aziz-fajar

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (3)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Manusia hakikatnya hanya “sakderma nglampahi” hidup di dunia ini sesuai dengan kehendak Allah. Kata Allah:

Wamâ tasyâûna illâ an yasyâ allâhu rabbu al ‘âlamîn

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan yang lurus itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam (QS At-Takwir ayat 29).

Di dalam penjelasan suratAt Takwir disampaikan bahwa turunnya ayat tersebut merupakan sanggahan Allah bagi Abu Jahal yang merasa mampu untuk menentukan jalan hidup atas dirinya sendiri. Dirinya sendirilah yang memutuskan apakah akan menempuh jalan yang lurus atau tidak. Namun Allah membantah anggapan itu dan menegaskan bahwa Allahlah yang menentukannya. Apabila Allah tidak berkehendak, manusia tidak akan mampu melakukan usaha apapun.

Namun, manusia tetap wajib berdoa karena kita diberikan anugerah oleh Allah berupa akal dan pikiran. Melalui sarana berupa doa inilah manusia diperintahkan untuk menjalani sunnatullah dengan sebaik-baiknya serta agar hidup kita bisa menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.

Seperti apapun kesadaran manusia atas keberadaannya di alam semesta ini, Allah tetap memberikan perintah untuk terus meminta. Bahkan Allah menjamin akan selalu mengabulkan permintaan kita apabila kita berdoa hanya kepada-Nya. Ini haq, karena Allah sendiri yang berkata dalam QS Al Mu’min ayat 60 dan Al Baqarah ayat 186:

Wa qâla rabbukumu ud ‘ûnî astajiblakum, Inna alladzîna yastakbirûna ‘an ‘ibâdatî sayadkhulûna jahannama dâkhirîn 

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina (QS Al Mu’min ayat 60).

Waidzâ salaka ’ib âdî ’annî fainnî qarîb, ujîbu da’wataddâ’i idzâ da’âni falyastajîbu lî wal yukminû bî la’allahum yar syudûn

Dan apabila hamba-hamba–Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS Al Baqarah ayat 186).

Namun doa seperti apa yang layak kita sampaikan ke Allah apabila sebenarnya kita berada pada posisi “tidak ada”? Apakah berupa doa yang sekedar kita ucapkan di mulut tapi tidak membekas sama sekali dalam hati? Ataukah berupa doa yang mewujud sebagai perilaku dalam keseharian manusia meskipun tidak pernah kita ucapkan melalui mulut kita ini? Kemudian apakah doa dan permintaan kita bisa merubah takdir Allah atas hidup kita?

Inna allâha lâ yughoyyiru mâ biqaumin hattâ yughoyyiru mâ bianfusihim

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar-Ra’d ayat 11)

Dzâlika bianna allâha lam yaku mughayyiran ni’matan an’amahâ ‘alâ qaumin hattâ yughayyiru mâ bianfusihim, wa anna allâha samî’un ‘alîm

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al Anfal ayat 53)

Berdasarkan kedua ayat tersebut, sepemahaman saya, atas kehendak-Nya, Allah akan merubah takdir manusia dengan syarat apabila kita sudah selesai merubah “keadaan diri kita saat ini”. Dari belum shalat menjadi sudah shalat, dari belum bershadaqah menjadi sudah bershadaqah, dari belum melaksanakan rukun islam menjadi sudah melaksanakan rukun islam, dari belum sepenuhnya mengimani rukun iman menjadi benar-benar sudah mengimani rukun iman, dan lain-lain. Intinya adalah proses merubah diri dari belum melakukan sesuatu menjadi sudah melakukan sesuatu.

Proses merubah keadaan diri sendiri itulah yang menurut saya disebut sebagai doa yang dikabulkan oleh Allah dan mampu merubah takdir seseorang. Dalam artian bahwa, apabila seharusnya setiap qadha akan selalu mewujud menjadi kepastian sebagai qadar, maka qadha seseorang, atas kehendak-Nya, mungkin saja bisa tidak mewujud menjadi qadar dan berubah menjadi qadar yang lain. Bahwa dalam prosesnya, apabila Allah berkehendak, berdasarkan doa manusia maka Allah akan merubah sesuatu yang belum mewujud menjadi suatu kepastian menjadi suatu kepastian yang lain.

Maka doa yang pantas kita sampaikan kepada Allah sebagai manusia yang berada pada posisi ”tidak ada” bukanlah hanya berupa permintaan yang kita ucapkan melalui mulut ini, tapi lebih berupa doa yang mewujud dalam perilaku keseharian kita. Bukan semata doa yang berhenti pada tahapan teori belaka, tapi doa yang benar-benar kita yakini dan laksanakan dalam hidup ini.

Bagaimana dengan LoA, mengapa menurut saya LoA hanya merupakan sebagian kecil dari doa? Karena dalam pemahaman saya, LoA belum sepenuhnya menyandarkan diri kepada ke-Maha Besar-an Allah. Bahkan LoA menolak konsep qadha dan qadar. Begitu juga dengan tahapan-tahapan dalam LoA, menurut saya bukan hanya ask, believe dan receive saja. Sehingga apabila kita sepenuhnya hanya mempercayai teori dalam LoA, saya khawatir kita akan terjebak pada kemusyrikan. Karena seandainya ada satu rukun saja dari enam rukun iman kita ingkari, maka kita sudah keluar dari koridor jalan yang lurus.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham apakah LoA benar-benar meyakini atas keberadaan Tuhan atau tidak. Yang pasti LoA menamakan kekuatan dahsyat di luar sana, yang berperan mewujudkan keinginan manusia, sebagai kekuatan alam semesta, bukan sebagai Allah. Sehingga definisi kekuatan tersebut menjadi sesuatu yang samar-samar atau meragukan. Perbedaan yang sangat tipis antara keyakinan kepada alam semesta dengan keyakinan kepada Allah ditakutkan akan menggelincirkan kita kepada jebakan syirik.

Kemudian LoA juga menolak adanya “papan kehidupan di langit” yang ditulis oleh Tuhan mengenai maksud dan tujuan hidup manusia. Dalam teori tersebut ditegaskan bahwa akal atau pikiran manusia sendirilah yang membentuk semesta, tidak ada campur tangan siapapun atau apapun dalam perjalanan hidup manusia. Manusia adalah penguasa kehidupan manusia sendiri. Artinya Loa tidak mengakui adanya takdir atau sunatullah. LoA tidak mengakui rukun iman yang ke lima yaitu iman kepada qadha dan qadar.

Akibatnya tahapan dalam LoA juga, bagi saya, masih terasa sangat rasional, yaitu ask (meminta) – believe (percaya) – receive (menerima).

Mungkin apabila LoA kita ganti dengan doa, maka tahapannya akan berubah menjadi sebagai berikut: ikhlash – meminta – istiqamah – syukur – tawadhu’ – tawakkal. Dimana terjemahan atas tahapan doa tersebut akan mewujud dalam pelaksanaan lima rukun islam. Masing-masing tahapan dalam doa dijelaskan pada paragraf-paragraf di bawah ini.



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: