aziz-fajar

June 22nd, 2008

Doa yang sesungguhnya

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Doa yang sesungguhnya

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."

(QS Al Mu’min ayat 60)

Pengalaman pribadi yang akan saya tulis dalam paragraf-paragraf di bawah tidaklah berarti saya berusaha mendahului kehendak Allah. InsyaAllah saya 100% meyakini qadha dan qadar yang ditetapkan Allah bagi saya. Saya juga yakin bahwa setiap potongan episode hidup saya sudah ditentukan dan ditulis oleh Allah dalam kitab terpelihara Lauhil Mahfudz. Sehingga apabila nanti ada yang menganggap saya seperti itu, mohon dengan hormat agar saya dimaafkan.

Oke, saya mulai saja cerita saya ini.

Pertengahan tahun 2007 kemarin saya mencoba mengirim aplikasi beasiswa untuk postgraduate ke Australia melalui Australian Development Scholarship (ADS). Sebagai rangkaian dari ikhtiar agar niat saya tersebut tercapai, saya bersilaturahmi dan mohon bantuan doa kepada beberapa orang yang menurut pandangan saya lebih dekat kepada Allah. Selama ini saya memang mempunyai prinsip bahwa saya tidak tahu doa siapa yang makbul. Belum tentu doa saya sendiri yang dikabulkan oleh-Nya. Oleh karena itu semakin banyak yang ikut mendoakan saya, insyaAllah akan semakin baik. Karena mungkin saja salah satunya akan dikabulkan oleh Allah.

Cukup lama saya bersilaturahmi ke masing-masing dari beliau, karena selain mohon bantuan doa saya juga bertanya beberapa hal yang selama ini saya belum memahaminya. Dalam obrolan tersebut, terlontar pertanyaan mengenai kemungkinan lolos atau tidaknya saya dalam seleksi beasiswa ADS.

Menurut beliau-beliau, apabila saya bersungguh-sungguh dan terus berdoa kepada Allah, insyaAllah akan diijinkan oleh Allah untuk lolos seleksi beasiswa ADS dan berangkat sekolah ke Australia. Berdasarkan pengamatan beliau-beliau, insyaAllah “garis” saya menunjukkan titik cukup terang untuk berangkat ke sana.

Menjelang akhir tahun 2007, saya memperoleh e mail dari ADS bahwa saya tidak lolos seleksi beasiswa postgraduate ke Australia. Kemudian saya mengabarkan informasi ini kepada beliau-beliau. Beliau-beliau mengatakan hal yang kurang lebih sama atas kabar tersebut, bahwa kegagalan saya bukan berasal dari luar tapi berasal dari diri saya sendiri. Sebagai introspeksi ujar beliau-beliau, coba diingat-ingat lebih dulu apakah ada kondisi-kondisi sebelumnya dimana selama proses pembuatan dan pengiriman aplikasi saya merasa ragu dan tidak yakin.

Seingat saya sih saya sudah merasa yakin sepanjang proses pembuatan dan pengiriman aplikasi ke ADS. InsyaAllah selama proses itu saya sudah merasa yakin bahwa aplikasi saya layak dipertimbangkan oleh ADS sebagai salah satu kandidat penerima beasiswa postgraduate ke Australia.

Tetapi malamnya sebelum tidur, saya kembali berusaha mengingat-ingat apakah saya pernah merasa ragu. Ternyata memang benar bahwa sesaat sebelum saya mengirimkan aplikasi ke ADS saya pernah merasa ragu apakah nanti saya akan berhasil lolos seleksi atau tidak. Hanya sesaat itu saja, selainnya insyaAllah hati saya selalu diliputi keyakinan. Dalam hati saya berpikir mungkin rasa ragu inilah yang dimaksudkan oleh beliau-beliau. Satu titik keraguan saja ternyata mengalahkan sekian panjang rasa yakin.

Terlepas dari tidak ada kebetulan di semesta ini karena semua adalah sunnatullah yang sudah ditentukan bahkan jauh sebelum saya diciptakan ke dunia, serta bahwa ketetapan Allah yang terbaik bagi saya saat ini adalah memang gagal lolos seleksi beasiswa ADS karena mungkin saja apabila saya berangkat ke Australia akan membawa lebih banyak membawa mudharat dibandingkan maslahatnya, saya merasa Allah sedang memberikan pelajaran bagi saya mengenai doa yang sesungguhnya.

Sesuai janji-Nya dalam Al Mukmin ayat 60, Allah pasti akan mengabulkan semua permintaan manusia yang berdoa kepadanya. Ini haq, karena sudah ditulis dalam Al Qur’an dan saya sebagai seorang muslim wajib mengimaninya. Hanya saja, doa seperti apa yang dimaksud oleh Allah. Apakah doa yang sekedar saya ucapkan di mulut tapi tidak membekas sama sekali dalam hati? Apakah doa yang mewujud sebagai perilaku dalam keseharian saya meskipun tidak pernah saya ucapkan melalui mulut saya ini?

Saya jadi teringat dengan janji Allah yang lain dalam surat Ar-Ra’d ayat 11, bahwa sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Pada titik inilah saya sadar, bahwa qadha seseorang bisa saja tidak mewujud menjadi qadar. Sebagai contoh, mungkin saja qadha saya adalah berangkat melanjutkan sekolah ke Australia melalui beasiswa dari ADS. Namun ternyata qadar saya berubah tidak sesuai dengan qadha tersebut. Tentunya perubahan tersebut sudah pasti atas kehendak Allah, dan tidak boleh disesali malah harus disyukuri. Karena Allah berjanji akan menambah nikmat kepada makhluk-Nya yang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7).

Pada sisi lain, atas izin Allah saya yakin bisa merubah qadha menjadi qadar yang lain. Caranya adalah dengan meminta kepada Allah melalui doa. Bukan doa yang hanya kita ucapkan melalui mulut ini, tapi doa yang mewujud dalam perilaku keseharian kita selama ini. Bukan semata doa yang berhenti pada tahapan teori belaka, tapi doa yang benar-benar kita yakini dan laksanakan dalam hidup ini.

Kondisi inilah yang juga disebut sebagai istiqamah, dimana terjadi alignment antara otak, ucapan dan hati yang mengkristal dalam perilaku sehari-hari. Satu istiqamah jauh lebih hebat dibandingkan dengan seribu karamah. Inilah doa yang sesungguhnya. Doa yang mampu menembus arsy dan menyentuh-Nya. Doa yang insyaAllah akan dikabulkan oleh Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

(QS Ar-Ra’d ayat 11)

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(QS Al Anfal ayat 53)

Banyuwangi, 22 April 2008

Aziz Fajar Ariwibowo



Leave a reply

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: