aziz-fajar

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (5)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Apabila kita runut keenam tahapan doa tersebut di atas satu persatu, terlihat bahwa pelaksanaan rukun islam sesungguhnya adalah doa itu sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai doa yang sesungguhnya, dimana proses merubah ”keadaan diri kita saat ini” dilakukan melalui pelaksanaan lima rukun islam secara sebenar-benarnya dan pada jalan yang lurus.

Ikhlash yang mengkristal dalam syahadat adalah doa, meminta adalah bagian dari doa, istiqamah yang terwujud dalam shalat adalah doa, bentuk syukur dalam zakat adalah doa, sikap tawadhu’ dalam puasa adalah doa dan wujud tawakkal sepenuhnya dalam haji adalah juga doa. Sehingga apabila kelima rukun islam tersebut sudah terpenuhi semuanya dengan sebenar-benarnya pada jalan yang lurus, maka pada saat itulah doa kita menjadi makbul. Pada saat itulah Allah pasti akan mengabulkan setiap permohonan kita.

Tahapan-tahapan dalam doa tersebut, ikhlash – meminta – istiqamah – syukur – tawadhu’ – tawakkal, sangat bersandar kepada ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah. Dengan begitu diharapkan kita tidak keluar dari rambu-rambu Islam, tidak menjadi murtad atau musyrik, dan tetap sejalan dengan rukun islam dan rukun iman.

Kemudian apakah teori dalam LoA bisa sesuai dan selaras dengan prinsip-prinsip Islam menurut saya tergantung pada diri kita, dimana akan sangat dipengaruhi oleh keyakinan yang kita pegang atas konsep ketuhanan serta keberadaan manusia di alam semesta ini. Namun, bagi saya pribadi, LoA tidak akan menjadi sebuah jebakan kesesatan apabila saya mampu memaknai tahapan ask – believe – receive ke dalam konsep doa. ”Ask” bisa diterjemahkan sebagai tahapan ikhlash (syahadat) dan meminta, ”believe” diterjemahkan sebagai tahapan istiqamah (shalat) dan tawadhu’ (puasa), sedangkan ”receive” diterjemahkan sebagai tahapan syukur (zakat) dan tawakkal (haji).

Bagaimanapun juga, pada kenyataannya jebakan-jebakan jalan yang tidak lurus tersebut bertebaran di muka bumi ini dan seringkali tidak kita sadari sebagai sebuah jebakan. Karena perbedaan antara jalan yang lurus dengan yang tidak lurus sangatlah tipis dan menggoda. Begitu tipisnya sehingga diibaratkan sebagai rambut dibelah tujuh.

Menurut saya, satu-satunya cara agar kita tetap lurus berada pada koridor agama Islam adalah dengan jalan:

Ø       Mengimani dengan sepenuhnya enam rukun iman,

Ø       Melaksanakan dan berpedoman pada lima rukun islam,

Ø       Menghayati dan memaknai setiap tahapan dan aktivitas yang kita lalui dalam proses mengimani rukun iman dan melaksanakan rukun islam tersebut.

InsyaAllah, kita akan selalu diberikan petunjuk oleh Allah agar tetap berada jalan yang lurus.

Ihdinashshirâth al mustaqîm, shirâth alladzîna an’amta ‘alaihim ghairil maghdlûbi ‘alaihim waladhdhâllîn.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al Fatihah ayat 7 – 8).

Allâhumma innâ na’ûdzubika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu wa nastaghfiruka limâ lâ na’lamuhu

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui (Al Ma’tsurat, Hasan Al Banna).

Banyuwangi, 31 Juli 2008

Aziz Fajar Ariwibowo

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (4)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Ikhlash: Segala sesuatu apabila dimulai dan diniati dengan hati yang ikhlash hanya untuk Allah, maka hasilnya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga membawa barakah bagi sekitar kita. Batasan ikhlash kira-kira adalah sebagai berikut::

Radlîtu billâhi rabban wa bil islâmi dînan wa bi muhammadin nabiyyan warasû

lan

Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (Al Ma’tsurat, Hasan Al Banna).

Ikhlash pada titik yang tertinggi adalah pada saat kita benar-benar melaksanakan rukun islam yang pertama yaitu membaca syahadat.

Asyhadu an lâ ilâha illa Allâh, wa asyhadu anna muhammadan rasûlu Allâh

Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Bayangkan betapa ajaibnya syahadat tersebut karena kita percaya dan bersaksi bahwa Allah ada, padahal Allah adalah gaib dan tidak pernah kita saksikan material-Nya. Kita juga tidak pernah bisa melihat Allah melalui indera mata fisik kita. Ajaib sekali karena kita percaya dan bersaksi kepada Nabi Muhammad sebagai Rasulullah padahal kita belum pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan Nabi Muhammad sama sekali. Rasulullah sendiri hidup sekian waktu yang lalu bahkan sebelum kita lahir.

Akan tetapi berbekal keikhlashan yang tertinggi, tanpa paksaan dari manapun, kita sepenuhnya menerima keajaiban tersebut dan mewujud dalam prinsip hidup seorang muslim yaitu bersyahadat.

Meminta: Dalam berdoa pasti terdapat permintaan kepada Allah atau hajat kita. Hanya saja hajat atau keinginan tersebut sebenarnya baru merupakan satu langkah awal saja, yang seringkali bisa berubah-ubah dalam proses perjalanannya. Oleh karena itu hajat akan menjadi lebih hebat dan definitif apabila kita transformasikan ke dalam niat. Sebuah niat yang istiqamah.

Istiqamah: Istiqamah juga menjadi bagian dari rangkaian doa karena apapun yang kita lakukan tidak akan menjadi optimal apabila tidak istiqamah. Seringkali kita dengar mutiara hikmah yang menyatakan bahwa satu istiqamah jauh lebih hebat dibandingkan dengan seribu karamah. Manusia yang mampu menjaga istiqamahnya tidak akan pernah khawatir dengan hasil akhir, karena itu adalah hak prerogatif Allah. Kata Allah:

Inna alladzîna qâlu rabbuna allâhu tsumma astaqâmu falâ khaufun ’alaihim walâ hum yahzunûn

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Al Ahqaaf ayat 13).

Dari Aisyiyah ra, Rasulullah saw bersabda, "Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan dan bergembiralah, karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga". Tanya para sahabat, "Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah ?”, jawab Rasulullah, "Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara terus ­menerus walaupun sedikit". (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i).

Bentuk perwujudan dari sikap istiqamah adalah dengan melaksanakan rukun islam yang kedua yaitu shalat. Shalat melatih kita untuk mampu menjaga disiplin dan ketekunan, karena dalam shalat ada aturan-aturan baik dalam gerakan, bacaan maupun waktunya.

Setiap jam tertentu sebanyak lima kali dalam satu hari kita dilatih oleh Allah untuk melaksanakan shalat wajib. Terus menerus semenjak kita baligh hingga nanti kita berpulang kepada Allah. Bahkan pada jam-jam tertentu pula kita disunnahkan untuk melakukan shalat-shalat sunnah. Begitu seterusnya sehingga pada akhirnya sikap istiqamah akan menginternalisasi di dalam diri dan menjadi sebuah kebiasaan untuk tekun dan konsisten. Sedangkan salah satu kunci sukses dalam melakukan apapun adalah ketekunan dan konsistensi.

Syukur: Sedangkan bersyukur dibutuhkan agar hati kita menjadi lapang dan luas sehingga mampu melihat dunia ini dalam sudut pandang yang lebih menyeluruh. Berbekal paradigma yang holistik maka dunia akan menjadi sangat terjangkau oleh kemampuan kita dalam aspek apapun. Kata Allah:

Wa idz ta’adzdzana rabbukum lainsyakartum la adzîdannakum walainkafartum inna ‘adzâbî lasyadîd

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim ayat 7).

Bentuk pengejawantahan dari sikap bersyukur adalah dengan melaksanakan rukun islam yang ke tiga yaitu berzakat atau bershadaqah. Zakat dan shadaqah merupakan ekspresi syukur seorang muslim atas segala nikmat yang selama ini diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Kita diberikan oleh Allah nikmat berupa hidup, nafas, air, angin, matahari, tumbuhan, hewan, dan lain-lain yang tidak terhitung banyaknya. Semuanya gratis tanpa ada kewajiban bagi manusia untuk mengembalikannya. Begitu banyaknya sehingga apabila kita ingin menuliskan nikmat Allah kepada manusia, tidak akan cukup jika seluruh pohon di alam semesta ini dijadikan penanya dan seluruh air laut dijadikan tintanya. Jadi sangat wajar apabila kita mensyukuri semua nikmat tersebut dengan cara membahagiakan orang lain secara cuma-cuma juga.

Tawadhu’: Tahapan selanjutnya dalam berdoa adalah sikap tawadhu’ yang menjadi salah satu ciri akhlaq seorang muslim. Definisi tawadhu’ kira-kira mengandung tiga hal sebagai berikut:

Ø Melebur dan merendahkan diri di hadapan Allah serta dihadapan hamba-hamba Allah lainnya.

Ø Menghargai orang lain dimana kita menganggap bahwa orang lain lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Namun penghargaan ini sifatnya proporsional sehingga tidak mengarah pada bentuk taklid buta.

Ø Membuka hati dan bersedia menerima kebenaran dari siapapun datangnya tanpa melihat siapa yang berbicara.

Wa ’ibâdu arrahmâni alladzîna yamsyûna ’ala al ardli haunan wa idzâ khâthabahumu al jâhilûna qâlu salâman

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al Furqaan ayat 63).

Walâ tusha’ir khaddaka linnâsi walâ tamsyi fî al ardli marahan, inna Allâha lâ yuhibbu kulla mukhtâlin fakhûrin

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Lukman ayat 18).

Sikap tawadhu’ ini mewujud dalam pelaksanaan rukun islam yang ke empat yaitu berpuasa, karena melalui puasa inilah kita diajari oleh Allah untuk tidak bersikap sombong. Apabila ke empat rukun islam yang lain adalah bentuk ibadah yang masih bisa dilihat oleh orang lain secara fisik dan harfiah, sehingga masih ada kemungkinan untuk munculnya penyakit hati berupa riya’ dan takabur, maka puasa adalah ibadah dimana hanya Allah dan orang yang berpuasa saja yang tahu.

Seandainyapun misalnya ada orang yang tahu bahwa kita sedang berpuasa, maka apakah puasa kita batal atau tidak, apakah kita mampu mengendalikan hawa nafsu atau tidak, apakah kita sedang berbohong atau tidak, maka mereka sama sekali tidak tahu. Tetap yang tahu hanya kita dan Allah saja. Di dalam proses berpuasa Allah mengajari manusia untuk selalu merendahkan diri dan hatinya tidak hanya di hadapan Allah, tapi juga di hadapan manusia yang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridla Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi” (HR. Al-Baihaqi).

Tawakkal: Satu tahapan dalam doa yang paling menentukan adalah tawakkal, atau berserah diri kepada Allah. Bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini, dimana segala sesuatu yang ada di alam semesta sudah diatur dan dipelihara oleh Allah. Bahwa segala ikhtiar yang dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari izin-Nya. Bahwa iradat manusia berada di dalam lingkup iradat Allah. Bahwa hidup manusia sejatinya hanya satu detik saja. Tidak ada masa lalu juga tidak ada masa depan, yang ada hanya saat ini, detik ini. Detik kedua kita sudah tidak tahu lagi apakah kita masih hidup atau sudah mati. Detik berikutnya kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita.

Hasbiyallâhu lâ ilâha illâ huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbu al ‘arsyi al ‘adhîm

Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘arsy yang agung (QS Taubah ayat 129).

“Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini : kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengkabulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim).

Lâ yakun takhkhuru amadi al ‘athâi ma’al ilhâhi fiddua’âi mûjiban liya sika

Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu (Hikmah ke 6, Kitab Al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî)

Qul lan yushîbanâ illâ mâ kataballâhu lanâ huwa maulânâ, wa ’alall âhi falyatawakkali al mukminûn

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS At Taubah ayat 51).

Bentuk aplikasi dari sikap tawakkal adalah dengan melaksanakan rukun islam yang kelima yaitu berhaji. Dalam proses menunaikan haji kita sepenuhnya menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Apapun yang akan terjadi selama proses tersebut kita tidak pernah tahu dan segalanya terjadi atas kehendak Allah. Bahkan keberangkatan seorang muslim untuk berhajipun adalah hanya apabila diundang oleh Allah saja, sehingga jika Allah tidak berkehendak memanggil kita untuk menunaikan rukun islam yang ke lima, maka tidak mungkin kita bisa berhaji.

Labbaik Allâhumma labbaik, labbaika lâsyarîkalaka labbaik

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu (Bacaan Talbiyah)

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (3)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Manusia hakikatnya hanya “sakderma nglampahi” hidup di dunia ini sesuai dengan kehendak Allah. Kata Allah:

Wamâ tasyâûna illâ an yasyâ allâhu rabbu al ‘âlamîn

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan yang lurus itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam (QS At-Takwir ayat 29).

Di dalam penjelasan suratAt Takwir disampaikan bahwa turunnya ayat tersebut merupakan sanggahan Allah bagi Abu Jahal yang merasa mampu untuk menentukan jalan hidup atas dirinya sendiri. Dirinya sendirilah yang memutuskan apakah akan menempuh jalan yang lurus atau tidak. Namun Allah membantah anggapan itu dan menegaskan bahwa Allahlah yang menentukannya. Apabila Allah tidak berkehendak, manusia tidak akan mampu melakukan usaha apapun.

Namun, manusia tetap wajib berdoa karena kita diberikan anugerah oleh Allah berupa akal dan pikiran. Melalui sarana berupa doa inilah manusia diperintahkan untuk menjalani sunnatullah dengan sebaik-baiknya serta agar hidup kita bisa menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.

Seperti apapun kesadaran manusia atas keberadaannya di alam semesta ini, Allah tetap memberikan perintah untuk terus meminta. Bahkan Allah menjamin akan selalu mengabulkan permintaan kita apabila kita berdoa hanya kepada-Nya. Ini haq, karena Allah sendiri yang berkata dalam QS Al Mu’min ayat 60 dan Al Baqarah ayat 186:

Wa qâla rabbukumu ud ‘ûnî astajiblakum, Inna alladzîna yastakbirûna ‘an ‘ibâdatî sayadkhulûna jahannama dâkhirîn 

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina (QS Al Mu’min ayat 60).

Waidzâ salaka ’ib âdî ’annî fainnî qarîb, ujîbu da’wataddâ’i idzâ da’âni falyastajîbu lî wal yukminû bî la’allahum yar syudûn

Dan apabila hamba-hamba–Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS Al Baqarah ayat 186).

Namun doa seperti apa yang layak kita sampaikan ke Allah apabila sebenarnya kita berada pada posisi “tidak ada”? Apakah berupa doa yang sekedar kita ucapkan di mulut tapi tidak membekas sama sekali dalam hati? Ataukah berupa doa yang mewujud sebagai perilaku dalam keseharian manusia meskipun tidak pernah kita ucapkan melalui mulut kita ini? Kemudian apakah doa dan permintaan kita bisa merubah takdir Allah atas hidup kita?

Inna allâha lâ yughoyyiru mâ biqaumin hattâ yughoyyiru mâ bianfusihim

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar-Ra’d ayat 11)

Dzâlika bianna allâha lam yaku mughayyiran ni’matan an’amahâ ‘alâ qaumin hattâ yughayyiru mâ bianfusihim, wa anna allâha samî’un ‘alîm

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al Anfal ayat 53)

Berdasarkan kedua ayat tersebut, sepemahaman saya, atas kehendak-Nya, Allah akan merubah takdir manusia dengan syarat apabila kita sudah selesai merubah “keadaan diri kita saat ini”. Dari belum shalat menjadi sudah shalat, dari belum bershadaqah menjadi sudah bershadaqah, dari belum melaksanakan rukun islam menjadi sudah melaksanakan rukun islam, dari belum sepenuhnya mengimani rukun iman menjadi benar-benar sudah mengimani rukun iman, dan lain-lain. Intinya adalah proses merubah diri dari belum melakukan sesuatu menjadi sudah melakukan sesuatu.

Proses merubah keadaan diri sendiri itulah yang menurut saya disebut sebagai doa yang dikabulkan oleh Allah dan mampu merubah takdir seseorang. Dalam artian bahwa, apabila seharusnya setiap qadha akan selalu mewujud menjadi kepastian sebagai qadar, maka qadha seseorang, atas kehendak-Nya, mungkin saja bisa tidak mewujud menjadi qadar dan berubah menjadi qadar yang lain. Bahwa dalam prosesnya, apabila Allah berkehendak, berdasarkan doa manusia maka Allah akan merubah sesuatu yang belum mewujud menjadi suatu kepastian menjadi suatu kepastian yang lain.

Maka doa yang pantas kita sampaikan kepada Allah sebagai manusia yang berada pada posisi ”tidak ada” bukanlah hanya berupa permintaan yang kita ucapkan melalui mulut ini, tapi lebih berupa doa yang mewujud dalam perilaku keseharian kita. Bukan semata doa yang berhenti pada tahapan teori belaka, tapi doa yang benar-benar kita yakini dan laksanakan dalam hidup ini.

Bagaimana dengan LoA, mengapa menurut saya LoA hanya merupakan sebagian kecil dari doa? Karena dalam pemahaman saya, LoA belum sepenuhnya menyandarkan diri kepada ke-Maha Besar-an Allah. Bahkan LoA menolak konsep qadha dan qadar. Begitu juga dengan tahapan-tahapan dalam LoA, menurut saya bukan hanya ask, believe dan receive saja. Sehingga apabila kita sepenuhnya hanya mempercayai teori dalam LoA, saya khawatir kita akan terjebak pada kemusyrikan. Karena seandainya ada satu rukun saja dari enam rukun iman kita ingkari, maka kita sudah keluar dari koridor jalan yang lurus.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham apakah LoA benar-benar meyakini atas keberadaan Tuhan atau tidak. Yang pasti LoA menamakan kekuatan dahsyat di luar sana, yang berperan mewujudkan keinginan manusia, sebagai kekuatan alam semesta, bukan sebagai Allah. Sehingga definisi kekuatan tersebut menjadi sesuatu yang samar-samar atau meragukan. Perbedaan yang sangat tipis antara keyakinan kepada alam semesta dengan keyakinan kepada Allah ditakutkan akan menggelincirkan kita kepada jebakan syirik.

Kemudian LoA juga menolak adanya “papan kehidupan di langit” yang ditulis oleh Tuhan mengenai maksud dan tujuan hidup manusia. Dalam teori tersebut ditegaskan bahwa akal atau pikiran manusia sendirilah yang membentuk semesta, tidak ada campur tangan siapapun atau apapun dalam perjalanan hidup manusia. Manusia adalah penguasa kehidupan manusia sendiri. Artinya Loa tidak mengakui adanya takdir atau sunatullah. LoA tidak mengakui rukun iman yang ke lima yaitu iman kepada qadha dan qadar.

Akibatnya tahapan dalam LoA juga, bagi saya, masih terasa sangat rasional, yaitu ask (meminta) – believe (percaya) – receive (menerima).

Mungkin apabila LoA kita ganti dengan doa, maka tahapannya akan berubah menjadi sebagai berikut: ikhlash – meminta – istiqamah – syukur – tawadhu’ – tawakkal. Dimana terjemahan atas tahapan doa tersebut akan mewujud dalam pelaksanaan lima rukun islam. Masing-masing tahapan dalam doa dijelaskan pada paragraf-paragraf di bawah ini.

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (2)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Betapa Maha Berkuasanya Allah dikatakan sendiri oleh Allah dalam QS Yasin ayat 81 – 82:

Awalaisalladzî khalaqassamâwâti wal ardla biqâdirin ‘alâ an yakhluqa mitslahum balâ wahuwal khallaqu al ‘alîm, Innamâ amruhû idzâ arâda syaian an yaqûla lahû kun fayakûn

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (QS Yasin ayat 81 – 82)

Manusia tidak ada artinya dan tidak mempunyai kekuatan apapun di hadapan Allah. Oleh karena itu keberadaan manusia pada hakikatnya adalah tidak ada, tidak eksis, kosong. Hakikatnya yang ada di alam semesta ini hanyalah Allah semata. Allah tidak pernah meruang, tidak pernah mewaktu, dan tidak termaterialkan. Bahkan Allah meliputi segala sesuatu. Yang meruang, mewaktu dan termaterialkan adalah makhluk-Nya.

Mukhalafatuhû lil hawâditsi. Salah satu sifat Allah adalah berbeda dengan makhluk-Nya. Dan tidak ada satupun di alam semesta ini yang mampu menyamai-Nya.

Qul huwa allâhu ahad, Allâhu ashshamad, Lam yalid wa lam yûlad, walam yakun lahû kufuwan ahad

Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS Al Ikhlash ayat 1 – 4).

Perspektif atas eksistensi manusia yang saya pegang hingga saat ini adalah bahwa Allah itu sungguh Maha Meliputi segala sesuatu yang ada di alam semesta ciptaan-Nya. Oleh karena itulah, Allah mewujud seperti segala sesuatu yang terlihat di semesta ini baik yang terlihat melalui indera mata fisik kita maupun mata bashirah kita. Selalu ada unsur Allah dalam segenap materi. Ibaratnya mungkin galaksi bima sakti adalah hanya sehelai rambut-Nya. Seorang aziz mungkin hanya seperti secuil ujung kuku jari kaki-Nya. Singkatnya apabila semesta dianalogikan sebagai sebuah papan tulis, maka manusia hanyalah setitik hitam di dalam area papan tulis yang tidak akan mampu melihat sebesar apa papan tulis yang menjadi tempat dia untuk hidup. Dan Allah sejatinya adalah semesta itu sendiri.

Akan tetapi tetap saja Allah adalah Allah, sedangkan makhluk adalah tetap saja makhluk. Allah bukan makhluk dan makhluk juga bukan Allah.

Pada titik inilah muncul pemahaman saya atas takdir Allah kepada makhluk-Nya yang biasa kita sebut sebagai sunnatullah. Bahwa terhadap “ketiadaan” manusia, Allah telah menyediakan jalan masing-masing bagi setiap anak manusia seperti yang tertulis dalam lauhi al mahfudz. Itulah jalan yang akan kita lalui, tanpa bisa dihindari. Sungguh tidak ada yang kebetulan di alam semesta ini, segala sesuatu sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah sehingga selalu tercapai keseimbangan dan berpasang-pasangan. Apabila sepertinya ada kesempatan atau chance maka sejatinya itu adalah penyebab. Apabila sepertinya ada kecelakaan atau accident maka hakikatnya itu adalah akibat.

Yamhuu Allâhu mâ yasyâu wa yutsbitu, wa ‘indahû ummu al kitâb

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh) (QS Ar Ra’du ayat 39)

Apakah manusia mempunyai pilihan dan mampu untuk memilih? Hakikatnya pilihan hanyalah ilusi belaka, yang dibuat oleh pihak yang berkuasa bagi pihak yang tidak mempunyai kekuasaan. Yang dibuat oleh Allah bagi makhluk-Nya. Pilihan dibuat oleh Allah hanya agar dapat dibaca oleh manusia kemudian menggunakan akal pikirannya untuk menjalani takdir dengan sebaik-baiknya.

Wa ‘asâ an takrahû syaian wahuwa khairun lakum, wa ‘asâ an tuhibbu syaian wahuwa syarrun lakum, wallâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah ayat 216)

…Fahuwa dlamina laka al ijâbata fîmâ yakhtâruhu laka lâ fîmâ takhtaruhu linafsika, wa fî al waqti alladzî yurîdu lâ fî al waqti alladzî turîd

Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki (Hikmah ke 6, Kitab Al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî).

Warabbuka yakhluqu mâ yasyâu wayakhtâru, mâ kâna lahumu al khiyaratu, subhânalâhi wata’âlâ ‘ammâ yusyrikûn

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia) (QS Al Qashash ayat 68).

Bertolak dari pemahaman tersebut, dalam kaitannya dengan doa, kemudian akan muncul pertanyaan: Mengapa kita harus berdoa (meminta) kepada Allah, kalau sejatinya manusia tidak eksis? Mengapa kita harus berdoa kalau hakikatnya kita tidak punya pilihan atas takdir kita? Mengapa Allah malah menyuruh manusia untuk berdoa dan mengatakan sombong kepada mereka yang tidak mau meminta kepada-Nya?

Sebagai seorang muslim dan mu’min kita wajib mengimani qadha dan qadar Allah seperti yang tertulis dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, kitab Allah, qadha dan qadar, serta hari akhir.

Dalam pemahaman saya, qadha adalah ketentuan Allah yang belum terjadi, sedangkan qadar adalah ketentuan Allah yang sudah terjadi. Dengan kata lain qadha adalah proses penciptaannya, sedangkan qadar adalah puncak atau akhir dari proses penciptaan tersebut dan menjadi sebuah kepastian. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam satu istilah yaitu takdir.

Sebagai ciptaan Allah, manusia tidak pernah tahu seperti apa ketentuan Allah atas kita nantinya. Kita tidak pernah tahu bagaimana tepatnya takdir kita seperti yang tertulis dalam lauhi al mahfudz.

Alam ta’lam annallâha ya’lamu mâ fissamâi wal ardli, inna dzâlika fî kitâbin, inna dzâlika ‘alallâhi yasîr

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah (QS Al Hajj ayat 70).

Wa ‘indahû mafâtihu al ghaibi lâ ya’lamuhâ illâ huwa, wa ya’lamu mâ fi al barri wal bahri, wamâ tasquthu min waraqatin illâ ya’lamuhâ walâ habbatin fî dhulumâti al ardli walâ rathbin walâ yâbisin illâ fî kitâbin mubîn

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (QS Al An’am ayat 59).

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (1)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Antara LoA dan Doa

Bismillâhi alladzî lâ yadlurru ma’asmihî syaiun fî al ardli wa lâ fissamâi wa huwa assamî’u al‘alîm

Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak akan membahayakan sesuatupun yang ada di bumi dan langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al Ma’tsurat – Hasan Al Banna)

Mengiringi fenomena LoA (Law of Attraction) yang menjadi perbincangan banyak orang di seluruh dunia, beberapa pihak (termasuk diri saya sendiri) merasa tidak puas dengan teori tersebut. Membaca buku The Secret karya Rhonda Byrne terasa kering sekali, mungkin karena penjelasan-penjelasan yang ilmiah dalam buku itulah yang menyebabkan sisi spiritualnya menjadi terabaikan. Atau karena posisi Allah dalam The Secret didefinisikan sebagai kekuatan maha dahsyat bernama alam semesta. Atau mungkin karena prinsip human centris yang termaterialkan dalam tahapan LoA yaitu “ask, believe dan receive”. Atau mungkin juga karena LoA menolak adanya “papan kehidupan di langit” yang memuat tulisan tentang perjalanan hidup manusia mulai lahir sampai meninggal dunia.

Tapi, apapun “rasa” yang muncul di permukaan, menurut saya LoA merupakan satu tahapan pencapaian yang hebat dan bermanfaat bagi umat manusia. Karena LoA mengajak kita melakukan beberapa hal yang sangat penting agar keinginan kita bisa terwujud serta membangun dunia yang damai tanpa peperangan, yaitu iman, yakin, berpikir positif, optimis, membangun perasaan baik, segera bertindak untuk mewujudkan, bersyukur, dan selalu berterimakasih.

Bagi saya pribadi, berdasarkan keyakinan yang saya anut sebagai seorang muslim, LoA merupakan sebagian kecil dari hakikat sebuah doa. Penjelasan atas pernyataan saya tersebut nantinya merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana kita memandang posisi doa dalam kehidupan manusia? Apakah doa sama dengan tahapan ”ask” dalam LoA? Ataukah doa adalah merupakan bahasa yang lain dari ketiga tahapan dalam LoA? Apabila tidak sama seperti dalam tahapan LoA, seperti apa sebenarnya doa itu?

Saya akan coba berbagi pemahaman saya tentang LoA dan doa terkait dengan takdir Allah atas manusia. Seluruh uraian saya nantinya didasarkan pada perspektif saya sebagai seorang Muslim. Pemahaman ini akan menjadi benar-benar sangat personal, karena diawali dari definisi saya sendiri tentang konsep ketuhanan serta eksistensi manusia di alam semesta ini. Tentunya definisi masing-masing orang akan sangat berbeda, bahkan mungkin juga ada yang merasa tidak perlu mendefinisikan eksistensinya di alam semesta. Namun perbedaan tersebut tidak perlu dipertentangkan, karena Allah akan menunjukkan jalan bagi masing-masing makhluknya dengan tidak ada satupun yang sama persis. Masing-masing dari kita akan menemukan jalannya sendiri-sendiri.

Kata Allah dalam sebuah hadits qudsi:

Anâ ’inda dhanni ’abdî bî wa anâ ma’ahu idzâ dzakaranî

Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku.

Konsep ketuhanan yang saya ugemi diawali dengan pemahaman bahwa semesta ini tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Pasti ada zat yang Maha Besar dan Maha Kuasa yang menciptakannya, yaitu Allah. Karena ada penciptanya, maka semesta dan segala isinya termasuk manusia pastinya berjalan berdasarkan kehendak Allah. Berdasarkan iradat Allah. Berdasarkan sunnatullah. Berdasarkan takdir Allah. Rotasi bumi pada porosnya adalah takdir Allah. Begitu juga dengan revolusi bumi mengelilingi matahari, adalah takdir Allah.

Begitu juga dengan manusia sebagai sekedar ciptaan Allah saja, hanya sekedar boneka Allah, juga memiliki takdir. Perjalanan hidup manusia sejak masih dalam kandungan sampai nanti di alam akhirat sudah ditentukan oleh Allah. Mengapa saya lahir di dunia ini, karena Allah sudah menetapkan takdir saya untuk menjadi manusia dan lahir di Indonesia. Bukan menjadi hewan atau tumbuhan yang lahir di Alaska. Saya menikah dengan istri saya hakikatnya bukan karena saya cinta kepada istri saya, tapi karena Allah berkehendak bahwa yang terbaik bagi saya adalah menikah dengan istri saya bukan dengan perempuan lain. Sudah menjadi kehendak Allah bahwa takdir saya saat ini adalah mempunyai dua orang anak perempuan, bukan dua orang anak laki-laki atau satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Itulah yang pas dan terbaik buat saya saat ini. Karena apabila saya mempunyai anak bukan dua orang anak perempuan maka mungkin tidak akan membawa kebaikan bagi saya. Allah sudah menetapkannya jauh sebelum saya dilahirkan di dunia ini.

Tapi tidak kemudian saya hanya berdiam diri saja tanpa melakukan ikhtiar apapun. Karena Allah melengkapi manusia dengan akal dan pikiran. Dengan akal itulah Allah menyuruh manusia untuk berzikir. Arti zikir dalam pemahaman saya bukan hanya wirid saja, tapi lebih dalam arti mengingat dan berfikir. Mengingat-ingat dan berfikir tentang ciptaan Allah setiap saat. Berfikir sepanjang waktu tanpa henti membaca tanda-tanda alam. Salah satu jalan yang diberikan oleh bagi manusia untuk mengingat Allah adalah dengan shalat. Kata Allah:

Innanî anallâhu lâ ilâha illa ana fa’budnî wa aqimishshalâta lidzikrî 

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS Thahaa ayat 14).

Betapa manusia hanya boneka Allah tersirat dalam makna basmalah, yang kita dawamkan dalam doa iftitah pada setiap shalat kita, dan kemudian mengkristal dalam konsep lâ haula walâ quwwata illâ billâhi al ’aliyyi al ’adhîm.

Makna basmalah bagi saya sejatinya adalah bentuk penghambaan manusia kepada Allah. Bismillâhi arrahmâni arrahîm, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebuah kesaksian bahwa manusia bukanlah apa-apa, hanya sekedar ciptaan Allah. Karena melalui bacaan basmalah ini kita meminta ijin dan ridla kepada Sang Pencipta untuk melakukan segala sesuatu. Sebelum tidur kita membaca basmallah, “ya Allah ijinkan saya untuk memejamkan mata dan tidur sejenak dalam semesta di bawah langit milik-Mu ini ya Allah. Ijinkan saya merebahkan badan saya”. Sebelum makan kita mengucap basmallah, “ya Allah saya minta ijin kepada-Mu ya Allah untuk memakan makanan kepunyaan-Mu ini. Makanan ini bukan milik saya ya Allah, karena itu ijinkanlah saya makan”. Sebelum naik kendaraan kita juga mengucap basmallah, “ya Allah saya minta ijin kepada-Mu untuk mengendarai mobil kepunyaan-Mu ini ya Allah. Mobil ini bukanlah kepunyaan saya ya Allah”.

Begitu seterusnya sehingga sebelum melakukan aktivitas apapun kita mengucap basmalah sebagai bentuk permohonan ijin kepada Allah karena segala sesuatu di semesta alam ini adalah milik Allah. Tidak ada satupun yang menjadi milik manusia.

Lebih jelas lagi terlihat dalam doa iftitah yang kita baca minimal sebanyak 5 kali dalam satu hari sejak kita baligh hingga meninggal dunia.

Innî wajjahtu wajhiya lilladzî fatharassamâwâti wal ardla hanîfan musliman wa mâ anâ minal musyrikîn, inna shalâtî wanusukî wamahyâya wamamâtî lillâhi rabbi al ‘âlamîn, lâ syarîkalahu wa bidzâlika umirtu wa anâ mina al muslimîn 

(Aku hadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan yang demikian itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan bagi-Nya. Dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam).

Kristalisasi dari konsep penghambaan kepada Allah tersebut mewujud dalam bacaan dzikir lâ haula walâ quwwata illâ billâhi al ’aliyyi al ’adhîm.

Tiada daya upaya serta kekuatan kecuali dengan izin Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: