Antara LoA dan Doa (5)
Apabila kita runut keenam tahapan doa tersebut di atas satu persatu, terlihat bahwa pelaksanaan rukun islam sesungguhnya adalah doa itu sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai doa yang sesungguhnya, dimana proses merubah ”keadaan diri kita saat ini” dilakukan melalui pelaksanaan lima rukun islam secara sebenar-benarnya dan pada jalan yang lurus.
Ikhlash yang mengkristal dalam syahadat adalah doa, meminta adalah bagian dari doa, istiqamah yang terwujud dalam shalat adalah doa, bentuk syukur dalam zakat adalah doa, sikap tawadhu’ dalam puasa adalah doa dan wujud tawakkal sepenuhnya dalam haji adalah juga doa. Sehingga apabila kelima rukun islam tersebut sudah terpenuhi semuanya dengan sebenar-benarnya pada jalan yang lurus, maka pada saat itulah doa kita menjadi makbul. Pada saat itulah Allah pasti akan mengabulkan setiap permohonan kita.
Tahapan-tahapan dalam doa tersebut, ikhlash – meminta – istiqamah – syukur – tawadhu’ – tawakkal, sangat bersandar kepada ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah. Dengan begitu diharapkan kita tidak keluar dari rambu-rambu Islam, tidak menjadi murtad atau musyrik, dan tetap sejalan dengan rukun islam dan rukun iman.
Kemudian apakah teori dalam LoA bisa sesuai dan selaras dengan prinsip-prinsip Islam menurut saya tergantung pada diri kita, dimana akan sangat dipengaruhi oleh keyakinan yang kita pegang atas konsep ketuhanan serta keberadaan manusia di alam semesta ini. Namun, bagi saya pribadi, LoA tidak akan menjadi sebuah jebakan kesesatan apabila saya mampu memaknai tahapan ask – believe – receive ke dalam konsep doa. ”Ask” bisa diterjemahkan sebagai tahapan ikhlash (syahadat) dan meminta, ”believe” diterjemahkan sebagai tahapan istiqamah (shalat) dan tawadhu’ (puasa), sedangkan ”receive” diterjemahkan sebagai tahapan syukur (zakat) dan tawakkal (haji).
Bagaimanapun juga, pada kenyataannya jebakan-jebakan jalan yang tidak lurus tersebut bertebaran di muka bumi ini dan seringkali tidak kita sadari sebagai sebuah jebakan. Karena perbedaan antara jalan yang lurus dengan yang tidak lurus sangatlah tipis dan menggoda. Begitu tipisnya sehingga diibaratkan sebagai rambut dibelah tujuh.
Menurut saya, satu-satunya cara agar kita tetap lurus berada pada koridor agama Islam adalah dengan jalan:
Ø Mengimani dengan sepenuhnya enam rukun iman,
Ø Melaksanakan dan berpedoman pada lima rukun islam,
Ø Menghayati dan memaknai setiap tahapan dan aktivitas yang kita lalui dalam proses mengimani rukun iman dan melaksanakan rukun islam tersebut.
InsyaAllah, kita akan selalu diberikan petunjuk oleh Allah agar tetap berada jalan yang lurus.
Ihdinashshirâth al mustaqîm, shirâth alladzîna an’amta ‘alaihim ghairil maghdlûbi ‘alaihim waladhdhâllîn.
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al Fatihah ayat 7 – 8).
Allâhumma innâ na’ûdzubika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu wa nastaghfiruka limâ lâ na’lamuhu
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui (Al Ma’tsurat, Hasan Al Banna).
Banyuwangi, 31 Juli 2008
Aziz Fajar Ariwibowo
on May 18th, 2009 at 7:53 pm
AssWW Mas Aziz,
Saya tahu mas dari milis dzikrullah.
Bila ada waktu, kunjungi blog saya, http://loaislami.blogspot.com, disana saya tuliskan LOA secara “lebih ilmiah” serta hubungan dengan al Islam.
Semoga bisa menambanh wawasan.
Tapi, bacanya dari bag 1, kalau dari bah terakhir, bisa bingung nantinya.
WassWW,
Adhi
on August 24th, 2009 at 12:20 am
wa’alaikumussalam wr wb,
insyaAllah pak adhi saya akan kunjungi blog bapak. terimakasih atas nasehatnya.
salam hangat.