dengan beragam latar belakangnya masing-masing. Tidak ada batasan sama sekali. Di knowledge café itu dilakukan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan proses pencerahan komunitas. Ada story telling, membaca buku bersama, saling bercerita, kajian buku bahkan juga diskusi tentang film, musik atau budaya.

Rasanya pasti menyenangkan berada di Banyuwangi knowledge café. Saya bisa ngobrol tentang apa saja dan dengan siapa saja disana. Semua orang yang datang memiliki satu visi yaitu berusaha melakukan transfer knowledge kepada masyarakat Banyuwangi lainnya tanpa ada vested interest dan muatan politis apapun. Bahkan saya bermimpi terbangun sebuah paseduluran disana tanpa harus menyingkirkan sebagian anggota masyarakat yang lain. Sebuah brotherhood yang dilandasi tidak hanya berdasarkan eksklusifitas dan arogansi kelompok, namun lebih pada semangat untuk saling mencerahkan.

Saya bermimpi di café itu tersedia buku-buku yang bebas dibaca oleh para pengunjung tanpa merasa takut terintimidasi kewajiban untuk membelinya. Ada juga tumpukan dvd film-film, baik film box office maupun alternatif, yang mampu menjadi stimulan bagi proses perkembangan daya baca kita. Asalkan jangan melulu film horor dan sinetron glamour yang mendominasi khazanah perfilman kita akhir-akhir ini yang ternyata tidak membuat kita menjadi bertambah cerdas. Namun filam yang ditonton bersama adalah jenis-jenis film yang membawa semangat untuk berbagi motivasi, cerita, informasi, bahkan juga wacana baru.

Selain itu, tersedia juga fasilitas akses internet gratis berupa hot spot yang bebas dinikmati oleh siapapun. Di sana kita bisa browsing internet sepuasnya untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya. Segala hal ada di internet, tinggal klik saja di situs pencari seperti google, dalam hitungan detik segera bertaburanlah informasi di monitor kita dari seluruh penjuru dunia. Pihak café hanya perlu menyediakan 2 atau 3 buah pc saja sebagai pemikat, karena pengunjung dapat menikmati layan wifi melalui notebook atau HP mereka yang saya yakin sudah bukan barang asing lagi buat masyarakat Banyuwangi. Wah, nikmat sekali sepertinya menjadi bagian dari Banyuwangi knowledge café. Apalagi kalau spot internet tersebut mampu mengcover seluruh area pemukiman di wilayah Kabupaten Banyuwangi seperti yang dilakukan oleh Kabupaten Kutai Kertanegara, pasti akan mejadi jauh lebih nikmat lagi..

Hmm.. Tapi apakah Banyuwangi Knowledge Café nantinya benar-benar bisa terwujud dan bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Banyuwangi, atau hanya sebatas mimpi saya saja di siang bolong?

Banyuwangi, 22 Mei 2007

Aziz Fajar Ariwibowo

Pecinta kopi, buku, film, musik, budaya dan internet

April 30th, 2007

Saatnya melangkah dan berbagi mimpi!

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Saatnya melangkah dan berbagi mimpi!

Lumayan sering sudah film Gladiator diputar di beberapa televisi swasta di Indonesia. Sekian kali saya nonton film yang dibintangi oleh Russel Crowe ini, serasa tidak ada bosannya. Sama seperti saat saya menonton salah satu film Crowe lain yaitu Beautiful Mind, sekian kali saya nonton sekian kali juga saya mendapat sesuatu baru yang berbeda.

Terakhir dari film Gladiator yang mengesankan saya adalah salah satu scene di awal-awal film. Scene ini biasanya lewat begitu saja dalam ingatan saya karena selama ini saya anggap tidak terlalu istimewa. Namun beberapa waktu kemarin, apa yang disampaikan Maximus ketika sedang mempersiapkan pasukannya untuk berangkat ke medan pertempuran masih terngiang-ngiang di telinga saya. Bahkan sampai sekarang.

“Apa yang kalian lakukan dalam kehidupan, akan bergaung dalam keabadian.”

Begitulah Maximus memberikan motivasi kepada pasukannya untuk tetap tegar dan semangat menghadapi pertempuran berikutnya. Sederhana saja ucapan itu, namun bagi saya bermakna sangat dalam. Maximus ingin agar tidak ada seorangpun dari pasukannya yang meragukan tujuan dari pertempuran itu. Maximus ingin agar segenap pasukannya tetap percaya dengan keyakinan mereka. Terus firm dengan tanpa keraguan sedikitpun atas apa yang sedang mereka perjuangkan. Hati saya ikut bergetar mendengar ucapan itu…

Sampai dengan saat ini saya masih percaya penuh bahwa kunci kesuksesan adalah keyakinan yang sangat kuat terhadap sebuah tujuan yang dibarengi oleh konsistensi atas ikhtiar yang kita usahakan untuk meraih goal. Alam semestapun akan melengkung dengan sendirinya mengikuti keyakinan kita itu. Bahkan Allah sendiri menjanjikan perubahan takdir apabila kita terus menerus berdoa dan berusaha ke arah perubahan tersebut.

Bagaimana dengan tujuan yang baru sebatas mewujud dalam mimpi di malam-malam kita yang sepi? Apakah kita berani meletakkan mimpi itu dalam pahatan keyakinan yang mengkristal dalam setiap doa kita kepada Allah?

Bermimpi adalah sebuah proses yang wajar bagi manusia. Mimpi sangat dibutuhkan apabila kita ingin terus berproses dalam tumbuh kembang yang berkelanjutan. Bahkan setiap proses kreatif dan inovasi selalu diawali dengan bermimpi. Sehingga dapat dikatakan bahwa melalui proses bermimpilah kita mulai benar-benar hidup sebagai seorang manusia. Kemudian apa yang bisa kita lakukan saat kita baru bisa mimpi dan belum memiliki kesempatan ataupun kemampuan untuk mewujudkannya?

Sebelum berbicara lebih jauh tetang mimpi, ucapan Maximus di scene awal film Gladiator tersebut merupakan sebuah ajakan bagi seluruh pasukannya untuk segera bertindak mewujudkan mimpi mereka. “Ini saatnya bagi kita untuk melangkah,” begitu kira-kira yang ingin disampaikan oleh Maximus, “Dan jangan kuatir karena apa yang kalian lakukan dalam kehidupan ini akan bergaung dalam keabadian.”

Begitu juga bagi kita, apapun yang kita miliki meskipun baru sebuah mimpi, kita harus berani untuk segera melangkah. Paling tidak, mimpi-mimpi itu harus segera kita bagi dengan rekan-rekan yang satu visi dan mampu kita percaya. Dengan kata lain, kita harus segera membangun mimpi bersama dengan lingkungan kita.

Apabila kita secara konsisten rajin membagi mimpi itu dengan orang-orang terdekat kita, yakinlah bahwa suatu saat mimpi itu akan terwujud. Bahkan melalui jalan yang sama sekali tidak terduga dan sepertinya tidak mungkin. Karena apabila Allah sudah berkehendak dan ridlo dengan mimpi kita, maka tidak akan ada yang mampu menahan mimpi itu untuk membumi dan menjadi kenyataan.

Jadi, jangan takut untuk bermimpi. Namun jangan hanya berhenti pada tahapan bermimpi saja. Segeralah mengambil tindakan untuk mewujudkan mimpi itu. Paling tidak melangkahlah dengan tindakan yang sangat sederhana, yaitu berbagi mimpi!

Inilah saatnya untuk melangkah, karena apa yang kita lakukan dalam kehidupan akan bergaung dalam keabadian..

“Keep on struggling, then you will find the amazing of believing.”

Banyuwangi, 29 April 2007

Aziz Fajar Ariwibowo

March 27th, 2007

Shalat dan istiqamah

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Shalat dan istiqamah

Dalam sebuah acara pelepasan pemimpin hari Kamis dua minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat bernama Yudi. Kami berbincang cukup lama, praktis kami berdua tidak mengikuti jalannya acara pelepasan. Hanya sesekali saja saat audiens bertepuk tangan, kami ikut bertepuk tangan juga. Banyak sekali yang kami percakapkan, mulai dari sejarah keluarga sampai dengan perjalanan hidup masing-masing. Yudi ini dikarunai oleh Allah kelebihan mampu melihat yang tidak terlihat, sehingga dalam percakapan kami sesekali dia dengan benar membaca silsilah keluarga saya.

Dalam diskusi yang mengasyikkan tersebut, saya juga bercerita tentang perjalanan pencarian konsep ketuhanan saya selama ini. Dari a sampai z perjalanan itu saya ceritakan, sampai pada kesimpulan sementara saya bahwa segala sesuatu bermuara kepada diri sendiri.

Di tengah-tengah diskusi, tiba-tiba Yudi menyela, Mas sampeyan dikasih apa sama bapak mertua sampeyan? Saya tidak langsung menjawab, karena saya bingung. Bapak mertua saya bukan orang ngerti mas, jelas saya.

Sepengetahuan saya, memang bapak mertua saya adalah tipe orang yang taat pada syariat. Selama ini beliau berusaha membuang jauh-jauh segala sesuatu yang tidak sesuai dengan al qur’an dan hadits. Al qur’an-pun beliau pelajari dan pahami maknanya melalui logika, sendirian tanpa bantuan ustadz. Hanya saja memang bapak mertua saya, alhamdulillah, istiqamah shalat berjamaah lima waktu di masjid dekat rumah. Sehingga tidak mungkin beliau memberikan bacaan wirid atau laku yang diijazahkan khusus buat saya.

Kemudian saya diam sejenak, berusaha mengingat kira-kira apa yang pernah disampaikan oleh bapak mertua kepada saya selama ini. Kalau bukan berupa bacaan wirid atau laku, kemudian seperti apa bentuk pemberian beliau kepada saya? Satu hal yang selama ini yang tidak pernah saya lupakan dari bapak mertua adalah pesan beliau kira-kira awal tahun 2006. Saat itu saya sedang cuti dan pulang ke rumah isteri di Surabaya. Dalam sebuah kesempatan ngobrol ngalor ngidul dengan bapak mertua, di akhir percakapan beliau berkata istiqamah ya ziz. Hanya itu, tidak ada yang lain.

Ingatan itulah yang saya ungkapkan kepada Yudi. Saya katakan kepada dia bahwa bapak mertua tidak pernah memberikan apa-apa kepada saya, beliau hanya berpesan agar saya terus istiqamah. Nah itulah dia mas, kata Yudi. Istiqamah. Jumeneng. Berdiri. Yang diberdirikan adalah shalat, lanjutnya.

Saya jadi teringat ucapan salah seorang ustadz yang saya temui kira-kira akhir bulan Desember 2006. Saat itu saya sedang berkunjung silaturahmi kepada beliau. Dalam percakapan kami, saya sempat bertanya, Gus (dia anak seorang kyai) saya ingin belajar ma’rifat dan ingin bertemu dengan Allah, bagaimana caranya dan dimulai dari mana? Beliau menjawab, ma’rifat itu bukan ilmu dan tidak bisa dipelajari. Ma’rifat itu hidayah dari Allah. Kalau sampeyan ingin ketemu dengan Allah, mulailah dulu dari shalat lima waktu tepat pada waktunya.

Subhanallah, Allah sedang memberitahukan kepada saya jalan untuk berkomunikasi dengan-Nya melalui dua orang kurirnya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Bukan melalui metode puasa, bukan wirid, bukan juga dengan laku tirakat. Tapi melalui shalat, rukun islam kedua setelah membaca syahadat, yang menjadi penanda eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah. Shalat, istiqamah, tepat waktu.

Banyuwangi, 19 Pebruari 2007

Aziz Fajar Ariwibowo

March 27th, 2007

Dan segalanya bermuara pada diri sendiri

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Dan segalanya bermuara pada diri sendiri

Sekian waktu berlalu, tidak terasa sembilan bulan sudah sejak saya pertama kali menuliskan kegelisahan hati dalam proses pencarian diri sendiri dan keinginan untuk berjumpa dengan Allah. Berbagai macam tanda-tanda alam sudah diberikan oleh Allah sebagai jejak yang harus saya telusuri sendiri. Jejak-jejak itulah yang membuat hati saya saat ini menjadi tidak lagi berprasangka kepada Allah. Belum semua kegalauan terjawab sebenarnya, namun dengan kehendak-Nya, Allah menenangkan hati saya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi kegelisahan, tidak ada lagi prasangka. Yang ada hanya satu keyakinan, bahwa Allah pasti akan selalu berkomunikasi dengan bahasa yang sangat dipahami oleh makhluk-Nya. Perjalanan spiritual setiap manusia tidak akan pernah sama. Dan setiap pertanyaan akan selalu dijawab dengan lembut oleh Allah. Subhanallah, Allahuakbar..

Lebaran 1427 H kemarin setelah saya kembali ke Banyuwangi dari perjalanan mudik selama satu minggu, dalam acara halal bihalal yang diadakan oleh kantor di rumah dinas pemimpin, saya mengajak dua orang teman sebut saja Huda dan Hadi untuk bersilaturahmi kepada Pak H. Slamet Utomo. Rasanya sudah cukup lama saya tidak bertemu beliau, dan juga sangat banyak pertanyaan di otak yang ingin saya tanyakan. Salah satu teman saya, Huda, memang cukup dekat dengan beliau, sehingga saya pikir akan lebih mudah untuk memulai percakapan dengan Pak Haji Slamet apabila didampingi oleh dia. Kami sepakat untuk berangkat bareng malamnya habis maghrib.

Begitu selesai kesepakatan diambil, tiba-tiba badan saya terasa sakit seperti mau flu. Kedua lengan saya terasa sakit, dan tulang-tulang jari tangan saya juga terasa ngilu. Biasanya memang sebelum terkena flu, saya selalu merasakan gejala seperti itu. Tapi tidak saya rasakan, karena mungkin hanya akibat dari rasa capek setelah perjalanan jauh mudik ke rumah orang tua. Nanti malam juga hilang, begitu pikir saya.

Sehabis shalat maghrib, dalam kondisi tubuh terasa sakit seperti mau flu, saya berangkat ke rumah Hadi untuk bersama-sama ke rumah Huda dan selanjutnya ke rumah Pak Haji Slamet. Sampai di rumah Hadi, saya hubungi Huda lebih dulu, tapi ternyata Huda tidak bisa berangkat karena ada GP motor 500 cc seri terakhir. Penentuan kemenangan Rossi, kata Huda. Agak kecewa juga sih, tapi apa boleh buat, artinya saya harus berangkat berdua saja dengan Hadi.

Setelah saya jelaskan kepada Hadi bahwa Huda tidak bisa ikut ke rumah Pak Haji Slamet, terlihat Hadi agak ragu-ragu. Kata Hadi, saya tidak bisa ngomong, kalau Huda tidak ikut berangkat, nanti apa yang kita omongkan di sana. Saya mendesak Hadi untuk berangkat meskipun tanpa Huda. Saya bilang, kita berniat baik untuk bersilaturahmi, kenapa harus tertunda hanya karena Huda saja. Banyak sekali yang bisa kita percakapkan dengan Pak Haji Slamet, terutama proses pencarian jati diri kita masing-masing. Begitu saya jelaskan kepada Hadi.

Tapi Hadi tetap tidak bersedia berangkat berdua saja. Dia malah mengajak saya untuk duduk di ruang tamunya dan berdiskusi tentang keinginan dia untuk belajar hakikat shalat dimulai dari mengartikan, memahami dan memaknai setiap bacaan shalat. Di tengah-tengah diskusi Hadi bercerita bahwa beberapa minggu sebelumnya dia sudah membeli dua buku karangan Abu Sangkan yaitu Berguru Kepada Allah dan Pelatihan Shalat Khusyuk, namun belum juga sempat dibaca. Hadi beranjak ke kamarnya dan keluar kembali dengan membawa dua buku karangan Abu Sangkan tersebut, menunjukkannya kepada saya dalam kondisi masih terbungkus plastik dengan rapi.

Saya jadi terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa Allah menunjukkan kepada saya kedua buku Abu Sangkan yang masih terbungkus plastik? Mengapa begitu saya berniat untuk silaturahmi ke Pak haji Slamet tiba-tiba badan saya terasa sakit? Mengapa Huda tidak bersedia menemani saya dan Hadi juga bersikeras menolak untuk berangkat ke Pak haji Slamet apabila tanpa didampingi oleh Huda? Mengapa Allah belum mengijinkan saya untuk bertemu dengan Pak Haji Slamet? Pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengganggu hati saya. Tapi tidak saya ungkapkan kepada Hadi.

Kemudian kami kembali berdiskusi, dan selama proses diskusi itu hanya sesekali saja badan saya terasa sakit. Sekitar jam sembilan, saya pamit pulang. Saya bilang kepada Hadi, lain kali saja kita main ke rumah Pak Haji Slamet kalau Allah sudah berkehendak.

Sampai di rumah, saya langsung masuk kamar dan beristirahat. Badan saya masih terasa agak lemas, tapi tidak lagi sakit seperti sore hari saat saya membuat janji dengan Huda dan Hadi. Sambil tidur-tiduran di samping isteri dan anak saya, kembali saya bertanya-tanya mengapa Allah menunjukkan kepada saya kedua buku Abu Sangkan yang masih terbungkus plastik? Mengapa Allah belum mengijinkan saya untuk bertemu dengan Pak Haji Slamet?

Tiba-tiba saya teringat pengalaman saya selama ini. Allah belum pernah berkomunikasi dengan saya pada saat otak dan hati saya penuh dengan pertanyaan dan prasangka. Allah malah datang pada saat saya menutup semua buku, menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada banyak orang, menghilangkan segala prasangka di hati, meletakkan otak saya di lantai, dan mulai duduk tafakur berzikir menyebut nama Allah dalam keheningan malam.

Saya sadar, bahwa mungkin Allah sedang memberikan jejak lagi, belum saatnya bagi saya untuk kembali mengkaji buku Abu Sangkan dan berdiskusi dengan Pak Haji Slamet. Saya sadar Allah sedang memberikan tanda bahwa saat ini adalah momentum bagi saya untuk mempertanyakan semua kegelisahan ke diri sendiri. Bukan bertanya ke orang lain, bukan pula merujuk ke buku orang lain. Tapi saya harus meluangkan waktu jauh lebih banyak lagi untuk menjenguk kembali ke dalam hati nurani.

Dan ternyata semuanya bermuara kepada diri sendiri..

Banyuwangi, 12 Pebruari 2007 Aziz Fajar Ariwibowo

December 29th, 2006

Pernikahan dalam perspektif orang jawa

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Pernikahan dalam perspektif orang jawa

Akhir-akhir ini rakyat

Indonesia

disibukkan oleh berita-berita di media mengenai poligami. Kesibukan ini dipicu oleh kabar tentang pernikahan kedua A’a Gym yang menuai banyak protes dari baik dari muslim maupun muslimah. Banyak yang mendukung namun banyak juga yang menentang.

Saya tidak ingin ikut-ikutan larut juga dalam kesibukan massal tersebut. Karena bagi saya hukum poligami sudah pasti, diperbolehkan oleh Allah dan dilaksanakan juga oleh Rasulullah di periode 10 tahun akhir hayatnya setelah hijrah ke Madinah, meskipun sebelumnya Rasulullah murni monogami. Namun ada syarat dan kondisi yang harus dipenuhi, yaitu jika dan hanya jika apabila kita mampu berbuat adil kepada isteri-isteri dan anak-anak kita. Apabila memang kita merasa nantinya tidak akan mampu berbuat adil, maka lebih baik jangan berpoligami. Karena pertanggungjawabannya akan sangat berat di hadapan Allah.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menerjemahkan definisi adil dalam sebuah pernikahan menurut pemahaman yang saya yakini dalam perspektif orang jawa.

Beberapa waktu lalu saya silaturahmi ke rumah pemilik rumah yang saat ini sedang saya sewa. Biasalah, dalam rangka lobby biar harga sewa rumah tidak dinaikkan tahun depan. Maklum kondisi saat ini membutuhkan strategi dan siasat untuk menyesuaikannya dengan pendapatan setiap bulannya.

Dalam diskusi itu kami banyak berbincang-bincang mengenai falsafah jawa yang sebenarnya masih relevan dengan kondisi kehidupan bermasyarakat saat ini. Salah satunya adalah falsafah jawa yang memberikan bekal bagi seorang laki-laki sebelum menikah agar memiliki

lima

“ngo” terlebih dahulu. Lima “ngo” tersebut adalah harus mampu “ngopeni” (memelihara), mampu “nglambeni” (memberikan pakaian), mampu “ngomahi” (membangunkan rumah), mampu “ngayomi” (mampu melindungi/mengayomi) dan mampu “ngeloni” (mampu berhubungan seksual).

Lima

ngo ini meliputi dimensi materi dan rohani. Tiga ngo yang pertama yaitu ngopeni, nglambeni dan ngomahi lebih bersifat material. Sehingga harus dipenuhi secara material juga. Sedangkan dua ngo selanjutnya yaitu ngayomi dan ngeloni lebih bersifat rohani. Perasaan bahagia dan tenang berada dalam sebuah keluarga hanya bisa kita rasakan dalam hati saja.

Saya pikir falsafah

lima

ngo ini masih relevan dengan definisi adil dalam sebuah pernikahan. Apabila kita belum mampu memberikan keseluruhan

lima

ngo tersebut kepada isteri kita, maka sebaiknya jangan berpoligami. Apabila kita sudah mampu memberikan

lima

ngo kepada isteri kita, dan kita berniat untuk berpoligami maka sebaiknya kita mempersiapkan diri terlebih dahulu agar keseluruhan

lima

ngo tersebut juga mampu kita berikan kepada isteri kedua, ketiga atau keempat kita nanti. Perlu diingat juga bahwa setelah berpoligami,

lima

ngo yang kita berikan kepada isteri pertama tidak boleh berkurang sedikitpun. Bahkan kalau bisa malah bertambah kadarnya.

Seperti apakah

lima

ngo tersebut, mari kita bahas sedikit saja dari masing-masing

lima

ngo ini.

Ngo yang pertama, kedua dan ketiga adalah ngopeni, nglambeni dan ngomahi. Tiga ngo pertama ini berarti laki-laki sebagai pemimpin keluarga harus mampu memenuhi kebutuhan primer isterinya yaitu pangan (makanan), sandang (pakaian) dan papan (rumah). Darimana kita bisa memenuhi kebutuhan primer itu, tentunya berasal dari sumber penghasilan. Sumber ini bisa berupa apa saja dan bisa berasal darimana saja. Hanya saja sebagai makhluk ciptaan Allah, mungkin lebih baik apabila kita tahu diri untuk mencari sumber penghasilan yang halal dan dalam koridor yang diperintahkan oleh Allah.

Karena perjalanan hidup kita akan menjadi lebih tenang apabila makanan yang dimakan, pakaian yang digunakan dan rumah yang ditinggali oleh isteri dan anak kita berasal dari sumber yang halal.

Ngo yang keempat adalah ngayomi. Seorang laki-laki yang memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan harus mampu memberikan perlindungan atau ayoman kepada isterinya baik secara fisik maupun mental. Laki-laki tersebut harus mampu melindungi keluarganya dari bahaya. Pada saat ada rampok misalnya, maka laki-lakilah yang memiliki kewajiban untuk berada di depan keluarganya untuk membela dan mempertahankan harta keluarganya. Pada saat sang isteri sedang sedih, maka si suami harus mampu dan bersedia memberikan bahunya sebagai tempat bersandar dan berkeluh kesah. Suami juga harus mampu mengatur waktunya sebaik mungkin untuk bekerja, keluarga dan sosial, sehingga isteri tidak merasa diabaikan atau ditinggalkan. Pada saat isteri sedang marah, maka suami harus mampu meredam dan mendinginkan emosi sang isteri. Pada saat keluarga sedang dilanda masalah, suamipun harus mampu memberikan solusi riil dan realistis.

Mengayomi ini sebenarnya lebih banyak berada dalam dimensi immaterial, karena lebih banyak dirasakan oleh hati dibandingkan dirasakan secara fisik. Namun efek yang ditimbulkan oleh kenyamanan secara immaterial ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan kenyamanan secara material. Isteri kita pasti akan lebih menerima apabila berada dalam kondisi kekurangan secara material namun kaya hati dibandingkan kaya secara material namun hatinya tertekan karena tidak pernah merasakan kehangatan kasih sayang seorang suami.

Ngo yang terakhir adalah ngeloni. Artinya kelengkapan sebagai seorang laki-laki yang mutlak harus dimilki oleh suami adalah kemampuan untuk berhubungan seksual. Memang sih seks bukanlah hal yang paling penting dalam sebuah rumah tangga, namun seks-lah yang menjadi bumbu pemanis dan penikmatnya. Tanpa seks, rumah tangga akan menjadi seperti sayur tanpa garam. Hambar. Bahkan romantisme juga merupakan sebagian dari prosesi hubungan seksual antara suami dan isteri.

Nah, setelah mengetahui falsafah jawa

lima

ngo tentang bekal untuk menikah ini, masihkah kita kaum laki-laki merasa mampu untuk berpoligami? Mari kita jawab dalam hati. Karena itu sangat tergantung pada pilihan pribadi masing-masing. Kita sudah paham bahwa syarat dan kondisi yang ditentukan oleh Allah apabila kita berniat untuk beristeri lebih dari satu. Kita juga sudah paham resiko-resiko yang mungkin akan muncul apabila kita berpoligami. Maka pertanggungjawaban atas keputusan untuk menikah lagi ini akan diperhitungkan oleh Allah pada saat hisab di hari akhir nanti.

Semoga Allah masih berkehendak mengikutsertakan kita sebagai makhluk-Nya dan umat Rasulullah yang berjalan dalam koridor Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Amin.

Banyuwangi, 18 Desember 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 29th, 2006

Mengapa manusia masih begitu sombong?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Mengapa manusia masih begitu sombong?

Hari Selasa minggu kemarin saya didatangi salah satu nasabah yang mengajukan permohonan penarikan aset. Karena saya tidak memiliki kewenangan untuk memutus, maka saya mengajak si nasabah ke Jember untuk langsung menemui atasan saya dan berbicara kepada beliau-beliau. Hasil dari negosiasi antar mereka sih tidak terlalu menggembirakan, karena keinginan si nasabah harus ditunda akibat aturan perusahaan yang mengharuskan keputusan diserahkan ke kantor pusat.

Yang menjadi perhatian saya bukanlah hasil negosiasi tersebut, tapi percakapan antara saya dengan nasabah, sebut saja dia Pak Ali, selama perjalanan dari Banyuwangi menuju ke Jember.

Perbincangan ini dimulai dengan cerita bahwa seringkali manusia secara tidak sadar menjadi sombong dan merasa lebih baik dari manusia yang lain. Kasus yang saya contohkan adalah isi tulisan sebelumnya yaitu pengumuman salah satu ta’mir masjid di lingkungan rumah saya yang ditujukan kepada jamaah untuk tidak membawa anak balita ke masjid saat shalat tarawih.

Kemudian Pak Ali balas bercerita bahwa bahwa suatu kali dia pernah silaturahmi ke salah satu kyai di daerah Tanggul, Jember. Di sana dia diberitahu bahwa tidak pada tempatnya apabila dia datang untuk minta barakah kepada sang kyai. Karena kyai tidak punya barakah. Nabi Muhammad saja belum kita ketahui apakah beliau punya barakah atau tidak, yang punya hanyalah Nabi Ibrahim. Dan barakah ini berasal hanya dari Allah, bukan dari yang lain. Untuk itu Pak Ali disarankan untuk melakukan wirid saja sendiri dan berdoa kepada Allah. Itu sudah cukup, tidak perlu minta-minta kepada yang lain. ditakutkan natinya akan menjadi syirik.

Mendengar cerita itu, tiba-tiba saya ingat dengan salah satu bacaan dalam rukun shalat yaitu shalawat nabi pada saat kita sedang tahiyat akhir. Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad, wa ‘ala ali sayyidina muhammad. Kamaa shallaita ‘ala sayyidina ibrahim, wa ‘ala ali sayyidina ibrahim, Wa barik ‘ala sayyidina muhammad, wa ‘ala ali sayyidina muhammad. Kama barakta ‘ala sayyidina ibrahim, wa ‘ala ali sayyidina ibrahim.

Dalam tahiyat kita berdoa kepada Allah: Ya Allah, berikanlah keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya seperti yang telah Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya seperti yang telah Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Nabi Muhammad adalah manusia yang sangat istimewa. Rasul yang dari lahir sudah ditentukan oleh Allah untuk menjadi ma’shum saat dibelah dadanya dan dibersihkan hatinya oleh Jibril, masih selalu didoakan oleh seluruh umat islam dalam shalatnya sepanjang masa agar memperoleh keselamatan dan barakah seperti keselamatan dan barakah yang sudah Allah anugerahkan kepada Nabi Ibrahim. Subhanallah, Allahuakbar..

Saya jadi menangis setelah mengingat shalawat itu. Saya membandingkan dengan diri saya sendiri. Siapa saya dibandingkan Rasulullah? Saya bukan siapa-siapa. Sama sekali bukan apa-apa dibandingkan Rasul. Saya hanya manusia biasa. Tidak ada yang mendoakan saya seperti Rasulullah yang selalu didoakan oleh manusia sepanjang masa. Lalu kenapa saya sampai saat ini masih saja bersikap sombong dan angkuh kepada sesama? Kenapa masih saja saya merasa yang paling pintar dan paling benar?

Padahal sudah jelas bahwa segala hal di dunia hanya kepunyaan Allah. Hanya Allahlah yang berhak untuk sombong dan angkuh. Hanya dari Allah-lah sumber dari segala kepintaran dan kebenaran.

Dalam keyakinan saya, di hadapan Allah, semua orang sama. Tidak ada lagi yang parameter kaya, miskin, benar, salah, pintar, bodoh, besar, kecil, orang tua, anak, sufi, syiah, sunni, muhammadiyah, nahdlatul ulama, kyai ataupun santri. Karena semuanya itu adalah parameter yang dibuat oleh manusia sendiri dan tidak berlaku sama sekali bagi Allah. Pada dasarnya kita ini hanya sekedar ciptaan Allah belaka. Bukan apa-apa.

Bagi Allah hanya ada satu parameter yang berlaku dan sangat menentukan tinggi rendahnya derajat manusia di hadapan Allah yaitu taqwa. Inna akramakum ‘indallahi atqakum. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang bertaqwa.

Astaghfirullahal’azhim, ampuni saya ya Allah. Semoga Allah masih berkehendak untuk menjadikan kita semua sebagai umat Rasulullah yang layak memperoleh syafaat dari Rasul. Amin.

Banyuwangi, 6 Desember 2006 Aziz Fajar Ariwibowo

December 29th, 2006

Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?

Mungkin pengumuman seperti tersebut di atas akan jamak kita dengar di masjid-masjid dan mushalla-mushalla selama bulan ramadhan. Seperti yang dulu biasa saya dengarkan di masjid sebelah rumah orang tua saya. Seperti biasanya juga saya amini pengumuman dari ta’mir tersebut, berdasarkan keinginan bersama untuk lebih khusyu’ tanpa terganggu oleh teriakan anak-anak kecil.

Akan tetapi rasanya jadi berbeda ketika beberapa malam lalu saya mendengar pengumuman yang menghimbau jamaah untuk tidak membawa anak balita selama shalat tarawih di masjid di lingkungan tempat saya tinggal sekarang. Malam itu adalah malam pertama kali dilaksanakan shalat tarawih. Artinya besoknya adalah puasa ramadhan hari pertama.

Terlihat cukup banyak anak-anak usia balita yang ikut orang tuanya ke masjid untuk shalat tarawih. Beberapa diantaranya ada yang kelihatannya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Biasalah, layaknya anak-anak kecil lainnya, bukannya mengikuti tawarih dengan khusyu’ dan tuma’ninah, mereka malah berkumpul dan bercanda rame-rame.

Buat saya sih, kondisi seperti itu oke-oke saja. Saya mahfum karena memang anak kecil sedang dalam masanya bermain-main. Dan kebetulan juga saya merasa tidak terlalu terganggu oleh candaan anak-anak itu. Tapi ternyata tidak begitu buat beberapa orang jama’ah dan ta’mir masjid. Pada waktu memberikan kultum, seorang ta’mir memberikan arahan kepada seluruh jamah untuk selanjutnya tidak lagi membawa anak balita ke masjid. Karena menurut beliau, balita yang berkumpul di masjid akan menyebabkan jamah menjadi tidak khusyu shalatnya. Buktinya pada saat itu terdengar anak-anak kecil sedang berkumpul dan saling berbicara dengan suara yang agak keras.

Pengumuman ta’mir tersebut mengejutkan saya. Memang sih, sebelum memberikan arahan beliau terlebih dulu meminta maaf apabila apa yang akan disampaikan mungkin menyinggung perasaan sebagian jamaah. Tapi tetap saja saya kaget.

Yang membuat saya terkejut adalah ternyata kita sendiri masih membuat batasan tentang siapa yang berhak dan layak untuk datang ke baitul-Lah. Padahal di mata Allah semua manusia adalah sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan lainnya. Allah sangat egaliter. Baik seorang ustadz dan orang tua ataupun anak kecil, masing-masing memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya.

Saya tidak terlalu ingat, tapi seingat saya dalam salah satu hadits disebutkan bahwa suatu ketika Kanjeng Rasul mengerjakan shalat berjamaah dengan para sahabat. Saat itu Kanjeng Rasul mengerjakan salah satu sujudnya dalam waktu yang cukup lama. Sehingga membuat para sahabat heran dan bertanya-tanya. Setelah selesai sahalat, akhirnya Kanjeng Nabi menjelaskan mengapa salah satu sujudnya lama adalah karena waktu itu cucu beliau yang masih kecil sedang duduk di leher beliau. Kanjeng Rasul tidak mau mengganggu keasyikan cucunya, sehingga memutuskan untuk menunggu sampai si cucu bosan dan turun dari leher Kanjeng Rasul. Setelah itu baru Kanjeng Rasul melanjutkan shalat ke rakaat berikutnya.

Subhanallah.. Bahkan Kanjeng Rasul sekalipun masih menghormati cucunya yang notabene seorang anak kecil yang sedang bermain-main dan duduk di atas leher beliau. Lalu mengapa kita masih dengan sombongnya melarang anak-anak balita kita untuk menjadi tamu Allah? Apakah dengan menjadi orang tua membuat kita merasa sah untuk menentukan layak atau tidaknya seorang balita ikut datang ke masjid?

Rasulullah adalah manusia pilihan yang semenjak dari lahirnya sudah dijaga hati, lisan dan tindakannya oleh Alah dari perbuatan buruk. Namun Kanjeng Rasul masih menyempatkan waktu membiarkan seorang balita bermain-main di atas leher beliau meskipun saat itu Kanjeng Rasul sedang menjadi imam shalat berjamaah dengan para sahabat. Kemudian seperti apakah kita dibandingkan dengan Rasulullah? Sederajatkah kita yang sangat banyak dosanya ini dibandingkan dengan Kanjeng Rasul yang ma’shum? Lalu mengapa kita dengan mudahnya menentukan bahwa anak-anak kita yang masih berumur balita tidak layak menjadi tamu Alah di rumah-Nya?

Dalam keyakinan saya, belum tentu di hadapan Allah saya lebih suci dibandingkan anak saya yang baru berumur 14 bulan. Belum tentu doa saya lebih makbul dibandingkan dengan doa anak saya. Belum tentu saya lebih diajeni oleh Allah di dalam rumah-Nya dibandingkan dengan anak saya. Belum tentu juga shalat yang saya lakukan di masjid lebih diridlai Allah dibandingkan dengan kehadiran anak saya di sana.

Kehadiran anak-anak di masjid adalah sebenarnya proses pembelajaran bagi mereka. Anak-anak kita akan melihat bagaimana cara shalat yang baik dan benar. Anak-anak juga akan melihat bagaimana para orang tuanya bermusyawarah tentang kepentingan bersama di masjid. Anak-anak akan belajar memahami bahwa masjid adalah pusat seluruh aktivitas masyarakat di lingkungannya. Namun bagaimana semangat “back to mosque” tersebut dapat ditanamkan ke benak anak-anak kita apabila dari awal kita sudah membuat saringan layak atau tidak layak bagi mereka untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya sendiri?

Dalam keyakinan saya, spiritualitas dan kekhusyukan kita dalam beribadah tidak ditentukan oleh usia. Tidak ditentukan juga oleh seberapa ramai atau seberapa sepi lingkungan tempat kita beribadah. Tapi lebih banyak ditentukan oleh seberapa ikhlas kita bersedia beribadah dan berdzikir atas nama Allah. Bukan atas nama yang lainnya.

Sebagai akhiran, saya mengutip perkataan salah seorang sahabat bahwa penyakit orang baik adalah pada saat dia merasa dirinyalah yang paling baik. Sehingga kita harus selalu berhati-hati karena batas antara baik dan buruk sangatlah tipis. Bahkan terkadang tanpa terasa kita sudah berjalan melintasi batas tersebut dan berada di area seberang hanya karena kita merasa sedikit lebih baik dari seorang balita.

Semoga Allah masih berkehendak mengijinkan kita semua untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan. Karena bulan ramadhan adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri untuk kemudian selanjutnya kita jadikan sebagai dasar transformasi diri menuju ke arah yang lebih baik.

Banyuwangi, 25 September 2006 Aziz Fajar Ariwibowo

December 29th, 2006

Let’s talk about love : Menikah Enaknya Cuma 5%…

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Let’s talk about love : Menikah Enaknya Cuma 5%…

Yang 95% ternyata uueenaaaaak… :-)

Itu adalah joke yang pertama kali saya dengar di akhir tahun 2000 menjelang saya akan lulus kuliah. Waktu itu saya dan beberapa orang teman sedang ngobrol bersama dengan seorang dosen muda yang baru satu tahun menikah. Karena masih jomblo, iseng-iseng sambil bercanda kami bertanya ke dia, bagaimana rasanya menikah. Dosen muda itu menjawab sambil bercanda juga dengan joke seperti itu.

Oke, itu adalah joke yang harus ditanggapi dengan paradigma joke juga. Sehingga apabila kita ingin berbicara sedikit lebih serius tentang pernikahan, maka kita harus bersedia membuka mata, telinga, mulut dan pikiran kita lebar-lebar. Karena sebuah pernikahan tidaklah sesederhana seperti joke itu namun sekaligus juga tidak serumit dan semenakutkan yang dibayangkan sebagian dari kita.

Menikah adalah sebuah keputusan besar dalam hidup seorang anak manusia. Karena ini merupakan keputusan seumur hidup. Setelah menikah nanti, pada saat bangun tidur di pagi hari, pertama kali yang kita lihat adalah wajah pasangan hidup kita. Begitu juga saat akan tidur di malam hari, wajah terakhir yang kita lihat adalah wajah suami atau isteri kita. Tentunya kita tidak ingin biduk pernikahan yang kita bangun akan kandas di tengah jalan, karena konsekuensinya cukup berat terutama bagi anak kita nanti. Meskipun bercerai adalah salah satu perbuatan halal, tapi tidak disukai oleh Allah.

Sedemikian beratnyakah mengambil keputusan untuk menikah? Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa pernikahan tidak sesederhana sekaligus juga tidak serumit dan semenakutkan yang dibayangkan. Beberapa paragraf di bawah adalah hasil perenungan dan diskusi saya dengan isteri semalam di tempat tidur tentang sebuah pernikahan.

Manusia adalah ciptaan Allah semata, tidak lebih dari itu. Sehingga wajar apabila Allah sangat mengenal dan memahami seluk beluk manusia bahkan sampai hal yang paling kecil dan sepele sekalipun. Bagi saya, Allah-lah yang menentukan dan hanya Allah yang tahu kapan kita siap untuk menikah dan dengan siapa kita akan menikah. Sebelum menikah, saya yakin Allah akan memberikan cobaan yang terkait erat dengan hal itu. Apabila kita mampu mengatasi cobaan, dan menurut Allah kita layak untuk menikah, maka saat itulah kita akan menikah.

Begitu juga dengan jodoh kita. Sekeras apapun kita berusaha utuk menikah dengan pilihan kita, apabila Allah menentukan bukan dia jodoh kita, maka kita tidak akan pernah bisa menikah dengan pilihan kita itu. Sebaliknya juga begitu. Sekeras apapun kita menolak untuk menikah dengan seseorang, apabila Allah sudah menggariskan bahwa dia adalah jodoh kita, maka kita pasti akan menikah dengan dia.

Menikah adalah fitrah manusia. Karena Allah sendiri sudah menyatakan bahwa segala sesuatu di semesta ini diciptakan selalu berpasang-pasangan, termasuk manusia. Menikah adalah sebuah kebutuhan. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan sarana yang halal untuk menyalurkan salah satu kebutuhan dasarnya yaitu seks. Menikah adalah sebuah kebahagiaan. Karena kita memiliki tempat utuk sharing saat kita sedang bete, tempat menyandarkan kepala saat kita sedang lelah, dan tempat untuk menggali motivasi saat kita sedang down.

Menikah dalam hasil perenungan saya dan isteri saya adalah sebuah proses kompromi antara dua orang yang berbeda dengan ego masing-masing. Sehingga sangat wajar apabila banyak hal yang tidak cocok di antara kami. Keinginan, kesenangan, dan preferensi kami berbeda. Namun apabila dikembalikan kepada titik kebutuhan melalui metode kompromi, semua perbedaan itu bisa dijembatani. Kekurangan saya akan dilengkapi oleh isteri. Begitu juga sebaliknya, saya akan mencover kekurangan yang dimiliki oleh isteri saya.

Sebuah pernikahan membutuhkan komunikasi yang unggul. Kompromi yang akan dilakukan antara suami dan isteri harus dikomunikasikan terlebih dahulu, sehingga masing-masing pihak mengetahui, mengerti dan memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya. Ternyata proses komunikasi dalam rangka mengetahui, mengerti dan memahami pasangan hidup inilah yang akan berlangsung selamanya. Lifetime process, dan hanya akan terhenti apabila kita mati nanti. Setelah diperoleh peta kebutuhan dan keinginan masing-masing, baru dilakukan kesepakatan bagian mana yang harus dikompromikan.

Beberapa waktu sebelum kami menikah dulu, saya melihat satu film yang dibintangi oleh Tom Cruise dan Renee Zellweger, Jerry Maguire. Saya lupa siapa nama kedua tokoh itu dalam film tersebut. Sebuah film yang romantis, menceritakan tentang perjalanan hidup dan cinta seorang agen bintang olahraga. Saya tidak akan mempertanyakan definisi cinta dalam film Jerry Maguire, karena masalah cinta bagi saya sudah terselesaikan sebelum saya berbicara tentang pernikahan ini.

Satu hal yang menginspirasi saya adalah curahan hati Renee kepada kakak perempuannya mengapa dia mencintai Tom Cruise. Renee bilang, “I love him because he is a man almost to be”. So inspiring, bahwa dia mencintai seorang laki-laki bukan karena si lelaki ganteng, kaya ataupun memiliki kegemaran yang sama, tapi karena si lelaki sedang berusaha meraih impiannya.

Setelah melihat keseluruhan film Jerry Maguire, saya membuat satu kesimpulan bahwa “A marriage is not all about fitting each other, but it is all about completing each other”. Sebuah pernikahan bukanlah melulu mengenai kecocokan antara suami dengan isterinya, tapi lebih merupakan kesalingmelengkapi satu sama lain. Prinsip itulah yang saya bawa sampai saya menikah bahkan sampai saat ini dan nanti.

Banyuwangi, 04 Juli 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 26th, 2006

Let’s talk about love : Atas Nama Cinta..

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Let’s talk about love : Atas Nama Cinta..

Pernahkah anda berpacaran? Untuk pertanyaan ini, saya yakin mayoritas akan menjawab pernah. Karena melalui pacaran itulah kita mencoba untuk menjajagi dan mengenali pasangan kita masing-masing. Tapi benarkah pacaran itu memang efektif sebagai mediasi untuk memahami segala sesuatu tentang calon pasangan hidup kita? Kalau memang efektif, kenapa masih banyak pasangan suami isteri yang memutuskan untuk bercerai setelah sekian tahun menikah meskipun sebelumnya sudah diawali dengan pacaran?

Seperti tulisan saya sebelumnya “Let’s talk about love : Cinta…, cinta?”, saya akan mencoba untuk sedikit mengupas mengenai pacaran ini berdasarkan pengalaman, pemikiran dan persepsi pribadi saya. Bukan berdasarkan pemikiran para filosof dan psikolog atau mengutip buku-buku mereka. Sehingga apapun yang akan saya sampaikan nantinya masih sangat debatable.

Pacaran, dalam persepsi saya, ternyata tidak dibutuhkan sama sekali. Pacaran bagi saya tidak ada manfaatnya dan hanya menghabiskan energi saja. Karena perhatian, konsentrasi, waktu, bahkan uang kita akan habis tersedot selama proses berpacaran yang kita lakukan atas nama cinta tersebut. Apabila dihitung-hitung dan ditimbang-timbang, ternyata pacaran tidak terlalu banyak membawa kebaikan, malah sangat banyak membawa keburukan bagi kita. Uraian dibawah akan menyajikan beberapa argumentasi yang mendasari premis saya itu.

Alasan pertama yang membuat saya tidak setuju dengan konsep pacaran adalah karena bagi saya cinta itu tidak ada dan tidak nyata. Yang ada di dunia ini adalah hukum sebab akibat yang termaterialkan dalam bentuk pamrih atau motif. Baik pamrih positif maupun pamrih negatif. Cinta sejati hanya ada tiga yaitu cinta antara Allah kepada manusia, cinta Rasulullah kepada umatnya dan cinta orang tua (terutama ibu) kepada anaknya.

Alasan kedua adalah karena dalam berpacaran akan muncul keinginan untuk saling memiliki. Hasrat inilah yang dijadikan sebagai pembenaran untuk mengatur hidup pacar masing-masing. Padahal sebenarnya mereka belum punya hak sama sekali untuk melakukan itu. Yang memiliki hak mengatur hidup seseorang hanyalah orang tuanya selama si anak belum menikah. Karena orang tualah yang membiayai seluruh kebutuhan hidupnya. Baru melalui prosesi nikah yang sah, sang suami atau isteri memperoleh hak untuk mengatur hidup pasangannya masing-masing berdasarkan kesepakatan bersama.

Saya sendiri berencana apabila anak saya sudah besar nanti, saya akan melarang dia untuk berpacaran. Boleh saja berteman dekat, tapi jangan sampai menyatakan cinta dan bersedia menjadi pacar seseorang. Jauh lebih baik mempunyai banyak teman dekat daripada memiliki satu orang pacar. Semakin banyak teman berarti semakin banyak silaturahmi. Semakin banyak melakukan silaturahmi biasanya semakin banyak rejekinya. Saya akan bilang ke anak saya nanti : “Jangan takut disebut sebagai playgirl atau playboy. Karena sebutan itu menunjukkan ketidakmampuan mereka melemahkan prinsipmu untuk tidak berpacaran. Apabila ada yang terus menerus menyebutmu seperti itu dan kamu tidak terima, jangan kuatir karena ada bapak yang selalu ada di depanmu untuk membelamu.” :-)

Alasan ketiga adalah karena apabila dua orang yang berpacaran sedang bertengkar, maka seluruh energi mereka akan habis tersedot untuk menyelesaikan pertengkarannya. Padahal pertengkaran atas nama cinta itu benar-benar tidak cukup berharga untuk diberikan perhatian lebih. It’s not worhty enough jack, really… Sangat tidak layak apabila air mata dikeluarkan hanya sekedar karena cinta belaka. Lebih baik apabila energi itu disalurkan untuk melakukan pengembangan diri atau untuk menyenangkan diri sendiri. Masih banyak hal penting lain yang jauh lebih layak dikerjakan dibandingkan membiarkan energi kita habis untuk sesuatu yang dinamakan cinta.

Alasan keempat adalah karena berpacaran akan memunculkan suasana yang tidak sehat bagi kita. Menurut Harry dalam film “When Harry Met Sally’, bohong apabila seorang laki-laki berkawan dengan perempuan tanpa ada pamrih apapun. Jadi tidak akan ada relasi adik-kakak dalam hubungan antara cewek-cowok. Yang ada adalah interest, termasuk di dalamnya adalah nafsu syahwat. Nah, nafsu inilah yang berbahaya. Dalam sepanjang sejarah peradaban manusia, pertumpahan darah terjadi seringkali disebabkan oleh urusan bagian bawah perut ini. Kisah perkelahian antara Habil dan Qabil dalam Islam diakibatkan oleh nafsu syahwat. Demikian juga di jaman Romawi dulu, Troya runtuh tidak jauh-jauh dari urusan bawah perut. Troya hancur karena memperebutkan perempuan bernama Helen. Sehingga dikenal-lah Helen of Troy.

Sayang sekali apabila terjadi kehamilan akibat hubungan seksual pra nikah. Karena belum siap untuk menikah dan merawat anak, akhirnya kandungan diaborsi. Baru saja saya selesai melihat tayangan tentang proses aborsi. Dalam tayangan itu diperlihatkan bagaimana bayi-bayi itu bergerak-gerak ketakutan dan merasa sakit saat alat penghancur memasuki rahim, yang terekspresikan melalui peningkatan intensitas detak jantung bayi. Miris hati saya melihat tayangan itu, how dare did they do that stupid thing?

Empat hal itu sudah cukup bagi saya untuk mengatakan bahwa pacaran jauh lebih banyak membawa keburukan daripada kebaikan. Pacaran tidak menjamin kita mampu memahami pasangan sepenuhnya. Buktinya banyak yang menghabiskan sekian tahun untuk pacaran dengan alasan agar lebih saling mengenal, setelah setahun menikah langsung bercerai.

Maka apabila membutuhkan waktu untuk mengenal calon suami atau isterinya, tidak berarti harus melalui metode berpacaran. Karena ternyata proses memahami dan mengerti pasangan masing-masing akan berlangsung seumur hidup sampai mati.

Atas nama cinta? Enggak deh…

Banyuwangi, 26 Juni 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

« Previous PageNext Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: