Shalat dan istiqamah
Shalat dan istiqamah
Dalam sebuah acara pelepasan pemimpin hari Kamis dua minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat bernama Yudi. Kami berbincang cukup lama, praktis kami berdua tidak mengikuti jalannya acara pelepasan. Hanya sesekali saja saat audiens bertepuk tangan, kami ikut bertepuk tangan juga. Banyak sekali yang kami percakapkan, mulai dari sejarah keluarga sampai dengan perjalanan hidup masing-masing. Yudi ini dikarunai oleh Allah kelebihan mampu melihat yang tidak terlihat, sehingga dalam percakapan kami sesekali dia dengan benar membaca silsilah keluarga saya.
Dalam diskusi yang mengasyikkan tersebut, saya juga bercerita tentang perjalanan pencarian konsep ketuhanan saya selama ini. Dari a sampai z perjalanan itu saya ceritakan, sampai pada kesimpulan sementara saya bahwa segala sesuatu bermuara kepada diri sendiri.
Di tengah-tengah diskusi, tiba-tiba Yudi menyela, Mas sampeyan dikasih apa sama bapak mertua sampeyan? Saya tidak langsung menjawab, karena saya bingung. Bapak mertua saya bukan orang ngerti mas, jelas saya.
Sepengetahuan saya, memang bapak mertua saya adalah tipe orang yang taat pada syariat. Selama ini beliau berusaha membuang jauh-jauh segala sesuatu yang tidak sesuai dengan al qur’an dan hadits. Al qur’an-pun beliau pelajari dan pahami maknanya melalui logika, sendirian tanpa bantuan ustadz. Hanya saja memang bapak mertua saya, alhamdulillah, istiqamah shalat berjamaah lima waktu di masjid dekat rumah. Sehingga tidak mungkin beliau memberikan bacaan wirid atau laku yang diijazahkan khusus buat saya.
Kemudian saya diam sejenak, berusaha mengingat kira-kira apa yang pernah disampaikan oleh bapak mertua kepada saya selama ini. Kalau bukan berupa bacaan wirid atau laku, kemudian seperti apa bentuk pemberian beliau kepada saya? Satu hal yang selama ini yang tidak pernah saya lupakan dari bapak mertua adalah pesan beliau kira-kira awal tahun 2006. Saat itu saya sedang cuti dan pulang ke rumah isteri di Surabaya. Dalam sebuah kesempatan ngobrol ngalor ngidul dengan bapak mertua, di akhir percakapan beliau berkata istiqamah ya ziz. Hanya itu, tidak ada yang lain.
Ingatan itulah yang saya ungkapkan kepada Yudi. Saya katakan kepada dia bahwa bapak mertua tidak pernah memberikan apa-apa kepada saya, beliau hanya berpesan agar saya terus istiqamah. Nah itulah dia mas, kata Yudi. Istiqamah. Jumeneng. Berdiri. Yang diberdirikan adalah shalat, lanjutnya.
Saya jadi teringat ucapan salah seorang ustadz yang saya temui kira-kira akhir bulan Desember 2006. Saat itu saya sedang berkunjung silaturahmi kepada beliau. Dalam percakapan kami, saya sempat bertanya, Gus (dia anak seorang kyai) saya ingin belajar ma’rifat dan ingin bertemu dengan Allah, bagaimana caranya dan dimulai dari mana? Beliau menjawab, ma’rifat itu bukan ilmu dan tidak bisa dipelajari. Ma’rifat itu hidayah dari Allah. Kalau sampeyan ingin ketemu dengan Allah, mulailah dulu dari shalat lima waktu tepat pada waktunya.
Subhanallah, Allah sedang memberitahukan kepada saya jalan untuk berkomunikasi dengan-Nya melalui dua orang kurirnya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Bukan melalui metode puasa, bukan wirid, bukan juga dengan laku tirakat. Tapi melalui shalat, rukun islam kedua setelah membaca syahadat, yang menjadi penanda eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah. Shalat, istiqamah, tepat waktu.
Banyuwangi, 19 Pebruari 2007
Aziz Fajar Ariwibowo