Antara LoA dan Doa (1)
Antara LoA dan Doa
Bismillâhi alladzî lâ yadlurru ma’asmihî syaiun fî al ardli wa lâ fissamâi wa huwa assamî’u al‘alîm
Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak akan membahayakan sesuatupun yang ada di bumi dan langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al Ma’tsurat – Hasan Al Banna)
Mengiringi fenomena LoA (Law of Attraction) yang menjadi perbincangan banyak orang di seluruh dunia, beberapa pihak (termasuk diri saya sendiri) merasa tidak puas dengan teori tersebut. Membaca buku The Secret karya Rhonda Byrne terasa kering sekali, mungkin karena penjelasan-penjelasan yang ilmiah dalam buku itulah yang menyebabkan sisi spiritualnya menjadi terabaikan. Atau karena posisi Allah dalam The Secret didefinisikan sebagai kekuatan maha dahsyat bernama alam semesta. Atau mungkin karena prinsip human centris yang termaterialkan dalam tahapan LoA yaitu “ask, believe dan receive”. Atau mungkin juga karena LoA menolak adanya “papan kehidupan di langit” yang memuat tulisan tentang perjalanan hidup manusia mulai lahir sampai meninggal dunia.
Tapi, apapun “rasa” yang muncul di permukaan, menurut saya LoA merupakan satu tahapan pencapaian yang hebat dan bermanfaat bagi umat manusia. Karena LoA mengajak kita melakukan beberapa hal yang sangat penting agar keinginan kita bisa terwujud serta membangun dunia yang damai tanpa peperangan, yaitu iman, yakin, berpikir positif, optimis, membangun perasaan baik, segera bertindak untuk mewujudkan, bersyukur, dan selalu berterimakasih.
Bagi saya pribadi, berdasarkan keyakinan yang saya anut sebagai seorang muslim, LoA merupakan sebagian kecil dari hakikat sebuah doa. Penjelasan atas pernyataan saya tersebut nantinya merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana kita memandang posisi doa dalam kehidupan manusia? Apakah doa sama dengan tahapan ”ask” dalam LoA? Ataukah doa adalah merupakan bahasa yang lain dari ketiga tahapan dalam LoA? Apabila tidak sama seperti dalam tahapan LoA, seperti apa sebenarnya doa itu?
Saya akan coba berbagi pemahaman saya tentang LoA dan doa terkait dengan takdir Allah atas manusia. Seluruh uraian saya nantinya didasarkan pada perspektif saya sebagai seorang Muslim. Pemahaman ini akan menjadi benar-benar sangat personal, karena diawali dari definisi saya sendiri tentang konsep ketuhanan serta eksistensi manusia di alam semesta ini. Tentunya definisi masing-masing orang akan sangat berbeda, bahkan mungkin juga ada yang merasa tidak perlu mendefinisikan eksistensinya di alam semesta. Namun perbedaan tersebut tidak perlu dipertentangkan, karena Allah akan menunjukkan jalan bagi masing-masing makhluknya dengan tidak ada satupun yang sama persis. Masing-masing dari kita akan menemukan jalannya sendiri-sendiri.
Kata Allah dalam sebuah hadits qudsi:
Anâ ’inda dhanni ’abdî bî wa anâ ma’ahu idzâ dzakaranî
Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku.
Konsep ketuhanan yang saya ugemi diawali dengan pemahaman bahwa semesta ini tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Pasti ada zat yang Maha Besar dan Maha Kuasa yang menciptakannya, yaitu Allah. Karena ada penciptanya, maka semesta dan segala isinya termasuk manusia pastinya berjalan berdasarkan kehendak Allah. Berdasarkan iradat Allah. Berdasarkan sunnatullah. Berdasarkan takdir Allah. Rotasi bumi pada porosnya adalah takdir Allah. Begitu juga dengan revolusi bumi mengelilingi matahari, adalah takdir Allah.
Begitu juga dengan manusia sebagai sekedar ciptaan Allah saja, hanya sekedar boneka Allah, juga memiliki takdir. Perjalanan hidup manusia sejak masih dalam kandungan sampai nanti di alam akhirat sudah ditentukan oleh Allah. Mengapa saya lahir di dunia ini, karena Allah sudah menetapkan takdir saya untuk menjadi manusia dan lahir di Indonesia. Bukan menjadi hewan atau tumbuhan yang lahir di Alaska. Saya menikah dengan istri saya hakikatnya bukan karena saya cinta kepada istri saya, tapi karena Allah berkehendak bahwa yang terbaik bagi saya adalah menikah dengan istri saya bukan dengan perempuan lain. Sudah menjadi kehendak Allah bahwa takdir saya saat ini adalah mempunyai dua orang anak perempuan, bukan dua orang anak laki-laki atau satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Itulah yang pas dan terbaik buat saya saat ini. Karena apabila saya mempunyai anak bukan dua orang anak perempuan maka mungkin tidak akan membawa kebaikan bagi saya. Allah sudah menetapkannya jauh sebelum saya dilahirkan di dunia ini.
Tapi tidak kemudian saya hanya berdiam diri saja tanpa melakukan ikhtiar apapun. Karena Allah melengkapi manusia dengan akal dan pikiran. Dengan akal itulah Allah menyuruh manusia untuk berzikir. Arti zikir dalam pemahaman saya bukan hanya wirid saja, tapi lebih dalam arti mengingat dan berfikir. Mengingat-ingat dan berfikir tentang ciptaan Allah setiap saat. Berfikir sepanjang waktu tanpa henti membaca tanda-tanda alam. Salah satu jalan yang diberikan oleh bagi manusia untuk mengingat Allah adalah dengan shalat. Kata Allah:
Innanî anallâhu lâ ilâha illa ana fa’budnî wa aqimishshalâta lidzikrî
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS Thahaa ayat 14).
Betapa manusia hanya boneka Allah tersirat dalam makna basmalah, yang kita dawamkan dalam doa iftitah pada setiap shalat kita, dan kemudian mengkristal dalam konsep lâ haula walâ quwwata illâ billâhi al ’aliyyi al ’adhîm.
Makna basmalah bagi saya sejatinya adalah bentuk penghambaan manusia kepada Allah. Bismillâhi arrahmâni arrahîm, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebuah kesaksian bahwa manusia bukanlah apa-apa, hanya sekedar ciptaan Allah. Karena melalui bacaan basmalah ini kita meminta ijin dan ridla kepada Sang Pencipta untuk melakukan segala sesuatu. Sebelum tidur kita membaca basmallah, “ya Allah ijinkan saya untuk memejamkan mata dan tidur sejenak dalam semesta di bawah langit milik-Mu ini ya Allah. Ijinkan saya merebahkan badan saya”. Sebelum makan kita mengucap basmallah, “ya Allah saya minta ijin kepada-Mu ya Allah untuk memakan makanan kepunyaan-Mu ini. Makanan ini bukan milik saya ya Allah, karena itu ijinkanlah saya makan”. Sebelum naik kendaraan kita juga mengucap basmallah, “ya Allah saya minta ijin kepada-Mu untuk mengendarai mobil kepunyaan-Mu ini ya Allah. Mobil ini bukanlah kepunyaan saya ya Allah”.
Begitu seterusnya sehingga sebelum melakukan aktivitas apapun kita mengucap basmalah sebagai bentuk permohonan ijin kepada Allah karena segala sesuatu di semesta alam ini adalah milik Allah. Tidak ada satupun yang menjadi milik manusia.
Lebih jelas lagi terlihat dalam doa iftitah yang kita baca minimal sebanyak 5 kali dalam satu hari sejak kita baligh hingga meninggal dunia.
Innî wajjahtu wajhiya lilladzî fatharassamâwâti wal ardla hanîfan musliman wa mâ anâ minal musyrikîn, inna shalâtî wanusukî wamahyâya wamamâtî lillâhi rabbi al ‘âlamîn, lâ syarîkalahu wa bidzâlika umirtu wa anâ mina al muslimîn
(Aku hadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan yang demikian itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan bagi-Nya. Dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam).
Kristalisasi dari konsep penghambaan kepada Allah tersebut mewujud dalam bacaan dzikir lâ haula walâ quwwata illâ billâhi al ’aliyyi al ’adhîm.
Tiada daya upaya serta kekuatan kecuali dengan izin Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.