aziz-fajar

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (4)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Ikhlash: Segala sesuatu apabila dimulai dan diniati dengan hati yang ikhlash hanya untuk Allah, maka hasilnya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga membawa barakah bagi sekitar kita. Batasan ikhlash kira-kira adalah sebagai berikut::

Radlîtu billâhi rabban wa bil islâmi dînan wa bi muhammadin nabiyyan warasû

lan

Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (Al Ma’tsurat, Hasan Al Banna).

Ikhlash pada titik yang tertinggi adalah pada saat kita benar-benar melaksanakan rukun islam yang pertama yaitu membaca syahadat.

Asyhadu an lâ ilâha illa Allâh, wa asyhadu anna muhammadan rasûlu Allâh

Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Bayangkan betapa ajaibnya syahadat tersebut karena kita percaya dan bersaksi bahwa Allah ada, padahal Allah adalah gaib dan tidak pernah kita saksikan material-Nya. Kita juga tidak pernah bisa melihat Allah melalui indera mata fisik kita. Ajaib sekali karena kita percaya dan bersaksi kepada Nabi Muhammad sebagai Rasulullah padahal kita belum pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan Nabi Muhammad sama sekali. Rasulullah sendiri hidup sekian waktu yang lalu bahkan sebelum kita lahir.

Akan tetapi berbekal keikhlashan yang tertinggi, tanpa paksaan dari manapun, kita sepenuhnya menerima keajaiban tersebut dan mewujud dalam prinsip hidup seorang muslim yaitu bersyahadat.

Meminta: Dalam berdoa pasti terdapat permintaan kepada Allah atau hajat kita. Hanya saja hajat atau keinginan tersebut sebenarnya baru merupakan satu langkah awal saja, yang seringkali bisa berubah-ubah dalam proses perjalanannya. Oleh karena itu hajat akan menjadi lebih hebat dan definitif apabila kita transformasikan ke dalam niat. Sebuah niat yang istiqamah.

Istiqamah: Istiqamah juga menjadi bagian dari rangkaian doa karena apapun yang kita lakukan tidak akan menjadi optimal apabila tidak istiqamah. Seringkali kita dengar mutiara hikmah yang menyatakan bahwa satu istiqamah jauh lebih hebat dibandingkan dengan seribu karamah. Manusia yang mampu menjaga istiqamahnya tidak akan pernah khawatir dengan hasil akhir, karena itu adalah hak prerogatif Allah. Kata Allah:

Inna alladzîna qâlu rabbuna allâhu tsumma astaqâmu falâ khaufun ’alaihim walâ hum yahzunûn

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Al Ahqaaf ayat 13).

Dari Aisyiyah ra, Rasulullah saw bersabda, "Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan dan bergembiralah, karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga". Tanya para sahabat, "Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah ?”, jawab Rasulullah, "Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara terus ­menerus walaupun sedikit". (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i).

Bentuk perwujudan dari sikap istiqamah adalah dengan melaksanakan rukun islam yang kedua yaitu shalat. Shalat melatih kita untuk mampu menjaga disiplin dan ketekunan, karena dalam shalat ada aturan-aturan baik dalam gerakan, bacaan maupun waktunya.

Setiap jam tertentu sebanyak lima kali dalam satu hari kita dilatih oleh Allah untuk melaksanakan shalat wajib. Terus menerus semenjak kita baligh hingga nanti kita berpulang kepada Allah. Bahkan pada jam-jam tertentu pula kita disunnahkan untuk melakukan shalat-shalat sunnah. Begitu seterusnya sehingga pada akhirnya sikap istiqamah akan menginternalisasi di dalam diri dan menjadi sebuah kebiasaan untuk tekun dan konsisten. Sedangkan salah satu kunci sukses dalam melakukan apapun adalah ketekunan dan konsistensi.

Syukur: Sedangkan bersyukur dibutuhkan agar hati kita menjadi lapang dan luas sehingga mampu melihat dunia ini dalam sudut pandang yang lebih menyeluruh. Berbekal paradigma yang holistik maka dunia akan menjadi sangat terjangkau oleh kemampuan kita dalam aspek apapun. Kata Allah:

Wa idz ta’adzdzana rabbukum lainsyakartum la adzîdannakum walainkafartum inna ‘adzâbî lasyadîd

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim ayat 7).

Bentuk pengejawantahan dari sikap bersyukur adalah dengan melaksanakan rukun islam yang ke tiga yaitu berzakat atau bershadaqah. Zakat dan shadaqah merupakan ekspresi syukur seorang muslim atas segala nikmat yang selama ini diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Kita diberikan oleh Allah nikmat berupa hidup, nafas, air, angin, matahari, tumbuhan, hewan, dan lain-lain yang tidak terhitung banyaknya. Semuanya gratis tanpa ada kewajiban bagi manusia untuk mengembalikannya. Begitu banyaknya sehingga apabila kita ingin menuliskan nikmat Allah kepada manusia, tidak akan cukup jika seluruh pohon di alam semesta ini dijadikan penanya dan seluruh air laut dijadikan tintanya. Jadi sangat wajar apabila kita mensyukuri semua nikmat tersebut dengan cara membahagiakan orang lain secara cuma-cuma juga.

Tawadhu’: Tahapan selanjutnya dalam berdoa adalah sikap tawadhu’ yang menjadi salah satu ciri akhlaq seorang muslim. Definisi tawadhu’ kira-kira mengandung tiga hal sebagai berikut:

Ø Melebur dan merendahkan diri di hadapan Allah serta dihadapan hamba-hamba Allah lainnya.

Ø Menghargai orang lain dimana kita menganggap bahwa orang lain lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Namun penghargaan ini sifatnya proporsional sehingga tidak mengarah pada bentuk taklid buta.

Ø Membuka hati dan bersedia menerima kebenaran dari siapapun datangnya tanpa melihat siapa yang berbicara.

Wa ’ibâdu arrahmâni alladzîna yamsyûna ’ala al ardli haunan wa idzâ khâthabahumu al jâhilûna qâlu salâman

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al Furqaan ayat 63).

Walâ tusha’ir khaddaka linnâsi walâ tamsyi fî al ardli marahan, inna Allâha lâ yuhibbu kulla mukhtâlin fakhûrin

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Lukman ayat 18).

Sikap tawadhu’ ini mewujud dalam pelaksanaan rukun islam yang ke empat yaitu berpuasa, karena melalui puasa inilah kita diajari oleh Allah untuk tidak bersikap sombong. Apabila ke empat rukun islam yang lain adalah bentuk ibadah yang masih bisa dilihat oleh orang lain secara fisik dan harfiah, sehingga masih ada kemungkinan untuk munculnya penyakit hati berupa riya’ dan takabur, maka puasa adalah ibadah dimana hanya Allah dan orang yang berpuasa saja yang tahu.

Seandainyapun misalnya ada orang yang tahu bahwa kita sedang berpuasa, maka apakah puasa kita batal atau tidak, apakah kita mampu mengendalikan hawa nafsu atau tidak, apakah kita sedang berbohong atau tidak, maka mereka sama sekali tidak tahu. Tetap yang tahu hanya kita dan Allah saja. Di dalam proses berpuasa Allah mengajari manusia untuk selalu merendahkan diri dan hatinya tidak hanya di hadapan Allah, tapi juga di hadapan manusia yang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridla Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi” (HR. Al-Baihaqi).

Tawakkal: Satu tahapan dalam doa yang paling menentukan adalah tawakkal, atau berserah diri kepada Allah. Bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini, dimana segala sesuatu yang ada di alam semesta sudah diatur dan dipelihara oleh Allah. Bahwa segala ikhtiar yang dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari izin-Nya. Bahwa iradat manusia berada di dalam lingkup iradat Allah. Bahwa hidup manusia sejatinya hanya satu detik saja. Tidak ada masa lalu juga tidak ada masa depan, yang ada hanya saat ini, detik ini. Detik kedua kita sudah tidak tahu lagi apakah kita masih hidup atau sudah mati. Detik berikutnya kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita.

Hasbiyallâhu lâ ilâha illâ huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbu al ‘arsyi al ‘adhîm

Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘arsy yang agung (QS Taubah ayat 129).

“Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini : kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengkabulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim).

Lâ yakun takhkhuru amadi al ‘athâi ma’al ilhâhi fiddua’âi mûjiban liya sika

Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu (Hikmah ke 6, Kitab Al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî)

Qul lan yushîbanâ illâ mâ kataballâhu lanâ huwa maulânâ, wa ’alall âhi falyatawakkali al mukminûn

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS At Taubah ayat 51).

Bentuk aplikasi dari sikap tawakkal adalah dengan melaksanakan rukun islam yang kelima yaitu berhaji. Dalam proses menunaikan haji kita sepenuhnya menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Apapun yang akan terjadi selama proses tersebut kita tidak pernah tahu dan segalanya terjadi atas kehendak Allah. Bahkan keberangkatan seorang muslim untuk berhajipun adalah hanya apabila diundang oleh Allah saja, sehingga jika Allah tidak berkehendak memanggil kita untuk menunaikan rukun islam yang ke lima, maka tidak mungkin kita bisa berhaji.

Labbaik Allâhumma labbaik, labbaika lâsyarîkalaka labbaik

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu (Bacaan Talbiyah)



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: