aziz-fajar

March 27th, 2007

Shalat dan istiqamah

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Shalat dan istiqamah

Dalam sebuah acara pelepasan pemimpin hari Kamis dua minggu yang lalu, saya bertemu dengan seorang sahabat bernama Yudi. Kami berbincang cukup lama, praktis kami berdua tidak mengikuti jalannya acara pelepasan. Hanya sesekali saja saat audiens bertepuk tangan, kami ikut bertepuk tangan juga. Banyak sekali yang kami percakapkan, mulai dari sejarah keluarga sampai dengan perjalanan hidup masing-masing. Yudi ini dikarunai oleh Allah kelebihan mampu melihat yang tidak terlihat, sehingga dalam percakapan kami sesekali dia dengan benar membaca silsilah keluarga saya.

Dalam diskusi yang mengasyikkan tersebut, saya juga bercerita tentang perjalanan pencarian konsep ketuhanan saya selama ini. Dari a sampai z perjalanan itu saya ceritakan, sampai pada kesimpulan sementara saya bahwa segala sesuatu bermuara kepada diri sendiri.

Di tengah-tengah diskusi, tiba-tiba Yudi menyela, Mas sampeyan dikasih apa sama bapak mertua sampeyan? Saya tidak langsung menjawab, karena saya bingung. Bapak mertua saya bukan orang ngerti mas, jelas saya.

Sepengetahuan saya, memang bapak mertua saya adalah tipe orang yang taat pada syariat. Selama ini beliau berusaha membuang jauh-jauh segala sesuatu yang tidak sesuai dengan al qur’an dan hadits. Al qur’an-pun beliau pelajari dan pahami maknanya melalui logika, sendirian tanpa bantuan ustadz. Hanya saja memang bapak mertua saya, alhamdulillah, istiqamah shalat berjamaah lima waktu di masjid dekat rumah. Sehingga tidak mungkin beliau memberikan bacaan wirid atau laku yang diijazahkan khusus buat saya.

Kemudian saya diam sejenak, berusaha mengingat kira-kira apa yang pernah disampaikan oleh bapak mertua kepada saya selama ini. Kalau bukan berupa bacaan wirid atau laku, kemudian seperti apa bentuk pemberian beliau kepada saya? Satu hal yang selama ini yang tidak pernah saya lupakan dari bapak mertua adalah pesan beliau kira-kira awal tahun 2006. Saat itu saya sedang cuti dan pulang ke rumah isteri di Surabaya. Dalam sebuah kesempatan ngobrol ngalor ngidul dengan bapak mertua, di akhir percakapan beliau berkata istiqamah ya ziz. Hanya itu, tidak ada yang lain.

Ingatan itulah yang saya ungkapkan kepada Yudi. Saya katakan kepada dia bahwa bapak mertua tidak pernah memberikan apa-apa kepada saya, beliau hanya berpesan agar saya terus istiqamah. Nah itulah dia mas, kata Yudi. Istiqamah. Jumeneng. Berdiri. Yang diberdirikan adalah shalat, lanjutnya.

Saya jadi teringat ucapan salah seorang ustadz yang saya temui kira-kira akhir bulan Desember 2006. Saat itu saya sedang berkunjung silaturahmi kepada beliau. Dalam percakapan kami, saya sempat bertanya, Gus (dia anak seorang kyai) saya ingin belajar ma’rifat dan ingin bertemu dengan Allah, bagaimana caranya dan dimulai dari mana? Beliau menjawab, ma’rifat itu bukan ilmu dan tidak bisa dipelajari. Ma’rifat itu hidayah dari Allah. Kalau sampeyan ingin ketemu dengan Allah, mulailah dulu dari shalat lima waktu tepat pada waktunya.

Subhanallah, Allah sedang memberitahukan kepada saya jalan untuk berkomunikasi dengan-Nya melalui dua orang kurirnya dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Bukan melalui metode puasa, bukan wirid, bukan juga dengan laku tirakat. Tapi melalui shalat, rukun islam kedua setelah membaca syahadat, yang menjadi penanda eksistensi manusia sebagai ciptaan Allah. Shalat, istiqamah, tepat waktu.

Banyuwangi, 19 Pebruari 2007

Aziz Fajar Ariwibowo

March 27th, 2007

Dan segalanya bermuara pada diri sendiri

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Dan segalanya bermuara pada diri sendiri

Sekian waktu berlalu, tidak terasa sembilan bulan sudah sejak saya pertama kali menuliskan kegelisahan hati dalam proses pencarian diri sendiri dan keinginan untuk berjumpa dengan Allah. Berbagai macam tanda-tanda alam sudah diberikan oleh Allah sebagai jejak yang harus saya telusuri sendiri. Jejak-jejak itulah yang membuat hati saya saat ini menjadi tidak lagi berprasangka kepada Allah. Belum semua kegalauan terjawab sebenarnya, namun dengan kehendak-Nya, Allah menenangkan hati saya. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi kegelisahan, tidak ada lagi prasangka. Yang ada hanya satu keyakinan, bahwa Allah pasti akan selalu berkomunikasi dengan bahasa yang sangat dipahami oleh makhluk-Nya. Perjalanan spiritual setiap manusia tidak akan pernah sama. Dan setiap pertanyaan akan selalu dijawab dengan lembut oleh Allah. Subhanallah, Allahuakbar..

Lebaran 1427 H kemarin setelah saya kembali ke Banyuwangi dari perjalanan mudik selama satu minggu, dalam acara halal bihalal yang diadakan oleh kantor di rumah dinas pemimpin, saya mengajak dua orang teman sebut saja Huda dan Hadi untuk bersilaturahmi kepada Pak H. Slamet Utomo. Rasanya sudah cukup lama saya tidak bertemu beliau, dan juga sangat banyak pertanyaan di otak yang ingin saya tanyakan. Salah satu teman saya, Huda, memang cukup dekat dengan beliau, sehingga saya pikir akan lebih mudah untuk memulai percakapan dengan Pak Haji Slamet apabila didampingi oleh dia. Kami sepakat untuk berangkat bareng malamnya habis maghrib.

Begitu selesai kesepakatan diambil, tiba-tiba badan saya terasa sakit seperti mau flu. Kedua lengan saya terasa sakit, dan tulang-tulang jari tangan saya juga terasa ngilu. Biasanya memang sebelum terkena flu, saya selalu merasakan gejala seperti itu. Tapi tidak saya rasakan, karena mungkin hanya akibat dari rasa capek setelah perjalanan jauh mudik ke rumah orang tua. Nanti malam juga hilang, begitu pikir saya.

Sehabis shalat maghrib, dalam kondisi tubuh terasa sakit seperti mau flu, saya berangkat ke rumah Hadi untuk bersama-sama ke rumah Huda dan selanjutnya ke rumah Pak Haji Slamet. Sampai di rumah Hadi, saya hubungi Huda lebih dulu, tapi ternyata Huda tidak bisa berangkat karena ada GP motor 500 cc seri terakhir. Penentuan kemenangan Rossi, kata Huda. Agak kecewa juga sih, tapi apa boleh buat, artinya saya harus berangkat berdua saja dengan Hadi.

Setelah saya jelaskan kepada Hadi bahwa Huda tidak bisa ikut ke rumah Pak Haji Slamet, terlihat Hadi agak ragu-ragu. Kata Hadi, saya tidak bisa ngomong, kalau Huda tidak ikut berangkat, nanti apa yang kita omongkan di sana. Saya mendesak Hadi untuk berangkat meskipun tanpa Huda. Saya bilang, kita berniat baik untuk bersilaturahmi, kenapa harus tertunda hanya karena Huda saja. Banyak sekali yang bisa kita percakapkan dengan Pak Haji Slamet, terutama proses pencarian jati diri kita masing-masing. Begitu saya jelaskan kepada Hadi.

Tapi Hadi tetap tidak bersedia berangkat berdua saja. Dia malah mengajak saya untuk duduk di ruang tamunya dan berdiskusi tentang keinginan dia untuk belajar hakikat shalat dimulai dari mengartikan, memahami dan memaknai setiap bacaan shalat. Di tengah-tengah diskusi Hadi bercerita bahwa beberapa minggu sebelumnya dia sudah membeli dua buku karangan Abu Sangkan yaitu Berguru Kepada Allah dan Pelatihan Shalat Khusyuk, namun belum juga sempat dibaca. Hadi beranjak ke kamarnya dan keluar kembali dengan membawa dua buku karangan Abu Sangkan tersebut, menunjukkannya kepada saya dalam kondisi masih terbungkus plastik dengan rapi.

Saya jadi terdiam. Dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa Allah menunjukkan kepada saya kedua buku Abu Sangkan yang masih terbungkus plastik? Mengapa begitu saya berniat untuk silaturahmi ke Pak haji Slamet tiba-tiba badan saya terasa sakit? Mengapa Huda tidak bersedia menemani saya dan Hadi juga bersikeras menolak untuk berangkat ke Pak haji Slamet apabila tanpa didampingi oleh Huda? Mengapa Allah belum mengijinkan saya untuk bertemu dengan Pak Haji Slamet? Pertanyaan-pertanyaan itu begitu mengganggu hati saya. Tapi tidak saya ungkapkan kepada Hadi.

Kemudian kami kembali berdiskusi, dan selama proses diskusi itu hanya sesekali saja badan saya terasa sakit. Sekitar jam sembilan, saya pamit pulang. Saya bilang kepada Hadi, lain kali saja kita main ke rumah Pak Haji Slamet kalau Allah sudah berkehendak.

Sampai di rumah, saya langsung masuk kamar dan beristirahat. Badan saya masih terasa agak lemas, tapi tidak lagi sakit seperti sore hari saat saya membuat janji dengan Huda dan Hadi. Sambil tidur-tiduran di samping isteri dan anak saya, kembali saya bertanya-tanya mengapa Allah menunjukkan kepada saya kedua buku Abu Sangkan yang masih terbungkus plastik? Mengapa Allah belum mengijinkan saya untuk bertemu dengan Pak Haji Slamet?

Tiba-tiba saya teringat pengalaman saya selama ini. Allah belum pernah berkomunikasi dengan saya pada saat otak dan hati saya penuh dengan pertanyaan dan prasangka. Allah malah datang pada saat saya menutup semua buku, menghentikan pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan kepada banyak orang, menghilangkan segala prasangka di hati, meletakkan otak saya di lantai, dan mulai duduk tafakur berzikir menyebut nama Allah dalam keheningan malam.

Saya sadar, bahwa mungkin Allah sedang memberikan jejak lagi, belum saatnya bagi saya untuk kembali mengkaji buku Abu Sangkan dan berdiskusi dengan Pak Haji Slamet. Saya sadar Allah sedang memberikan tanda bahwa saat ini adalah momentum bagi saya untuk mempertanyakan semua kegelisahan ke diri sendiri. Bukan bertanya ke orang lain, bukan pula merujuk ke buku orang lain. Tapi saya harus meluangkan waktu jauh lebih banyak lagi untuk menjenguk kembali ke dalam hati nurani.

Dan ternyata semuanya bermuara kepada diri sendiri..

Banyuwangi, 12 Pebruari 2007 Aziz Fajar Ariwibowo

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: