Kamu adalah surgaku…
Kamu adalah surgaku…
“…Kamu-kamu adalah surga yang ada,
Dalam hidupku, dalam kenyataanku,
Kamu aku adalah penghuni surga,
Ucapkan salam pada hidup dan mati…”
== The Rock feat Ahmad Dhani ==
Beberapa bulan yang lalu anak kedua saya lahir. Alhamdulillah, oleh Allah saya masih dipercaya mampu mendidik anak perempuan lagi. Namanya Izza. Anak pertama saya memang perempuan dan saat ini berumur kurang lebih 2,8 tahun, Ennea namanya. Setiap kali pulang kerja, Ennea selalu berlari ke depan sambil berteriak memanggil saya. “Ayah, ayah, ayah…” kata dia. Seakan-akan seluruh rasa capek di tubuh hilang seketika, berganti dengan keceriaan yang nampak lewat wajah dan tingkah lakunya.
Seringkali Ennea protes karena waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan pekerjaan. “Bapak jangan kerja ya.” katanya pada saat ngobrol dengan saya malam hari sepulang dari kantor. Kadang-kadang dia juga berkata “Bapak, aku jangan ditinggal ya”. Hehe…
Mengiringi kelahiran anak kedua saya ini, cukup banyak pengalaman yang berkesan di dalam hati saya dan semakin menambah keimanan saya kepada Allah. Pengalaman-pengalaman itu membuktikan banyak hal mengenai kebesaran-Nya. Rasanya semakin kecil saja diri ini di hadapan Allah, serasa semakin tidak ada artinya. Dua pengalaman di antaranya akan saya share lewat tulisan ini.
Sebenarnya saya berencana baru menambah momongan setelah anak pertama saya berumur tiga atau empat tahun. Dengan pertimbangan anak pertama sudah cukup mandiri sehingga bisa ditinggal untuk fokus kepada anak kedua. Lagipula kalau jaraknya empat tahun lebih mudah nantinya pada masa anak sekolah terutama di sekolah dasar dan menengah.
Atas kuasa Allah, isteri saya hamil saat anak pertama baru berusia 1,5 tahun. Memang isteri saya tidak ikut KB. Kami berdua menggunakan sistem kalender sambil iseng-iseng mencoba untuk belajar berpuasa dan menahan diri. Selain itu segala cara sudah kami coba untuk mencegah agar isteri tidak hamil. Tapi ternyata sekuat apapun saya berusaha untuk tidak membuat isteri saya hamil, apabila Allah sudah berkehendak, isteri saya hamil juga.
Saya dan isteri bersepakat tidak menggunakan istilah kebobolan untuk kehamilan kedua ini. Karena hakikatnya kami tidak mampu untuk memilih apapun, semuanya sudah diberikan begitu saja oleh Allah. Kami merasa bahwa kelahiran Izza adalah anugerah, murni pemberian Allah untuk kami berdua. Kami merasa dipercaya oleh Allah bahwa kami layak untuk diberikan amanah dua orang anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Saya dan isteri berkewajiban untuk menjalankan dan menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya.
Itulah pelajaran pertama saya, bahwa Allah akan memberikan anugerah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Pilihan hanyalah ilusi belaka, hakikatnya manusia tidak mampu untuk memilih apapun. Kewajiban manusia adalah sekedar menjalani takdirnya dengan sebaik-baiknya. Segala di alam semesta ini adalah anugerah, tidak ada yang namanya musibah. Terminologi musibah muncul ketika manusia memandang anugerah itu dari sisi negatif. Tidak lebih dari itu.
Pelajaran kedua saya peroleh beberapa minggu lalu setelah Izza lahir. Suatu saat di malam hari saya merenung sendirian. Saya masih melihat ada pandangan umum di masyarakat yang mengatakan bahwa memiliki anak laki-laki lebih baik daripada anak perempuan. Kata mereka garis keturunan keluarga berlanjut hanya melalui anak laki-laki bukan anak perempuan.
Apa iya benar seperti itu, tanya saya dalam hati. Kalau memang benar, untuk apa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan? Kalau memang garis keturunan hanya melalui anak laki-laki, untuk apa Allah menciptakan anak perempuan? Semuanya pasti ada maksudnya, ada hikmahnya. Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini tidak ada yang sia-sia. Laki-laki tidak lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan perempuan. Karena sudah jelas bahwa yang paling tinggi derajatnya di hadapan Allah ditentukan berdasarkan tingkat ketaqwaannya, bukan berdasarkan jenis kelamin.
Lalu mengapa hingga kini masih saja beredar stereotip seperti itu? Apa yang akan dibuktikan dengan mempunyai dua anak laki-laki semuanya? Apa yang akan diraih dengan mempunyai dua anak perempuan semuanya? Keperkasaan sang suami? Bahwa anak laki-laki nanti yang akan menjaga dan membela kehormatan keluarganya?
Tidak ada sama sekali! Tidak ada yang dapat dibuktikan dengan mempunyai anak laki-laki. Karena apabila dikembalikan kepada Allah, maka sesungguhnya manusia tidak mempunyai pilihan apapun dalam hidup ini. Manusia diberikan akal pikiran hanya sekedar dalam rangka menjalani takdir yang dipilihkan oleh Allah untuknya. Tidak ada daya dan upaya kecuali hanya milik Allah semata.
Dalam skala yang lebih luas, apabila kita sempat mencermatinya, pada saat kita sudah meraih sesuatu maka pada saat itulah kita akan merasa kosong. Nol. Tidak ada artinya. Tidak ada yang dapat dibuktikan dengan pencapaian itu. Karena tanpa izin Allah kita tidak akan mampu mencapainya. Tanpa izin dan ridla dari Allah kita tidak akan mampu meraihnya.
Beberapa hari kemudian saya silaturahmi ke salah satu ulama di daerah Banyuwangi selatan. Saat itu tidak ada orang lain yang berkunjung, jadi saya bisa dengan hikmat berbincang banyak hal dengan beliau. Silaturahmi itu adalah yang kedua bagi saya, setelah cukup lama saya tidak sowan ke sana.
Dalam salah satu obrolannya, beliau bertanya kepada saya ”berapa anaknya mas, laki-laki atau perempuan?”. Saya menjawab bahwa anak saya dua, perempuan semua. Alhamdulillah, ujar beliau. Dijelaskan oleh beliau bahwa anugerah dua anak perempuan itu bukanlah tanpa maksud. Allah akan memilih keluarga mana saja yang akan diberikan anak laki-laki atau perempuan. Keluarga yang diberikan anak perempuan adalah keluarga yang nantinya diharapkan mampu mendidik dan menempatkan anak perempuannya pada posisi yang tepat menurut agama Islam. Tidak melebih-lebihkan atau menguranginya.
Dalam perjalanan pulang saya kembali merenungi kata-kata beliau tersebut. Allah tidak pernah salah. Apapun takdir Allah, itulah yang terbaik buat manusia. Apa yang menurut manusia baik, belum tentu baik menurut Allah. Sedangkan apa yang menurut manusia jelek, belum tentu juga jelek menurut Allah. Manusia tidak ada yang tahu rahasia Allah tersebut. Hanya manusia yang sombong dan berlebih-lebihanlah yang berani memutuskan sesuatu itu baik atau jelek.
Anakku Izza, engkau adalah anugerah dan amanah dari Allah. Insyaallah kami, kedua orang tuamu, akan berusaha sekuat tenaga menjaga amanah ini. Kami percaya sepenuhnya bahwa Allah memilih kami sebagai orang tuamu. Kami juga percaya sepenuhnya bahwa Allah memilih engkau untuk lahir melalui rahim ibumu dan menjadi anak kami. Semua itu sudah ditentukan dan ditulis oleh Allah dalam kitab yang terpelihara. Bukan kebetulan, bukan pula ketidaksengajaan.
Yakinlah anakku Izza, bahwa hatimu adalah hati kami. Saat engkau menangis, maka sebenarnya air mata orang tuamu inilah yang menetes. Yakinlah anakku Izza, bahwa saat engkau disakiti, maka kami orang tuamu inilah yang lebih dulu terluka.
Anakku Izza, bagi kami engkau adalah surga yang ada di dunia ini. Engkau adalah surga yang ada dalam kenyataan kami. Kesedihanmu adalah kesedihan kami. Kebahagiaamu adalah juga kebahagiaan kami. Tersenyumlah Izza, karena engkau adalah penghuni surga. Ucapkan salam pada hidup dan mati…
”Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.”
==QS Yasin ayat 81 – 82==
Banyuwangi, 10 Maret 2008
Aziz Fajar Ariwibowo
see my blog : http://aziz-fajar.blogs.friendster.com/azizfajar/
(Terimakasih untuk Ahmad Dhani atas kejeniusannya menciptakan lagu “Kamu-kamulah surgaku”.)
Kamu-kamulah surgaku
Tahukah kamu kuciumimu
Di saat kamu terlelap
Tahukah kamu kudekap kamu
Di saat kamu bermimpi
Tahukah kamu ya Cuma kamu
Pemilik hatiku
Tahukah kamu hatiku ini
Adalah hatimu
Tahukah kamu di setiap tidurmu
Kukagumi wajahmu
Nanti kau kan tahu
Nanti kau dengar
Bahwa aku begitu
Reff.:
Kamu-kamu adalah surga yang ada
Dalam hidupku dalam kenyataanku
Kamu aku adalah penghuni surga
Ucapkan salam pada hidup dan mati
Tahukah kamu disaat kamu menangis
Adalah air mataku yang jatuh berlinang
Tahukah kamu disaat kamu tersakiti
Adalah aku yang pertama terluka
Tahukah kamu ya Cuma aku
Yang punya cinta untukmu
Tahukah kamu ya Cuma aku
Yang rela mati untukmu
Reff.:
Kamu-kamu adalah surga yang ada
Dalam hidupku dalam kenyataanku
Kamu aku adalah penghuni surga
Ucapkan salam pada hidup dan mati