Banyuwangi Knowledge Café, Hmmm..
Banyuwangi Knowledge Café, Hmmm..
Banyuwangi baru saja punya gawe cukup besar, yaitu pameran buku murah yang diselenggarakan di Gedung Wanita mulai 18 – 22 Mei 2007. Aktivitas ini patut diacungi jempol karena disela-sela hiruk pikuk pergelaran musik di Banyuwangi, masih ada sebagian dari kita yang peduli dengan soft skill yang jauh dari kesan gemerlap ini, yaitu membaca buku, melalu launching gerakan banyuwangi membaca.
Gerakan ini bukan gerakan populer, karena berbeda jalan dengan trend yang sedang dilakoni oleh mayoritas kaum muda banyuwangi. Bagi kaum muda gaul, jauh lebih enjoy berkeliling kota di akhir pekan bareng klub otomotif masing-masing dengan membawa semangat ekslusifitas dan arogansi daripada melakukan brain storming atau membaca buku. Sampai-sampai tak menyisakan ruang sedikitpun bagi pengguna jalan yang lain saat mereka sedang memamerkan spirit brotherhoodnya.
Tapi, that’s okey. Itu adalah gairah muda yang harus dicarikan saluran pembuangannya pada jalur yang positif dan tidak destruktif. Pada akhirnya pengguna jalan lain seperti sayalah yang harus lebih mengerti untuk mengalah dan memberikan jalan kepada barisan klub-klub otomotif tersebut.
Let’s get back to the topic, tentang banyuwangi membaca. Secara pribadi, saya sangat suka gerakan moral ini. Saya mendukung 100%. Karena melalui proses membaca, yang diawali dengan membaca buku dan semoga akan selalu dilanjutkan dengan membaca alam semesta, segala hal akan terbuka dengan sendirinya. Saya merasa banyak manfaat yang saya peroleh melalui membaca buku. Wawasan saya menjadi bertambah luas, pengetahuan saya menjadi bertambah banyak, dan imajinasi saya menjadi jauh lebih berkembang. Paling tidak, saya selalu nyambung kalau diajak ngobrol tentang apa saja dan dengan siapa saja.
Namun mengawali kebiasaan membaca buku inilah yang tidak mudah. Membutuhkan niat dan kemauan yang kuat. Bahkan kadang-kadang harus melalui proses pemaksaan telebih dahulu. Pengalaman semasa kecil saya dulupun juga sama. Dalam kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, orang tua saya menekankan pentingnya membaca buku. Bagi kami saat itu, membaca buku merupakan investasi. Meskipun lebih banyak membaca buku-buku lama melalui persewaan buku, karena keterbatasan finansial sehingga tidak mampu membeli buku baru, namun kami yakin bahwa isi buku tersebut suatu saat pasti akan berguna dalam kehidupan kami kelak.
Bahkan saat kuliah, saya nyaris berhenti membaca buku. Karena uang kiriman dari rumah hanya cukup untuk hidup satu bulan saja. Buku adalah (masih) barang mahal bagi saya saat itu, sama mahalnya seperti menikmati live music di café. Hingga saya mulai bekerja, perlahan-lahan saya mulai mampu membeli buku sendiri. Sedikit demi sedikit koleksi buku saya bertambah. Sejak saat itu juga saya mulai belajar menulis dan berlanjut sampai sekarang.
Membaca buku itu penting. Sama pentingnya juga dengan proses transfer pengetahuan yang kita peroleh dari membaca buku tersebut kepada lingkungan kita. Sehingga pada akhirnya seluruh anggota komunitas dimana kita berada menjadi sama tercerahkannya seperti kita.
Spirit inilah membuat saya memimpikan sebuah knowledge café di Banyuwangi. Sebuah tempat nongkrong yang ramah dan nyaman, sehingga mampu membuat segenap pengunjungnya merasa comfort untuk berlama-lama berdiskusi tentang apa saja di situ. Pengunjungnya sangat heterogen, mulai dari anak-anak sampai orang tua dengan beragam latar belakangnya masing-masing. Tidak ada batasan sama sekali. Di knowledge café itu dilakukan aktivitas-aktivitas yang terkait dengan proses pencerahan komunitas. Ada story telling, membaca buku bersama, saling bercerita, kajian buku bahkan juga diskusi tentang film, musik atau budaya.
Rasanya pasti menyenangkan berada di Banyuwangi knowledge café. Saya bisa ngobrol tentang apa saja dan dengan siapa saja disana. Semua orang yang datang memiliki satu visi yaitu berusaha melakukan transfer knowledge kepada masyarakat Banyuwangi lainnya tanpa ada vested interest dan muatan politis apapun. Bahkan saya bermimpi terbangun sebuah paseduluran disana tanpa harus menyingkirkan sebagian anggota masyarakat yang lain. Sebuah brotherhood yang dilandasi tidak hanya berdasarkan eksklusifitas dan arogansi kelompok, namun lebih pada semangat untuk saling mencerahkan.
Saya bermimpi di café itu tersedia buku-buku yang bebas dibaca oleh para pengunjung tanpa merasa takut terintimidasi kewajiban untuk membelinya. Ada juga tumpukan dvd film-film, baik film box office maupun alternatif, yang mampu menjadi stimulan bagi proses perkembangan daya baca kita. Asalkan jangan melulu film horor dan sinetron glamour yang mendominasi khazanah perfilman kita akhir-akhir ini yang ternyata tidak membuat kita menjadi bertambah cerdas. Namun filam yang ditonton bersama adalah jenis-jenis film yang membawa semangat untuk berbagi motivasi, cerita, informasi, bahkan juga wacana baru.
Selain itu, tersedia juga fasilitas akses internet gratis berupa hot spot yang bebas dinikmati oleh siapapun. Di sana kita bisa browsing internet sepuasnya untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya. Segala hal ada di internet, tinggal klik saja di situs pencari seperti google, dalam hitungan detik segera bertaburanlah informasi di monitor kita dari seluruh penjuru dunia. Pihak café hanya perlu menyediakan 2 atau 3 buah pc saja sebagai pemikat, karena pengunjung dapat menikmati layan wifi melalui notebook atau HP mereka yang saya yakin sudah bukan barang asing lagi buat masyarakat Banyuwangi. Wah, nikmat sekali sepertinya menjadi bagian dari Banyuwangi knowledge café. Apalagi kalau spot internet tersebut mampu mengcover seluruh area pemukiman di wilayah Kabupaten Banyuwangi seperti yang dilakukan oleh Kabupaten Kutai Kertanegara, pasti akan mejadi jauh lebih nikmat lagi..
Hmm.. Tapi apakah Banyuwangi Knowledge Café nantinya benar-benar bisa terwujud dan bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat Banyuwangi, atau hanya sebatas mimpi saya saja di siang bolong?
Banyuwangi, 22 Mei 2007
Aziz Fajar Ariwibowo
Pecinta kopi, buku, film, musik, budaya dan internet