aziz-fajar

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (2)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Betapa Maha Berkuasanya Allah dikatakan sendiri oleh Allah dalam QS Yasin ayat 81 – 82:

Awalaisalladzî khalaqassamâwâti wal ardla biqâdirin ‘alâ an yakhluqa mitslahum balâ wahuwal khallaqu al ‘alîm, Innamâ amruhû idzâ arâda syaian an yaqûla lahû kun fayakûn

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (QS Yasin ayat 81 – 82)

Manusia tidak ada artinya dan tidak mempunyai kekuatan apapun di hadapan Allah. Oleh karena itu keberadaan manusia pada hakikatnya adalah tidak ada, tidak eksis, kosong. Hakikatnya yang ada di alam semesta ini hanyalah Allah semata. Allah tidak pernah meruang, tidak pernah mewaktu, dan tidak termaterialkan. Bahkan Allah meliputi segala sesuatu. Yang meruang, mewaktu dan termaterialkan adalah makhluk-Nya.

Mukhalafatuhû lil hawâditsi. Salah satu sifat Allah adalah berbeda dengan makhluk-Nya. Dan tidak ada satupun di alam semesta ini yang mampu menyamai-Nya.

Qul huwa allâhu ahad, Allâhu ashshamad, Lam yalid wa lam yûlad, walam yakun lahû kufuwan ahad

Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS Al Ikhlash ayat 1 – 4).

Perspektif atas eksistensi manusia yang saya pegang hingga saat ini adalah bahwa Allah itu sungguh Maha Meliputi segala sesuatu yang ada di alam semesta ciptaan-Nya. Oleh karena itulah, Allah mewujud seperti segala sesuatu yang terlihat di semesta ini baik yang terlihat melalui indera mata fisik kita maupun mata bashirah kita. Selalu ada unsur Allah dalam segenap materi. Ibaratnya mungkin galaksi bima sakti adalah hanya sehelai rambut-Nya. Seorang aziz mungkin hanya seperti secuil ujung kuku jari kaki-Nya. Singkatnya apabila semesta dianalogikan sebagai sebuah papan tulis, maka manusia hanyalah setitik hitam di dalam area papan tulis yang tidak akan mampu melihat sebesar apa papan tulis yang menjadi tempat dia untuk hidup. Dan Allah sejatinya adalah semesta itu sendiri.

Akan tetapi tetap saja Allah adalah Allah, sedangkan makhluk adalah tetap saja makhluk. Allah bukan makhluk dan makhluk juga bukan Allah.

Pada titik inilah muncul pemahaman saya atas takdir Allah kepada makhluk-Nya yang biasa kita sebut sebagai sunnatullah. Bahwa terhadap “ketiadaan” manusia, Allah telah menyediakan jalan masing-masing bagi setiap anak manusia seperti yang tertulis dalam lauhi al mahfudz. Itulah jalan yang akan kita lalui, tanpa bisa dihindari. Sungguh tidak ada yang kebetulan di alam semesta ini, segala sesuatu sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah sehingga selalu tercapai keseimbangan dan berpasang-pasangan. Apabila sepertinya ada kesempatan atau chance maka sejatinya itu adalah penyebab. Apabila sepertinya ada kecelakaan atau accident maka hakikatnya itu adalah akibat.

Yamhuu Allâhu mâ yasyâu wa yutsbitu, wa ‘indahû ummu al kitâb

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh) (QS Ar Ra’du ayat 39)

Apakah manusia mempunyai pilihan dan mampu untuk memilih? Hakikatnya pilihan hanyalah ilusi belaka, yang dibuat oleh pihak yang berkuasa bagi pihak yang tidak mempunyai kekuasaan. Yang dibuat oleh Allah bagi makhluk-Nya. Pilihan dibuat oleh Allah hanya agar dapat dibaca oleh manusia kemudian menggunakan akal pikirannya untuk menjalani takdir dengan sebaik-baiknya.

Wa ‘asâ an takrahû syaian wahuwa khairun lakum, wa ‘asâ an tuhibbu syaian wahuwa syarrun lakum, wallâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah ayat 216)

…Fahuwa dlamina laka al ijâbata fîmâ yakhtâruhu laka lâ fîmâ takhtaruhu linafsika, wa fî al waqti alladzî yurîdu lâ fî al waqti alladzî turîd

Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki (Hikmah ke 6, Kitab Al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî).

Warabbuka yakhluqu mâ yasyâu wayakhtâru, mâ kâna lahumu al khiyaratu, subhânalâhi wata’âlâ ‘ammâ yusyrikûn

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia) (QS Al Qashash ayat 68).

Bertolak dari pemahaman tersebut, dalam kaitannya dengan doa, kemudian akan muncul pertanyaan: Mengapa kita harus berdoa (meminta) kepada Allah, kalau sejatinya manusia tidak eksis? Mengapa kita harus berdoa kalau hakikatnya kita tidak punya pilihan atas takdir kita? Mengapa Allah malah menyuruh manusia untuk berdoa dan mengatakan sombong kepada mereka yang tidak mau meminta kepada-Nya?

Sebagai seorang muslim dan mu’min kita wajib mengimani qadha dan qadar Allah seperti yang tertulis dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, kitab Allah, qadha dan qadar, serta hari akhir.

Dalam pemahaman saya, qadha adalah ketentuan Allah yang belum terjadi, sedangkan qadar adalah ketentuan Allah yang sudah terjadi. Dengan kata lain qadha adalah proses penciptaannya, sedangkan qadar adalah puncak atau akhir dari proses penciptaan tersebut dan menjadi sebuah kepastian. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam satu istilah yaitu takdir.

Sebagai ciptaan Allah, manusia tidak pernah tahu seperti apa ketentuan Allah atas kita nantinya. Kita tidak pernah tahu bagaimana tepatnya takdir kita seperti yang tertulis dalam lauhi al mahfudz.

Alam ta’lam annallâha ya’lamu mâ fissamâi wal ardli, inna dzâlika fî kitâbin, inna dzâlika ‘alallâhi yasîr

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah (QS Al Hajj ayat 70).

Wa ‘indahû mafâtihu al ghaibi lâ ya’lamuhâ illâ huwa, wa ya’lamu mâ fi al barri wal bahri, wamâ tasquthu min waraqatin illâ ya’lamuhâ walâ habbatin fî dhulumâti al ardli walâ rathbin walâ yâbisin illâ fî kitâbin mubîn

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (QS Al An’am ayat 59).



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: