aziz-fajar

December 29th, 2006

Pernikahan dalam perspektif orang jawa

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Pernikahan dalam perspektif orang jawa

Akhir-akhir ini rakyat

Indonesia

disibukkan oleh berita-berita di media mengenai poligami. Kesibukan ini dipicu oleh kabar tentang pernikahan kedua A’a Gym yang menuai banyak protes dari baik dari muslim maupun muslimah. Banyak yang mendukung namun banyak juga yang menentang.

Saya tidak ingin ikut-ikutan larut juga dalam kesibukan massal tersebut. Karena bagi saya hukum poligami sudah pasti, diperbolehkan oleh Allah dan dilaksanakan juga oleh Rasulullah di periode 10 tahun akhir hayatnya setelah hijrah ke Madinah, meskipun sebelumnya Rasulullah murni monogami. Namun ada syarat dan kondisi yang harus dipenuhi, yaitu jika dan hanya jika apabila kita mampu berbuat adil kepada isteri-isteri dan anak-anak kita. Apabila memang kita merasa nantinya tidak akan mampu berbuat adil, maka lebih baik jangan berpoligami. Karena pertanggungjawabannya akan sangat berat di hadapan Allah.

Dalam tulisan ini saya hanya ingin menerjemahkan definisi adil dalam sebuah pernikahan menurut pemahaman yang saya yakini dalam perspektif orang jawa.

Beberapa waktu lalu saya silaturahmi ke rumah pemilik rumah yang saat ini sedang saya sewa. Biasalah, dalam rangka lobby biar harga sewa rumah tidak dinaikkan tahun depan. Maklum kondisi saat ini membutuhkan strategi dan siasat untuk menyesuaikannya dengan pendapatan setiap bulannya.

Dalam diskusi itu kami banyak berbincang-bincang mengenai falsafah jawa yang sebenarnya masih relevan dengan kondisi kehidupan bermasyarakat saat ini. Salah satunya adalah falsafah jawa yang memberikan bekal bagi seorang laki-laki sebelum menikah agar memiliki

lima

“ngo” terlebih dahulu. Lima “ngo” tersebut adalah harus mampu “ngopeni” (memelihara), mampu “nglambeni” (memberikan pakaian), mampu “ngomahi” (membangunkan rumah), mampu “ngayomi” (mampu melindungi/mengayomi) dan mampu “ngeloni” (mampu berhubungan seksual).

Lima

ngo ini meliputi dimensi materi dan rohani. Tiga ngo yang pertama yaitu ngopeni, nglambeni dan ngomahi lebih bersifat material. Sehingga harus dipenuhi secara material juga. Sedangkan dua ngo selanjutnya yaitu ngayomi dan ngeloni lebih bersifat rohani. Perasaan bahagia dan tenang berada dalam sebuah keluarga hanya bisa kita rasakan dalam hati saja.

Saya pikir falsafah

lima

ngo ini masih relevan dengan definisi adil dalam sebuah pernikahan. Apabila kita belum mampu memberikan keseluruhan

lima

ngo tersebut kepada isteri kita, maka sebaiknya jangan berpoligami. Apabila kita sudah mampu memberikan

lima

ngo kepada isteri kita, dan kita berniat untuk berpoligami maka sebaiknya kita mempersiapkan diri terlebih dahulu agar keseluruhan

lima

ngo tersebut juga mampu kita berikan kepada isteri kedua, ketiga atau keempat kita nanti. Perlu diingat juga bahwa setelah berpoligami,

lima

ngo yang kita berikan kepada isteri pertama tidak boleh berkurang sedikitpun. Bahkan kalau bisa malah bertambah kadarnya.

Seperti apakah

lima

ngo tersebut, mari kita bahas sedikit saja dari masing-masing

lima

ngo ini.

Ngo yang pertama, kedua dan ketiga adalah ngopeni, nglambeni dan ngomahi. Tiga ngo pertama ini berarti laki-laki sebagai pemimpin keluarga harus mampu memenuhi kebutuhan primer isterinya yaitu pangan (makanan), sandang (pakaian) dan papan (rumah). Darimana kita bisa memenuhi kebutuhan primer itu, tentunya berasal dari sumber penghasilan. Sumber ini bisa berupa apa saja dan bisa berasal darimana saja. Hanya saja sebagai makhluk ciptaan Allah, mungkin lebih baik apabila kita tahu diri untuk mencari sumber penghasilan yang halal dan dalam koridor yang diperintahkan oleh Allah.

Karena perjalanan hidup kita akan menjadi lebih tenang apabila makanan yang dimakan, pakaian yang digunakan dan rumah yang ditinggali oleh isteri dan anak kita berasal dari sumber yang halal.

Ngo yang keempat adalah ngayomi. Seorang laki-laki yang memutuskan untuk menikah dengan seorang perempuan harus mampu memberikan perlindungan atau ayoman kepada isterinya baik secara fisik maupun mental. Laki-laki tersebut harus mampu melindungi keluarganya dari bahaya. Pada saat ada rampok misalnya, maka laki-lakilah yang memiliki kewajiban untuk berada di depan keluarganya untuk membela dan mempertahankan harta keluarganya. Pada saat sang isteri sedang sedih, maka si suami harus mampu dan bersedia memberikan bahunya sebagai tempat bersandar dan berkeluh kesah. Suami juga harus mampu mengatur waktunya sebaik mungkin untuk bekerja, keluarga dan sosial, sehingga isteri tidak merasa diabaikan atau ditinggalkan. Pada saat isteri sedang marah, maka suami harus mampu meredam dan mendinginkan emosi sang isteri. Pada saat keluarga sedang dilanda masalah, suamipun harus mampu memberikan solusi riil dan realistis.

Mengayomi ini sebenarnya lebih banyak berada dalam dimensi immaterial, karena lebih banyak dirasakan oleh hati dibandingkan dirasakan secara fisik. Namun efek yang ditimbulkan oleh kenyamanan secara immaterial ini jauh lebih bagus dibandingkan dengan kenyamanan secara material. Isteri kita pasti akan lebih menerima apabila berada dalam kondisi kekurangan secara material namun kaya hati dibandingkan kaya secara material namun hatinya tertekan karena tidak pernah merasakan kehangatan kasih sayang seorang suami.

Ngo yang terakhir adalah ngeloni. Artinya kelengkapan sebagai seorang laki-laki yang mutlak harus dimilki oleh suami adalah kemampuan untuk berhubungan seksual. Memang sih seks bukanlah hal yang paling penting dalam sebuah rumah tangga, namun seks-lah yang menjadi bumbu pemanis dan penikmatnya. Tanpa seks, rumah tangga akan menjadi seperti sayur tanpa garam. Hambar. Bahkan romantisme juga merupakan sebagian dari prosesi hubungan seksual antara suami dan isteri.

Nah, setelah mengetahui falsafah jawa

lima

ngo tentang bekal untuk menikah ini, masihkah kita kaum laki-laki merasa mampu untuk berpoligami? Mari kita jawab dalam hati. Karena itu sangat tergantung pada pilihan pribadi masing-masing. Kita sudah paham bahwa syarat dan kondisi yang ditentukan oleh Allah apabila kita berniat untuk beristeri lebih dari satu. Kita juga sudah paham resiko-resiko yang mungkin akan muncul apabila kita berpoligami. Maka pertanggungjawaban atas keputusan untuk menikah lagi ini akan diperhitungkan oleh Allah pada saat hisab di hari akhir nanti.

Semoga Allah masih berkehendak mengikutsertakan kita sebagai makhluk-Nya dan umat Rasulullah yang berjalan dalam koridor Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Amin.

Banyuwangi, 18 Desember 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 29th, 2006

Mengapa manusia masih begitu sombong?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Mengapa manusia masih begitu sombong?

Hari Selasa minggu kemarin saya didatangi salah satu nasabah yang mengajukan permohonan penarikan aset. Karena saya tidak memiliki kewenangan untuk memutus, maka saya mengajak si nasabah ke Jember untuk langsung menemui atasan saya dan berbicara kepada beliau-beliau. Hasil dari negosiasi antar mereka sih tidak terlalu menggembirakan, karena keinginan si nasabah harus ditunda akibat aturan perusahaan yang mengharuskan keputusan diserahkan ke kantor pusat.

Yang menjadi perhatian saya bukanlah hasil negosiasi tersebut, tapi percakapan antara saya dengan nasabah, sebut saja dia Pak Ali, selama perjalanan dari Banyuwangi menuju ke Jember.

Perbincangan ini dimulai dengan cerita bahwa seringkali manusia secara tidak sadar menjadi sombong dan merasa lebih baik dari manusia yang lain. Kasus yang saya contohkan adalah isi tulisan sebelumnya yaitu pengumuman salah satu ta’mir masjid di lingkungan rumah saya yang ditujukan kepada jamaah untuk tidak membawa anak balita ke masjid saat shalat tarawih.

Kemudian Pak Ali balas bercerita bahwa bahwa suatu kali dia pernah silaturahmi ke salah satu kyai di daerah Tanggul, Jember. Di sana dia diberitahu bahwa tidak pada tempatnya apabila dia datang untuk minta barakah kepada sang kyai. Karena kyai tidak punya barakah. Nabi Muhammad saja belum kita ketahui apakah beliau punya barakah atau tidak, yang punya hanyalah Nabi Ibrahim. Dan barakah ini berasal hanya dari Allah, bukan dari yang lain. Untuk itu Pak Ali disarankan untuk melakukan wirid saja sendiri dan berdoa kepada Allah. Itu sudah cukup, tidak perlu minta-minta kepada yang lain. ditakutkan natinya akan menjadi syirik.

Mendengar cerita itu, tiba-tiba saya ingat dengan salah satu bacaan dalam rukun shalat yaitu shalawat nabi pada saat kita sedang tahiyat akhir. Allahumma shalli ‘ala sayyidina muhammad, wa ‘ala ali sayyidina muhammad. Kamaa shallaita ‘ala sayyidina ibrahim, wa ‘ala ali sayyidina ibrahim, Wa barik ‘ala sayyidina muhammad, wa ‘ala ali sayyidina muhammad. Kama barakta ‘ala sayyidina ibrahim, wa ‘ala ali sayyidina ibrahim.

Dalam tahiyat kita berdoa kepada Allah: Ya Allah, berikanlah keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya seperti yang telah Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Ya Allah, berikanlah barakah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya seperti yang telah Engkau berikan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya.

Nabi Muhammad adalah manusia yang sangat istimewa. Rasul yang dari lahir sudah ditentukan oleh Allah untuk menjadi ma’shum saat dibelah dadanya dan dibersihkan hatinya oleh Jibril, masih selalu didoakan oleh seluruh umat islam dalam shalatnya sepanjang masa agar memperoleh keselamatan dan barakah seperti keselamatan dan barakah yang sudah Allah anugerahkan kepada Nabi Ibrahim. Subhanallah, Allahuakbar..

Saya jadi menangis setelah mengingat shalawat itu. Saya membandingkan dengan diri saya sendiri. Siapa saya dibandingkan Rasulullah? Saya bukan siapa-siapa. Sama sekali bukan apa-apa dibandingkan Rasul. Saya hanya manusia biasa. Tidak ada yang mendoakan saya seperti Rasulullah yang selalu didoakan oleh manusia sepanjang masa. Lalu kenapa saya sampai saat ini masih saja bersikap sombong dan angkuh kepada sesama? Kenapa masih saja saya merasa yang paling pintar dan paling benar?

Padahal sudah jelas bahwa segala hal di dunia hanya kepunyaan Allah. Hanya Allahlah yang berhak untuk sombong dan angkuh. Hanya dari Allah-lah sumber dari segala kepintaran dan kebenaran.

Dalam keyakinan saya, di hadapan Allah, semua orang sama. Tidak ada lagi yang parameter kaya, miskin, benar, salah, pintar, bodoh, besar, kecil, orang tua, anak, sufi, syiah, sunni, muhammadiyah, nahdlatul ulama, kyai ataupun santri. Karena semuanya itu adalah parameter yang dibuat oleh manusia sendiri dan tidak berlaku sama sekali bagi Allah. Pada dasarnya kita ini hanya sekedar ciptaan Allah belaka. Bukan apa-apa.

Bagi Allah hanya ada satu parameter yang berlaku dan sangat menentukan tinggi rendahnya derajat manusia di hadapan Allah yaitu taqwa. Inna akramakum ‘indallahi atqakum. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang bertaqwa.

Astaghfirullahal’azhim, ampuni saya ya Allah. Semoga Allah masih berkehendak untuk menjadikan kita semua sebagai umat Rasulullah yang layak memperoleh syafaat dari Rasul. Amin.

Banyuwangi, 6 Desember 2006 Aziz Fajar Ariwibowo

December 29th, 2006

Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Dilarang membawa anak balita ke masjid saat tarawih?

Mungkin pengumuman seperti tersebut di atas akan jamak kita dengar di masjid-masjid dan mushalla-mushalla selama bulan ramadhan. Seperti yang dulu biasa saya dengarkan di masjid sebelah rumah orang tua saya. Seperti biasanya juga saya amini pengumuman dari ta’mir tersebut, berdasarkan keinginan bersama untuk lebih khusyu’ tanpa terganggu oleh teriakan anak-anak kecil.

Akan tetapi rasanya jadi berbeda ketika beberapa malam lalu saya mendengar pengumuman yang menghimbau jamaah untuk tidak membawa anak balita selama shalat tarawih di masjid di lingkungan tempat saya tinggal sekarang. Malam itu adalah malam pertama kali dilaksanakan shalat tarawih. Artinya besoknya adalah puasa ramadhan hari pertama.

Terlihat cukup banyak anak-anak usia balita yang ikut orang tuanya ke masjid untuk shalat tarawih. Beberapa diantaranya ada yang kelihatannya sudah duduk di bangku sekolah dasar. Biasalah, layaknya anak-anak kecil lainnya, bukannya mengikuti tawarih dengan khusyu’ dan tuma’ninah, mereka malah berkumpul dan bercanda rame-rame.

Buat saya sih, kondisi seperti itu oke-oke saja. Saya mahfum karena memang anak kecil sedang dalam masanya bermain-main. Dan kebetulan juga saya merasa tidak terlalu terganggu oleh candaan anak-anak itu. Tapi ternyata tidak begitu buat beberapa orang jama’ah dan ta’mir masjid. Pada waktu memberikan kultum, seorang ta’mir memberikan arahan kepada seluruh jamah untuk selanjutnya tidak lagi membawa anak balita ke masjid. Karena menurut beliau, balita yang berkumpul di masjid akan menyebabkan jamah menjadi tidak khusyu shalatnya. Buktinya pada saat itu terdengar anak-anak kecil sedang berkumpul dan saling berbicara dengan suara yang agak keras.

Pengumuman ta’mir tersebut mengejutkan saya. Memang sih, sebelum memberikan arahan beliau terlebih dulu meminta maaf apabila apa yang akan disampaikan mungkin menyinggung perasaan sebagian jamaah. Tapi tetap saja saya kaget.

Yang membuat saya terkejut adalah ternyata kita sendiri masih membuat batasan tentang siapa yang berhak dan layak untuk datang ke baitul-Lah. Padahal di mata Allah semua manusia adalah sama dan sederajat. Tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan lainnya. Allah sangat egaliter. Baik seorang ustadz dan orang tua ataupun anak kecil, masing-masing memperoleh kesempatan yang sama untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya.

Saya tidak terlalu ingat, tapi seingat saya dalam salah satu hadits disebutkan bahwa suatu ketika Kanjeng Rasul mengerjakan shalat berjamaah dengan para sahabat. Saat itu Kanjeng Rasul mengerjakan salah satu sujudnya dalam waktu yang cukup lama. Sehingga membuat para sahabat heran dan bertanya-tanya. Setelah selesai sahalat, akhirnya Kanjeng Nabi menjelaskan mengapa salah satu sujudnya lama adalah karena waktu itu cucu beliau yang masih kecil sedang duduk di leher beliau. Kanjeng Rasul tidak mau mengganggu keasyikan cucunya, sehingga memutuskan untuk menunggu sampai si cucu bosan dan turun dari leher Kanjeng Rasul. Setelah itu baru Kanjeng Rasul melanjutkan shalat ke rakaat berikutnya.

Subhanallah.. Bahkan Kanjeng Rasul sekalipun masih menghormati cucunya yang notabene seorang anak kecil yang sedang bermain-main dan duduk di atas leher beliau. Lalu mengapa kita masih dengan sombongnya melarang anak-anak balita kita untuk menjadi tamu Allah? Apakah dengan menjadi orang tua membuat kita merasa sah untuk menentukan layak atau tidaknya seorang balita ikut datang ke masjid?

Rasulullah adalah manusia pilihan yang semenjak dari lahirnya sudah dijaga hati, lisan dan tindakannya oleh Alah dari perbuatan buruk. Namun Kanjeng Rasul masih menyempatkan waktu membiarkan seorang balita bermain-main di atas leher beliau meskipun saat itu Kanjeng Rasul sedang menjadi imam shalat berjamaah dengan para sahabat. Kemudian seperti apakah kita dibandingkan dengan Rasulullah? Sederajatkah kita yang sangat banyak dosanya ini dibandingkan dengan Kanjeng Rasul yang ma’shum? Lalu mengapa kita dengan mudahnya menentukan bahwa anak-anak kita yang masih berumur balita tidak layak menjadi tamu Alah di rumah-Nya?

Dalam keyakinan saya, belum tentu di hadapan Allah saya lebih suci dibandingkan anak saya yang baru berumur 14 bulan. Belum tentu doa saya lebih makbul dibandingkan dengan doa anak saya. Belum tentu saya lebih diajeni oleh Allah di dalam rumah-Nya dibandingkan dengan anak saya. Belum tentu juga shalat yang saya lakukan di masjid lebih diridlai Allah dibandingkan dengan kehadiran anak saya di sana.

Kehadiran anak-anak di masjid adalah sebenarnya proses pembelajaran bagi mereka. Anak-anak kita akan melihat bagaimana cara shalat yang baik dan benar. Anak-anak juga akan melihat bagaimana para orang tuanya bermusyawarah tentang kepentingan bersama di masjid. Anak-anak akan belajar memahami bahwa masjid adalah pusat seluruh aktivitas masyarakat di lingkungannya. Namun bagaimana semangat “back to mosque” tersebut dapat ditanamkan ke benak anak-anak kita apabila dari awal kita sudah membuat saringan layak atau tidak layak bagi mereka untuk menjadi tamu Allah di rumah-Nya sendiri?

Dalam keyakinan saya, spiritualitas dan kekhusyukan kita dalam beribadah tidak ditentukan oleh usia. Tidak ditentukan juga oleh seberapa ramai atau seberapa sepi lingkungan tempat kita beribadah. Tapi lebih banyak ditentukan oleh seberapa ikhlas kita bersedia beribadah dan berdzikir atas nama Allah. Bukan atas nama yang lainnya.

Sebagai akhiran, saya mengutip perkataan salah seorang sahabat bahwa penyakit orang baik adalah pada saat dia merasa dirinyalah yang paling baik. Sehingga kita harus selalu berhati-hati karena batas antara baik dan buruk sangatlah tipis. Bahkan terkadang tanpa terasa kita sudah berjalan melintasi batas tersebut dan berada di area seberang hanya karena kita merasa sedikit lebih baik dari seorang balita.

Semoga Allah masih berkehendak mengijinkan kita semua untuk bertemu dengan ramadhan tahun depan. Karena bulan ramadhan adalah saat yang tepat untuk melakukan introspeksi diri untuk kemudian selanjutnya kita jadikan sebagai dasar transformasi diri menuju ke arah yang lebih baik.

Banyuwangi, 25 September 2006 Aziz Fajar Ariwibowo

December 29th, 2006

Let’s talk about love : Menikah Enaknya Cuma 5%…

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Let’s talk about love : Menikah Enaknya Cuma 5%…

Yang 95% ternyata uueenaaaaak… :-)

Itu adalah joke yang pertama kali saya dengar di akhir tahun 2000 menjelang saya akan lulus kuliah. Waktu itu saya dan beberapa orang teman sedang ngobrol bersama dengan seorang dosen muda yang baru satu tahun menikah. Karena masih jomblo, iseng-iseng sambil bercanda kami bertanya ke dia, bagaimana rasanya menikah. Dosen muda itu menjawab sambil bercanda juga dengan joke seperti itu.

Oke, itu adalah joke yang harus ditanggapi dengan paradigma joke juga. Sehingga apabila kita ingin berbicara sedikit lebih serius tentang pernikahan, maka kita harus bersedia membuka mata, telinga, mulut dan pikiran kita lebar-lebar. Karena sebuah pernikahan tidaklah sesederhana seperti joke itu namun sekaligus juga tidak serumit dan semenakutkan yang dibayangkan sebagian dari kita.

Menikah adalah sebuah keputusan besar dalam hidup seorang anak manusia. Karena ini merupakan keputusan seumur hidup. Setelah menikah nanti, pada saat bangun tidur di pagi hari, pertama kali yang kita lihat adalah wajah pasangan hidup kita. Begitu juga saat akan tidur di malam hari, wajah terakhir yang kita lihat adalah wajah suami atau isteri kita. Tentunya kita tidak ingin biduk pernikahan yang kita bangun akan kandas di tengah jalan, karena konsekuensinya cukup berat terutama bagi anak kita nanti. Meskipun bercerai adalah salah satu perbuatan halal, tapi tidak disukai oleh Allah.

Sedemikian beratnyakah mengambil keputusan untuk menikah? Seperti yang saya sampaikan sebelumnya bahwa pernikahan tidak sesederhana sekaligus juga tidak serumit dan semenakutkan yang dibayangkan. Beberapa paragraf di bawah adalah hasil perenungan dan diskusi saya dengan isteri semalam di tempat tidur tentang sebuah pernikahan.

Manusia adalah ciptaan Allah semata, tidak lebih dari itu. Sehingga wajar apabila Allah sangat mengenal dan memahami seluk beluk manusia bahkan sampai hal yang paling kecil dan sepele sekalipun. Bagi saya, Allah-lah yang menentukan dan hanya Allah yang tahu kapan kita siap untuk menikah dan dengan siapa kita akan menikah. Sebelum menikah, saya yakin Allah akan memberikan cobaan yang terkait erat dengan hal itu. Apabila kita mampu mengatasi cobaan, dan menurut Allah kita layak untuk menikah, maka saat itulah kita akan menikah.

Begitu juga dengan jodoh kita. Sekeras apapun kita berusaha utuk menikah dengan pilihan kita, apabila Allah menentukan bukan dia jodoh kita, maka kita tidak akan pernah bisa menikah dengan pilihan kita itu. Sebaliknya juga begitu. Sekeras apapun kita menolak untuk menikah dengan seseorang, apabila Allah sudah menggariskan bahwa dia adalah jodoh kita, maka kita pasti akan menikah dengan dia.

Menikah adalah fitrah manusia. Karena Allah sendiri sudah menyatakan bahwa segala sesuatu di semesta ini diciptakan selalu berpasang-pasangan, termasuk manusia. Menikah adalah sebuah kebutuhan. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak akan pernah bisa hidup sendiri. Manusia membutuhkan sarana yang halal untuk menyalurkan salah satu kebutuhan dasarnya yaitu seks. Menikah adalah sebuah kebahagiaan. Karena kita memiliki tempat utuk sharing saat kita sedang bete, tempat menyandarkan kepala saat kita sedang lelah, dan tempat untuk menggali motivasi saat kita sedang down.

Menikah dalam hasil perenungan saya dan isteri saya adalah sebuah proses kompromi antara dua orang yang berbeda dengan ego masing-masing. Sehingga sangat wajar apabila banyak hal yang tidak cocok di antara kami. Keinginan, kesenangan, dan preferensi kami berbeda. Namun apabila dikembalikan kepada titik kebutuhan melalui metode kompromi, semua perbedaan itu bisa dijembatani. Kekurangan saya akan dilengkapi oleh isteri. Begitu juga sebaliknya, saya akan mencover kekurangan yang dimiliki oleh isteri saya.

Sebuah pernikahan membutuhkan komunikasi yang unggul. Kompromi yang akan dilakukan antara suami dan isteri harus dikomunikasikan terlebih dahulu, sehingga masing-masing pihak mengetahui, mengerti dan memahami apa yang menjadi kebutuhan dan keinginannya. Ternyata proses komunikasi dalam rangka mengetahui, mengerti dan memahami pasangan hidup inilah yang akan berlangsung selamanya. Lifetime process, dan hanya akan terhenti apabila kita mati nanti. Setelah diperoleh peta kebutuhan dan keinginan masing-masing, baru dilakukan kesepakatan bagian mana yang harus dikompromikan.

Beberapa waktu sebelum kami menikah dulu, saya melihat satu film yang dibintangi oleh Tom Cruise dan Renee Zellweger, Jerry Maguire. Saya lupa siapa nama kedua tokoh itu dalam film tersebut. Sebuah film yang romantis, menceritakan tentang perjalanan hidup dan cinta seorang agen bintang olahraga. Saya tidak akan mempertanyakan definisi cinta dalam film Jerry Maguire, karena masalah cinta bagi saya sudah terselesaikan sebelum saya berbicara tentang pernikahan ini.

Satu hal yang menginspirasi saya adalah curahan hati Renee kepada kakak perempuannya mengapa dia mencintai Tom Cruise. Renee bilang, “I love him because he is a man almost to be”. So inspiring, bahwa dia mencintai seorang laki-laki bukan karena si lelaki ganteng, kaya ataupun memiliki kegemaran yang sama, tapi karena si lelaki sedang berusaha meraih impiannya.

Setelah melihat keseluruhan film Jerry Maguire, saya membuat satu kesimpulan bahwa “A marriage is not all about fitting each other, but it is all about completing each other”. Sebuah pernikahan bukanlah melulu mengenai kecocokan antara suami dengan isterinya, tapi lebih merupakan kesalingmelengkapi satu sama lain. Prinsip itulah yang saya bawa sampai saya menikah bahkan sampai saat ini dan nanti.

Banyuwangi, 04 Juli 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 26th, 2006

Let’s talk about love : Atas Nama Cinta..

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Let’s talk about love : Atas Nama Cinta..

Pernahkah anda berpacaran? Untuk pertanyaan ini, saya yakin mayoritas akan menjawab pernah. Karena melalui pacaran itulah kita mencoba untuk menjajagi dan mengenali pasangan kita masing-masing. Tapi benarkah pacaran itu memang efektif sebagai mediasi untuk memahami segala sesuatu tentang calon pasangan hidup kita? Kalau memang efektif, kenapa masih banyak pasangan suami isteri yang memutuskan untuk bercerai setelah sekian tahun menikah meskipun sebelumnya sudah diawali dengan pacaran?

Seperti tulisan saya sebelumnya “Let’s talk about love : Cinta…, cinta?”, saya akan mencoba untuk sedikit mengupas mengenai pacaran ini berdasarkan pengalaman, pemikiran dan persepsi pribadi saya. Bukan berdasarkan pemikiran para filosof dan psikolog atau mengutip buku-buku mereka. Sehingga apapun yang akan saya sampaikan nantinya masih sangat debatable.

Pacaran, dalam persepsi saya, ternyata tidak dibutuhkan sama sekali. Pacaran bagi saya tidak ada manfaatnya dan hanya menghabiskan energi saja. Karena perhatian, konsentrasi, waktu, bahkan uang kita akan habis tersedot selama proses berpacaran yang kita lakukan atas nama cinta tersebut. Apabila dihitung-hitung dan ditimbang-timbang, ternyata pacaran tidak terlalu banyak membawa kebaikan, malah sangat banyak membawa keburukan bagi kita. Uraian dibawah akan menyajikan beberapa argumentasi yang mendasari premis saya itu.

Alasan pertama yang membuat saya tidak setuju dengan konsep pacaran adalah karena bagi saya cinta itu tidak ada dan tidak nyata. Yang ada di dunia ini adalah hukum sebab akibat yang termaterialkan dalam bentuk pamrih atau motif. Baik pamrih positif maupun pamrih negatif. Cinta sejati hanya ada tiga yaitu cinta antara Allah kepada manusia, cinta Rasulullah kepada umatnya dan cinta orang tua (terutama ibu) kepada anaknya.

Alasan kedua adalah karena dalam berpacaran akan muncul keinginan untuk saling memiliki. Hasrat inilah yang dijadikan sebagai pembenaran untuk mengatur hidup pacar masing-masing. Padahal sebenarnya mereka belum punya hak sama sekali untuk melakukan itu. Yang memiliki hak mengatur hidup seseorang hanyalah orang tuanya selama si anak belum menikah. Karena orang tualah yang membiayai seluruh kebutuhan hidupnya. Baru melalui prosesi nikah yang sah, sang suami atau isteri memperoleh hak untuk mengatur hidup pasangannya masing-masing berdasarkan kesepakatan bersama.

Saya sendiri berencana apabila anak saya sudah besar nanti, saya akan melarang dia untuk berpacaran. Boleh saja berteman dekat, tapi jangan sampai menyatakan cinta dan bersedia menjadi pacar seseorang. Jauh lebih baik mempunyai banyak teman dekat daripada memiliki satu orang pacar. Semakin banyak teman berarti semakin banyak silaturahmi. Semakin banyak melakukan silaturahmi biasanya semakin banyak rejekinya. Saya akan bilang ke anak saya nanti : “Jangan takut disebut sebagai playgirl atau playboy. Karena sebutan itu menunjukkan ketidakmampuan mereka melemahkan prinsipmu untuk tidak berpacaran. Apabila ada yang terus menerus menyebutmu seperti itu dan kamu tidak terima, jangan kuatir karena ada bapak yang selalu ada di depanmu untuk membelamu.” :-)

Alasan ketiga adalah karena apabila dua orang yang berpacaran sedang bertengkar, maka seluruh energi mereka akan habis tersedot untuk menyelesaikan pertengkarannya. Padahal pertengkaran atas nama cinta itu benar-benar tidak cukup berharga untuk diberikan perhatian lebih. It’s not worhty enough jack, really… Sangat tidak layak apabila air mata dikeluarkan hanya sekedar karena cinta belaka. Lebih baik apabila energi itu disalurkan untuk melakukan pengembangan diri atau untuk menyenangkan diri sendiri. Masih banyak hal penting lain yang jauh lebih layak dikerjakan dibandingkan membiarkan energi kita habis untuk sesuatu yang dinamakan cinta.

Alasan keempat adalah karena berpacaran akan memunculkan suasana yang tidak sehat bagi kita. Menurut Harry dalam film “When Harry Met Sally’, bohong apabila seorang laki-laki berkawan dengan perempuan tanpa ada pamrih apapun. Jadi tidak akan ada relasi adik-kakak dalam hubungan antara cewek-cowok. Yang ada adalah interest, termasuk di dalamnya adalah nafsu syahwat. Nah, nafsu inilah yang berbahaya. Dalam sepanjang sejarah peradaban manusia, pertumpahan darah terjadi seringkali disebabkan oleh urusan bagian bawah perut ini. Kisah perkelahian antara Habil dan Qabil dalam Islam diakibatkan oleh nafsu syahwat. Demikian juga di jaman Romawi dulu, Troya runtuh tidak jauh-jauh dari urusan bawah perut. Troya hancur karena memperebutkan perempuan bernama Helen. Sehingga dikenal-lah Helen of Troy.

Sayang sekali apabila terjadi kehamilan akibat hubungan seksual pra nikah. Karena belum siap untuk menikah dan merawat anak, akhirnya kandungan diaborsi. Baru saja saya selesai melihat tayangan tentang proses aborsi. Dalam tayangan itu diperlihatkan bagaimana bayi-bayi itu bergerak-gerak ketakutan dan merasa sakit saat alat penghancur memasuki rahim, yang terekspresikan melalui peningkatan intensitas detak jantung bayi. Miris hati saya melihat tayangan itu, how dare did they do that stupid thing?

Empat hal itu sudah cukup bagi saya untuk mengatakan bahwa pacaran jauh lebih banyak membawa keburukan daripada kebaikan. Pacaran tidak menjamin kita mampu memahami pasangan sepenuhnya. Buktinya banyak yang menghabiskan sekian tahun untuk pacaran dengan alasan agar lebih saling mengenal, setelah setahun menikah langsung bercerai.

Maka apabila membutuhkan waktu untuk mengenal calon suami atau isterinya, tidak berarti harus melalui metode berpacaran. Karena ternyata proses memahami dan mengerti pasangan masing-masing akan berlangsung seumur hidup sampai mati.

Atas nama cinta? Enggak deh…

Banyuwangi, 26 Juni 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 22nd, 2006

Let’s talk about love : Cinta…, cinta?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Let’s talk about love : Cinta…, cinta?

Apa yang terbayang dalam benak anda saat diajak berbicara tentang cinta? Hubungan antara suami isteri? Romantisme dua manusia lawan jenis yang sedang berpacarankah? Atau debar dan desiran di hati saat berdekatan dengan lawan jenis? Apa definisi cinta menurut anda? Nyatakah cinta itu? Atau malah misterius dan absurd?

Banyak literatur dan novel tetang cinta ditulis bahkan banyak juga lagu cinta dinyanyikan selama ini, tapi ternyata belum mampu menjelaskan apa cinta itu sebenarnya. Dalam tulisan ini saya tidak akan mengambil pemikiran para filosof atau mengutip buku-buku mereka. Saya akan berbicara tetang cinta berdasarkan persepsi, pemikiran dan pengalaman diri saya pribadi.

Bagi saya cinta itu tidak ada dan tidak nyata. Apapun terminologi cinta menurut para pakar psikologi, cinta platonis, cinta romantis atau cinta apapun, bagi saya cinta sejati hanya ada dua macam. Yaitu cinta antara Allah kepada manusia ciptaan-Nya dan cinta antara orang tua (terutama ibu) kepada anak-anaknya. Diluar keduanya, bagi saya cinta hanyalah sebentuk omong kosong belaka yang digunakan untuk mengisi waktu luang.

Tentu kemudian muncul pertanyaan, apakah bukan cinta yang mendasari hubungan antara suami isteri dalam sebuah pernikahan? Menurut saya bukan cinta, tapi komitmen dan pengertian. Dua hal itulah yang mampu membuat sebuah pernikahan menjadi everlasting dan seorang suami bisa setia kepada pasangannya sampai mati. Saya yakin tanpa ada cintapun, mereka bisa make love. Seperti yang harry bilang dalam film when harry met sally, bohong apabila seorang laki-laki berkawan dengan perempuan tanpa ada pamrih apapun. Jadi tidak akan ada relasi adik-kakak dalam hubungan antara cewek-cowok. Yang ada adalah interest, termasuk di dalamnya adalah nafsu. Adalah fitrah manusia untuk memiliki nafsu, bahkan nafsu untuk berbuat baik sekalipun.

Argumentasi apa yang membuat saya yakin hanya ada dua jenis cinta di dunia ini? Ijinkan saya untuk sedikit lebih jauh mengungkapkan pemikiran saya ini.

Cinta sejati yang pertama yaitu cinta dari Allah (Sang Pencipta) kepada manusia (ciptaan-Nya). Apabila kita meyakini bahwa semesta ini tercipta tidak dengan sendirinya, maka kita pasti percaya bahwa manusia hanyalah sekedar hasil kreatifitas Tuhan. Dalam keyakinan yang saya anut, Tuhan saya sebut sebagai Allah. Allah, dalam persepsi dan berdasarkan pengalaman pribadi saya, sangat pengasih, sangat penyayang, sangat pemaaf, sangat demokratis, dan sangat terbuka.

Allah sangat mengasihi manusia, karena menyediakan oksigen yang berlimpah di bumi untuk kita hirup. Semuanya gratis tanpa ada pengorbanan yang harus kita lakukan. Allah sangat menyayangi manusia, karena segala permintaan kita akan dikabulkan oleh-Nya. Bahkan Allah menyuruh manusia untuk meminta kepada-Nya. Kata Dia, mintalah maka akan Aku kabulkan. Allah sangat pemaaf, karena sebesar apapun kita pernah melakukan kesalahan apabila kita bersungguh-sungguh mohon ampun kepada-Nya dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi maka Allah akan menghapus seluruh dosa-dosa kita. Allah sangat demokratis, karena tidak pernah mewajibkan manusia untuk bercinta dengan-Nya melalui satu metode tertentu yang sama. Tapi Allah sudah menentukan metode yang berbeda untuk setiap manusia, tidak ada yang sama persis tergantung kemampuan dan preferensi masing-masing dari kita. Kata Allah, Aku adalah seperti prasangkamu kepada-Ku. Allah sangat terbuka kepada manusia, karena Allah membuka lebar-lebar pintu-Nya untuk dimasuki oleh seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Tidak harus bisa berbahasa Arab, tidak harus memakai gamis, tidak harus berjenggot bahkan juga tidak harus berkulit putih. Allah mampu memahami dan berkomunikasi dalam semua jenis bahasa di semesta ini.

Itulah sebagian bukti dari cinta Allah kepada manusia. Apabila kita telusuri satu persatu masih bermilyar-milyar bukti cinta-Nya kepada manusia. Bahkan apabila seluruh pohon di dunia ini dijadikan pena dan air laut dijadikan tintanya tidak akan pernah cukup untuk menuliskan seluruh bukti itu.

Cinta sejati yang kedua adalah cinta orang tua (terutama seorang ibu) kepada anaknya. Ibu mengandung anaknya selama sembilan bulan sepuluh hari. Dia beraktivitas kesana kemari dengan membawa seorang calon bayi, tanpa mengeluh. Pada saat proses melahirkanpun nyawa ibu menjadi taruhannya. Kontraksi setiap satu menit sangat menyiksa. Darah keluar sebegitu banyaknya, padahal si ibu harus mengejan untuk mengeluarkan bayi. Setelah melahirkan ibu tidak bisa langsung beraktivitas dengan sempurna, karena masih harus mengembalikan kondisi tubuh hingga pulih seperti sebelumnya.

Sebelum bisa makan, minum dan berjalan sendiri, kemana-mana ibu dibantu oleh bapak harus menyuapi, nyusuin, dan menggendong si bayi. Begitu juga sebelum bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri, orang tua harus memenuhi seluruh kebutuhan di anak. Bahkan seringkali meskipun si anak sudah bekerja, orang tua masih bersedia memberikan bantuan pada saat anak sedang dalam kesusahan. Setelah besarpun, orang tua harus siap melepas anaknya untuk menikah dan memulai kehidupan baru bersama pasangannya.

Segala macam materi tak terhitung banyaknya dikeluarkan oleh orang tua untuk mengemban amanat Allah ini. Tapi orang tua tidak pernah meminta balasan dari anak sedikitpun. Bagi orang tua, sapaan lewat telepon setiap bulan dari anak sudah cukup membuat mereka jadi bahagia.

Itulah yang sebenar-benarnya cinta sejati, cinta dari Allah kepada manusia dan cinta dari orang tua kepada anaknya. Karena cinta itu diberikan tanpa ada pamrih dan syarat apapun. Trully unconditional love. Tak akan tergantikan oleh cinta lain jenis apapun dan tak akan lekang dimakan oleh waktu.

Banyuwangi, 12 Juni 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 20th, 2006

Allah Maha Besar

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Allah Maha Besar

Awal April kemarin saya ambil cuti selama 6 hari kerja. Bertepatan dengan libur nasional Maulud Nabi dan Wafat Isa Al Masih, sehingga total cukup banyak hari libur yang bisa saya manfaatkan untuk mendampingi dan menyaksikan anak saya tumbuh.

Anak saya bernama Ennea, perempuan, hari ini dia berusia kira-kira 8 bulan. Sekarang sedang dalam tahapan belajar berdiri.

Subhanallah. Ternyata melihat sendiri proses tumbuh kembang setiap harinya seorang anak manusia mulai dari lahir adalah bukti kekuasaan Allah. Bagaimana tidak, saya menyaksikan sendiri anak saya belajar tengkurap, belajar berbicara, belajar memahami ucapan orang tuanya, belajar mengangkat tubuhnya, belajar beradaptasi dengan lingkungan, belajar merangkak, kemudian dia belajar berdiri. Dari bukan siapa-siapa dan tidak bisa apa-apa sama sekali, menjadi seorang manusia yang lengkap.

Bahkan dulu pada saat anak saya belum lahir dan usia kandungan isteri saya menginjak 6 bulan, kemudian di-usg dan terlihat di layar calon anak saya bergerak-gerak maju dan mundur, saya sangat gembira dan menikmatinya. So amazing! Kata isteri saya, kegembiraan itu tampak dari perubahan wajah saya waktu itu. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana bisa ada sosok makhluk hidup dalam perut isteri saya, dan itu adalah calon anak saya! Subhanallah, tidak henti-hentinya saya memuji keagungan Allah.

Pada awal saya ambil cuti, anak saya sedang belajar merangkak. Saat itu Ennea baru bisa mengangkat tubuhnya, tapi belum bisa mengangkat tangan dan kakinya seirama agar tubuhnya bisa dibawa bergerak ke depan atau ke belakang. Mungkin memang tangannya belum begitu kuat menahan beban tubuh, sehingga pada saat dia memindahkan tangannya ke depan tidak diimbangi dengan gerakan kakinya ke depan juga. Akibatnya Ennea langsung jatuh tengkurap kembali.

Alhamdulillah, seminggu kemudian Ennea sudah bisa merangkak. Meskipun baru pelan-pelan, istilah jawanya thimik-thimik, Ennea sudah bisa bergerak maju. Beberapa kali memang sempat dia terjatuh ke samping dan juga tersungkur, namun dengan penuh perjuangan Ennea kembali mengangkat tubuhnya dan merangkak lagi. Memang sih, setiap kali terjatuh Ennea pasti menangis. Pernah sekali dia merasa trauma akibat terjatuh saat merangkak sehingga terlihat agak takut untuk berlatih kembali. Tapi pelan-pelan saya dan isteri menenangkan Ennea, kemudian menyemangati dia terus agar tetap semangat untuk berlatih merangkak dan berdiri.

Bahagia sekali rasanya melihat Ennea tersenyum lebar bahkan setengah tertawa, pada saat dia berhasil merangkak cepat mengambil mainannya dan kami berikan tepuk tangan atas keberhasilannya itu. Terlihat Ennea puas dengan prestasinya. Dan tepukan tangan kami membuat dia percaya diri.

Minggu kemarin, malam hari setelah saya pulang dari kantor, kami bertiga; saya, isteri dan Ennea; bercengkrama di ruang menonton televisi. Ennea sedang asyik merangkak kesana kemari sambil mengejar bola mainannya. Satu saat, dia mengangkat lutut kaki kirinya agak lama kira-kira

lima

menit sambil berusaha untuk berdiri dan bergerak maju. Isteri saya berseru sambil menepuk tangan ke saya, hei lihat Ennea sudah mulai belajar berdiri. Spontan saya langsung bertepuk tangan sambil terus memberikan semangat ke Ennea dan diikuti oleh isteri saya. Ennea menoleh ke kami, dengan wajah gembira dan puas dia tertawa tanpa suara. High, high, high.. kata Ennea sambil meringis setengah tertawa. Wah, hati saya rasanya senang sekali. Bahagia banget melihat buah hati saya pelan-pelan mulai mengasah kemampuan motoriknya. Bahagia melihat anugerah dan amanah Allah ini berkembang terus untuk menjadi seorang manusia sempurna.

Alhamdulillah ya Allah, telah Kau anugerahkan kepada kami seorang anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Makhluk-MU ya Allah, yang sempurna dan tidak ada satupun yang mampu menyamai kesempurnaan ciptaan-Mu ini.

Subhanallah ya Allah, Engkau tunjukkan kepada kami kekuasaan dan segala sifat-Mu melalui ciptaan Engkau di bumi ini. Engkau gerakkan ciptaan-Mu ini kesana kemari sesuai kehendak-Mu. Engkau munculkan ghirah di hatinya untuk terus menerus belajar tanpa henti agar mampu menjadi ciptaan-Mu yang sesungguhnya.

Allahuakbar ya Allah. Ijinkanlah kami dan anak-anak kami meraih fitrah sebagai ciptaan-Mu. Karena fitrah kami ini ya Allah, adalah beribadah dan berdzikir kepada-Mu setiap saat.

Laa ilaaha illallah. Tanpa Engkau ya Allah, kami bukanlah apa-apa. Tanpa Engkau kami lumpuh ya Allah. Tiada Tuhan selain Engkau.

Banyuwangi,

27 April 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 17th, 2006

Hakikat atau Tulalit?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Hakikat atau Tulalit?

Saya punya seorang tetangga perempuan, sering bantu-bantu di rumah. Sebut saja namanya Mince. Setiap hari dia membantu isteri saya membersihkan rumah dan memasak. Usianya kurang lebih 19-an, dengan pendidikan terakhir sekolah menengah pertama.

Sebenarnya Mince adalah orang yang biasa-biasa saja, namun yang menarik bagi saya adalah kebiasaan Mince untuk menamakan benda-benda di rumah seenaknya sendiri sesuai dengan keinginan dia. Ember dia sebut sebagai gentong, sebaliknya gentong disebut ember. Bak mandi dinamakan ember yang di kamar mandi. Kolak kacang hijau dia ubah namanya menjadi angsle. Dan masih banyak lagi.

Menilik pendidikannya yang hanya sampai smp, mungkin kita menjadi mahfum. Bisa jadi karena kemampuan otak Mince memang terbatas, sehingga kemampuan dia untuk mencerna informasi dari luar juga tidak seperti yang seharusnya. Memang sih, untuk menyelesaikan satu pekerjaan, isteri saya harus berkali-kali menjelaskan caranya kepada Mince. Baru Mince mampu mengerjakannya dengan benar. Sehingga isteri saya sering mengeluh merasa capek menghadapi Mince.

Semalam, isteri saya kembali memperbincangkan kebiasaan Mince itu dengan saya. Pada awalnya, seperti biasa, kami tertawa dengan kebiasaan itu. Rasanya geli, kok bisa Mince nyeleneh dari kebiasaan kita. Aneh saja mendengar gentong disebut sebagai ember, dan menamakan bak mandi sebagai ember yang di kamar mandi. Apalagi menyebut kolak kacang hijau dengan angsle. Aneh bukan?

Tapi kemudian saya merenung, apa memang benar Mince aneh? Apa memang Mince tidak normal? Mungkinkah Mince ini sebenarnya sangat memahami hakikat tentang materi? Jauh lebih paham dibandingkan dengan saya dan isteri saya.

Saya akhirnya bilang ke isteri saya, mungkin level kita jauh di bawah Mince. Kita masih berpatokan pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, tanpa pernah berani melakukan dekonstruksi. Kita kalah dengan Mince, begitu saya katakan ke isteri. Karena Mince berani mengobrak-abrik tatanan norma, dengan menamakan kolak kacang hijau sebagai angsle. Sedangkan kita, masih saja menganggap nama gentong sebagai sebuah kebenaran yang harus diterima dan diikuti tanpa pertanyaan.

Lebih jauh lagi, malamnya setelah isteri dan anak saya tidur, saya coba merenung lagi sendirian. Saya berpikir, bukankah nama gentong, ember dan bak mandi kita peroleh sebagai warisan dari lingkungan. Begitu juga nama kolak kacang hijau, kita mengikuti apa yang dikatakan oleh lingkungan kita. Coba bayangkan, seandainya dulu nenek moyang menamakan kolak kacang hijau itu sebagai es kelapa muda. Bukankah mungkin sampai saat ini kita juga akan menyebutnya sebagai es kelapa muda? Sama anehnya dengan Mince bukan?

Artinya, nama sebuah benda sebenarnya merupakan sebuah kesepakatan bersama. Sebuah konsensi dalam suatu susunan masyarakat. Nama itu turun temurun diterima secara sadar oleh seluruh anggota masyarakat tersebut, sehingga seolah-olah memang itulah namanya. Yang namanya gentong ya seperti gentong, yang namanya ember ya seperti ember itu. Pada akhirnya konsensi itu menjelma menjadi sebuah collective unconsciousness yang secara berbarengan mengkooptasi otak para anggota masyarakat. Sebuah ketidaksadaran kolektif yang menjadi pembenaran bagi gentong disebut sebagai gentong.

Dari sudut pikir ini, bukankah Mince jauh lebih paham hakikat materi dan pemberian nama benda serta jauh lebih merdeka dibandingkan kita bukan?

Saya jadi ingat sebuah pertanyaan yang agak aneh dari salah seorang sahabat saya, dengan model jawaban pilihan ganda. Pertanyaannya adalah berapa hasil penjumlahan dari 2 + 2. Jawabannya adalah a. 1, b. 4, c. tidak tahu dan d. 8. Sebagai seorang manusia yang rasional, dengan yakin saya menjawab 4. Karena selama saya mengenyam pendidikan sekolah, semua guru matematika saya mengajarkan bahwa 2 + 2 = 4. Jawaban yang lain salah.

Ternyata menurut sahabat saya, jawaban itu salah. Yang benar adalah jawaban c yaitu tidak tahu. Tentu saya tidak terima disalahkan oleh dia, karena berdasarkan buku pintar bilangan yang saya punya, penjumlahan 2 + 2 hasilnya adalah 4. Namun hati saya mengatakan, pasti ada maksud dibalik jawaban tidak tahu itu. Akhirnya saya bertanya kepada sahabat, apa dasar dan argumentasinya sehingga jawaban dari penjumlahan 2 + 2 = tidak tahu.

Menurut sahabat saya, selama ini kita menyandarkan diri kepada pengertian dan pemahaman angka-angka dalam satuan desimal atau puluhan. Angka-angka yang kita kenal adalah angka 0, 1, 2, 3 sampai dengan angka 9. Ternyata yang kita pahami dalam pelajaran matematika sebenarnya adalah konsensus bersama untuk menyatakan suatu gagasan angka tambah, kurang, kali, bagi dan gabung dengan batasan maksimum 10 satuan termasuk angka 0. Konsensus itulah yang selama ini kita jadikan sebagai referensi dalam mengoperasikan gagasan-gagasan tetang angka tersebut. Referensi itu juga yang diterima oleh seluruh negara-negara di dunia secara mutlak. Sehingga apabila kita bertanya berapa 2 + 2 kepada orang India, Amerika, Inggris atau Somalia, jawabannya akan sama yaitu 4.

Namun harus kita pahami bahwa referensi itu merupakan sebuah kaidah yang disepakati bersama. Meskipun diterima oleh negara-negara di seluruh dunia, tidak berarti secara substansi referensi itu absolut. Karena apabila kaidah bersama itu disepakati untuk dirubah, maka jawaban yang benar atas soal 2 + 2 tidak lagi menjadi 4. Bisa saja 2 + 2 = 6, tergantung dari konsensus yang telah disepakati bersama. Artinya, kaidah bersama itu tidak lagi absolut namun menjadi relatif.

Dengan demikian, pertanyaan sahabat saya itu sebenarnya adalah pertanyaan logika. Sehingga apabila dalam pertanyaan tersebut tidak disebutkan referensinya, maka jawaban yang benar adalah “tidak tahu”.

Berangkat dari cerminan kepada diskusi dengan sahabat saya tersebut, akhirnya saya jadi menyalahkan diri saya sendiri dan isteri saya yang geli mentertawakan keanehan Mince. Sebenarnya sah-sah saja Mince menyebut gentong sebagai ember. Sama sahnya juga dengan menamakan kolak kacang hijau dengan angsle. Saya salah, karena dari awal tidak mengajak Mince untuk duduk bersama, berdiskusi dan mengambil kesepakatan bahwa gentong sebaiknya disebut sebagai gentong, ember dinamakan ember dan kolak kacang hijau adalah kolak kacang hijau bukan angsle.

Mince jauh lebih paham tentang hakikat materi dan pemberian namanya dibandingkan saya yang katanya anak sekolahan. Padahal pendidikan Mince yang hanya SMP, lebih rendah dari pendidikan saya yang katanya sarjana. Mince ternyata lebih memahami bahwa penamaan materi adalah relatif, tidak absolut. Mince lebih paham bahwa proses pemberian nama materi sesungguhnya adalah hasil kesepakatan bersama. Sehingga karena tidak ada kesepakatan dengan saya dan isteri saya, dia dengan merdeka menyebut gentong sebagai ember dan kolak kacang hijau sebagai angsle.

Jadi, sebenarnya Mince ini benar-benar memahami hakikat materi dan penamaan benda atau memang tulalit sih?

Banyuwangi, 04 April 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 15th, 2006

Bisikan Kebenaran

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Bisikan Kebenaran

“Berjalanlah dengan ide, impian dan hati. Karena ide punya kaki, impian punya sayap dan hati punya mata.” (thanks to mas Teguh Aprianto..)

Bagaimana sebenarnya kita memandang sebuah kebenaran? Apakah kebenaran itu mutlak? Atau relatifkah? Banyak pendapat yang menyatakan bahwa kebenaran itu relatif, tergantung pada masing-masing orang yang menyatakan kebenaran tersebut. Karena, menurut mereka, kebenaran yang disampaikan oleh seseorang belum tentu akan ditangkap oleh seseorang yang lain sebagai sebuah kebenaran yang sama juga. Karena, menurut mereka, posisi atau jabatan kita saat ini menentukan persepsi kita atas kebenaran tersebut. Juga karena atas nama hak asasi, kebenaran yang diyakini oleh seseorang akan dibatasi oleh kebenaran yang diyakini orang lain.

Namun bagi saya pribadi, kebenaran itu adalah mutlak. Tidak relatif. Setiap kebenaran, dalam bentuk apapun itu, tidak akan berubah dari waktu ke waktu. Karena kebenaran berasal dari Sang Pencipta semesta alam. Dalam keyakinan yang saya anut, kebenaran itu adalah sunnatullah. Yang hanya dapat dibaca dengan jelas apabila kita menanggalkan seluruh proses pemikiran rasional dalam otak. Dan mulai menggunakan hati dan nurani sebagai mata kita. Karena otak ternyata seringkali termanipulasi oleh kepentingan-kepentingan yang menyelimuti keinginan manusia. Meskipun pada dasarnya nafsu adalah fitrah manusia, namun apabila keinginan mulai menggurita di dalam hati, maka mata hati akan tertutup. Akibatnya manusia akan kesulitan membedakan kebenaran mana yang masih murni dan kebenaran mana yang sudah terkontaminasi oleh manipulasi.

Mengapa sebuah kebenaran itu dipersepsikan menjadi suatu hal yang relatif adalah lebih disebabkan karena pembacaan manusia yang berbeda dari waktu ke waktu atas kebenaran tersebut.

Contoh yang paling mudah adalah hukum alam. Hukum-hukum alam seperti gravitasi, pascal, archimedes, newton, relativitas, dan banyak hukum alam lainnya pada hakikatnya adalah mutlak benar dan tidak berubah sepanjang masa. Itulah sunnatullah.

Setiap benda di bumi ini yang dilemparkan ke atas pasti akan jatuh kembali ke tanah sesuai dengan hukum gravitasi. Jika tekanan air pada satu titik ditambah satu nominal tertentu, maka tekanan air pada titik-titik lain dalam bejana yang sama akan bertambah dengan nominal yang sama sesuai dengan hukum pascal. Apabila suatu benda dicelupkan kedalam bak mandi yang berisi air, maka benda itu akan mendapat tekanan keatas yang sama besarnya dengan berat air yang tumpah sesuai dengan hukum archimedes. Segala benda di bumi ini akan begerak akibat ada intervensi gaya dari luar sesuai dengan hukum gerak newton, yaitu bergerak konstan, bergerak lebih cepat akibat percepatan atau berhenti akibat gesekan. Menurut relativitas khusus einstein, sebuah batu yang dijatuhkan oleh penumpang kereta api yang sedang berjalan akan terlihat seperti jatuh lurus ke tanah, padahal orang di luar kereta api akan melihat batu tersebut jatuh dalam lintasan parabola. Demikian seterusnya, hukum-hukum alam akan berperilaku tetap sepanjang masa.

Namun rumusan manusia atas hukum-hukum alam tersebut akan berubah-ubah dari waktu ke waktu sesuai dengan kemampuan manusia untuk membacanya. Sebelum ditemukan rumusan baru mengenai hukum gravitasi, pascal, archimedes, newton dan relativitas, maka rumusan yang sudah ada saat inilah yang kita anggap sebagai yang benar. Namun apabila suatu saat nanti ada salah satu dari kita yang menemukan rumusan baru atas hukum-hukum alam tersebut dan lolos uji kesahihan, maka rumusan baru tersebut yang kita terima sebagai kebenaran yang baru. Rumusan lama tentu akan dianggap tidak tepat lagi. Bahkan mungkin hukum-hukum alam itu akan diberikan nama baru sama sekali berbeda dari yang lama.

Demikian relatifnya pembacaan manusia atas kebenaran, sehingga seringkali mengakibatkan gesekan-gesekan yang memunculkan konflik horisontal di antara mereka. Apalagi ditambah dengan kepercayaan buta atas kebenaran yang diyakini masing-masing, semakin menambah kerasnya pertikaian atas nama kebenaran tersebut.

Mengapa penyuaraan kebenaran hampir selalu diikuti oleh kerusuhan dan kekerasan di dalam masyarakat? Apakah tidak ada jalan lain yang jauh lebih damai untuk meraih kebenaran tanpa melalui kekerasan?

Minggu kemarin saya baru saja selesai melihat salah satu film yang dibintangi oleh Nicole Kidman dan Sean Penn. The Interpreter. Dalam film itu Nicole Kidman berperan sebagai Silvia Broome, mantan “pejuang” di Republik Matobo sebuah negara bergejolak di Afrika, yang bekerja sebagai penterjemah di kantor PBB. Sedangkan Sean Penn berperan sebagai Tobin Keller, agen secret service amerika. Film ini berkisah tentang idealisme seorang Silvia Broome yang menginginkan kedamaian melalui profesinya di PBB. Silvia pernah mengagumi presiden Matobo, Edmund Zuwanie juga mantan pejuang Matobo, yang sayangnya berubah menjadi seorang diktator setelah sekian lama menjabat sebagai presiden.

Kisah dalam film ini tidak terlalu istimewa sebenarnya. Namun menarik membaca apa yang ditulis oleh Zuwanie dalam buku biografinya. Dalam pengantar buku itu, Zuwanie mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan gaung kebenaran. Bahkan meskipun kebenaran itu disuarakan melalui bisikan, akan mampu mengalahkan persenjataan yang paling lengkap sekalipun.

Apa yang disampaikan oleh Zuwanie dalam The Interpreter saya pikir kontekstual dengan kondisi Indonesia akhir-akhir ini. Dimana banyak sekali demonstrasi yang sering berujung kericuhan. Terakhir adalah kerusuhan di Abepura Papua yang menewaskan beberapa orang aparat, tuntutan penutupan tambang PT. Freeport, serta pembakaran asrama karyawan PT. Newmont di NTB. Semua itu dilakukan atas nama kebenaran dalam persepsi para pelaku demonstrasi.

Namun apakah kebenaran dalam keyakinan mereka benar-benar berasal dari hati nurani kita yang bersumber pada Sang Pencipta? Apakah tidak terlebih dulu termanipulasi oleh kepentingan-kepentingan seseorang atau kelompok tertentu?

Inilah yang harus kita pahami terlebih dulu sebelum beranjak dari tempat duduk dan meneriakkan kebenaran yang kita yakini. Apabila keyakinan itu memang berasal dari hati nurani, tentunya akan diperjuangkan secara sungguh-sungguh dan tidak akan dilakukan dalam bungkus kekerasan yang dipaksakan. Karena dalam kekerasan yang dipaksakan masing-masing pihak tidak ada yang diuntungkan. Kedua belah pihak yang bertikai menanggung kerugian materi, moral, waktu dan jiwa. Padahal seharusnya bungkus yang digunakan adalah bungkus kedamaian dan kasih sayang. Sehingga meskipun kadang-kadang jalannya perlahan, namun terasa jauh lebih lembut, nyaman dan indah. Terkadang memang dibutuhkan suara yang keras dalam memperjuangkan kebenaran, namun tidak dipaksakan. Tapi disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang mengikuti suara kebenaran tersebut.

Berbeda apabila kebenaran yang diperjuangkan sudah dimanipulasi oleh kepentingan pribadi atau golongan tertentu. Kebenaran ini sudah didasarkan pada nafsu dan keinginan. Tak kenal ampun sama sekali. Akibatnya yang muncul ke permukaan bukanlah kasih sayang dan perdamaian, namun hati yang keras diikuti dengan otot yang tegang.

Nah, agar penyuaraan kebenaran tidak berujung pada kericuhan, mungkin seharusnya kita duduk menepi dulu dari keramaian dunia. Merenung sejenak untuk melepaskan segala kepentingan yang menggelayuti otak dan hati. Bebaskan dari segala keinginan dan nafsu agar hati kita mampu bersentuhan dengan sumber yang paling murni yaitu Sang Pencipta semesta alam. Setelah itu, baru kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kebenaran yang akan kita suarakan itu memang benar-benar sebuah kebenaran murni? Ataukah sudah tertutupi oleh manipulasi kepentingan dan keinginan golongan tertentu? Pada akhirnya Tuhan, melalui hati kita bahkan juga melalui tanda-tanda alam, akan memberikan jawabannya.

Pada saat kebenaran yang kita yakini dan perjuangkan adalah kebenaran murni dan tidak termanipulasi oleh kepentingan, maka aura yang muncul di permukaan adalah aura perdamaian dan kasih sayang. Bukan aura kekerasan. Sehingga tidak ada yang perlu ditakuti atau diragukan lagi. Pegang erat-erat kebenaran itu, perjuangkan sepenuh hati, dan suarakan dengan volume yang sesuai dengan kemampuan kita. Karena walaupun kita hanya mampu berbisik, yakinlah, seperti yang disampaikan oleh Dr. Zuwanie dalam The Interpreter, bahwa bisikan kebenaran itu akan mampu mengalahkan segala macam suara, bahkan suara dentuman meriam sekalipun.

“The gunfire around us makes it hard to hear, but the human voice is different from other sounds. It can be heard over noises that bury everything elses. Even when it’s not shouting. Even the lowest whisper can be heard over armies, when it’s telling the truth.”

(Biography of Dr. Zuwanie, dalam The Interpreter)

Banyuwangi, 27 Maret 2006

Aziz Fajar Ariwibowo

December 14th, 2006

Konsep peningkatan daya saing lulusan universitas

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Konsep peningkatan daya saing lulusan universitas

=================================================================

Tulisan ini berisi masukan ke milis unibraw@yahoogroups.com tentang konsep meningkatkan daya saing lulusan unibraw. Ditulis dan dikirim ke milis pada akhir Pebruari 2006.

=================================================================

Sori, komentarnya udah telat kali yah. Maklum, di daerah. Jadinya lelet. Hehe..

Berbicara tentang daya saing lulusan, sebenarnya saya memperoleh “positioning” setelah saya bekerja. Bukan selama saya kuliah. Mungkin lebih baik saya cerita aja yah.

Saat kuliah, saya seperti rata-rata mahasiswa lainnya. Eh, kok nyama-nyamain sih saya ini. Mungkin malah cuman saya aja kali. Hehe.. Males kuliah, seneng nongkrong, pacaran, kalau ujian pake sks, pernah dapet ip nasakom. Saya juga males baca buku. Beli buku aja gak pernah. Gak punya duit sih, kiriman dari rumah dulu cuman cukup buat makan sebulan doang. Berbeda dengan temen-temen saya, mereka pinter-pinter. Aktivis. Nongkrongnya di workshop, himpunan, senat, komisariat, atau perpustakaan. Temen saya rata-rata pinter nulis semua.

Lulus-pun saya juga butuh waktu lama. Kira-kira enam tahun. Saya angkatan 1995, diwisuda tahun 2001. Ngapain aja saya dulu ya, kuliah sambil maen-maen, makanya lama lulusnya. Hehe.. saya juga nggak nerusin kuliah ke s2. Sehingga kadar keilmuan saya juga gak bertambah sepesat temen-temen yang langsung ambil s2.

Tapi menurut saya, itu semua proses yang memang harus saya lalui. Proses yang sangat mendewasakan saya. Tapi sayangnya belum menempatkan saya pada satu “positioning” tertentu, yang ternyata saya dapatkan saat saya bekerja dan bersentuhan dengan banyak orang. Bukannya selama saya kuliah. Positioning itulah membuat saya menjadi lebih percaya diri, lebih kapabel, dan merasa lebih mampu mewujudkan mimpi saya dibandingkan orang lain.

Term “positioning” ini saya ambil dari istilah temen diskusi saya dulu. Dalam sebuah perbincangan iseng, dia berkata bahwa sebenarnya pendidikan tinggi di indonesia belum memberikan ruang bagi mahasiswanya yang mampu memancing mahasiswa untuk membentuk dirinya sendiri menjadi seseorang. Seseorang yang menempatkan dirinya pada posisi tertentu dalam hidupnya. Dan pada posisi tersebut dia mampu mengenali kelebihan dan kekurangannya. Mana yang kurang akan dia perbaiki dan sempurnakan. Sedangkan mana yang lebih akan semakin dia asah dan pertajam. Visinya juga jauh ke depan, dan terdefinisikan dengan jelas. Sehingga tidak ada satupun yang abstrak bagi dia. Itulah positioning yang saya maksud.

Mengapa positioning ini tidak saya peroleh saat saya kuliah? Sebenarnya saya sendiri juga kurang ngeh, karena saya bukan praktisi pendidikan. Tapi beberapa minggu kemarin saya diskusi dengan beberapa temen, tentang pola pendidikan di indonesia. Mungkin terkait dengan positioning itu. Jadi lebih baik hasilnya saya ceritakan juga di sini.

Kesimpulan sementaranya adalah bahwa sistem pendidikan masih mengungkung mahasiswa untuk berpikir melalui pola pikir obyektif. Definisi obyektif dan subyektif dalam diskusi kami berbeda dengan definisi pada umumnya. Paradigma obyektif ini menuntut mahasiswa untuk mengumpulkan informasi dan data sebanyak-banyaknya. Kemudian dianalisa secara sistematis, sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan. Hasil analisa diuraikan secara runtut item per item. Sehingga saringan otak yang digunakan adalah otak kiri saja. Padahal informasi yang diolah dalam otak kiri selalu akan terbatasi oleh ruang dan waktu. Keterbatasan yang diakomodasi dalam metode penelitian ilmiah. Keterbatasan inilah yang mungkin memang mampu memuaskan kita, tapi mungkin saja tidak memuaskan pihak lain sama sekali.

Menurut kami, dalam diskusi itu, seharusnya pendidikan tinggi mengembangkan paradigma yang memungkinkan penggunaan kedua belahan otak dalam saat bersamaan. Dalam bayangan kami, alur penggunaan otak kiri dan kanan kira-kira seperti ini :

Informasi ==> otak kiri ==> tesa ==> otak kanan ==> anti tesa ==> otak kiri ==> brain storming dalam otak kiri dengan pengawasan dari otak kanan ==> otak kanan ==> sintesa.

Mengapa penggunaan otak kanan menjadi sangat dibutuhkan? Karena dalam otak kanan terdapat saringan yang bersumber pada hati nurani. Pada kebenarannya Tuhan. Sunnatullah dalam istilah diskusi kami. Imajinasi-imajinasi yang terbangun dalam otak kanan mungkin terhubung dengan God spot, yang menurut danah zohar dan ian marshal akan berdenyut saat manusia berbicara tentang Tuhan.

Pola pikir yang menggunakan otak kiri namun di bawah pengawasan otak kanan itulah yang diistilahkan sebagai pola pikir subyektif.

Nah, menurut saya, selama kita masih menggunakan pola pikir obyektif maka kita belum mampu mengenali diri kita sendiri untuk kemudian duduk pada positioning tertentu. Karena semuanya masih didasarkan pada analisa yang sitematis dan terbatasi oleh ruang dan waktu. Padahal proses menyentuh diri penuh dengan getaran-getaran emosional yang tidak mungkin bisa dimengerti apabila kita hanya menggunakan otak kiri doang. Freud juga pernah bilang, bahwa mengingat masa lalu adalah bagaikan menyelam ke dalam wc yang penuh dengan kotoran kita sendiri.

Sori banget, ceritanya kebanyakan. Poin yang pengen saya sampaikan adalah bahwa kalau pengen lulusan brawijaya banyak yang sukses, kurikulum yang disusun harus memungkinkan penggunaan kedua belah otak kita secara bersamaan. Sehingga kita terbiasa untuk mengambil keputusan melalui otak kiri setelah diolah terlebih dahulu dalam otak kanan.

Masukan yang lain apa yah? Menurut saya, kerjasama dengan industri mutlak dibutuhkan biar universitas tidak hanya menjadi lembaga keilmuan saja. Tapi juga mampu membuka mata mahasiswa tentang dunia kerja nantinya. Prasarana dan sarana universitas kan seharusnya bisa dipenuhi tanpa mengubah universitas menjadi bhmn kalau hubungan universitas – industri adalah relasi mutualisme. Saling menguntungkan. Sehingga pendidikan tinggi adalah pendidikan yang terjangkau buat segenap rakyat indonesia.

Sama mutlaknya dengan kebutuhan universitas untuk terus mengikuti trend teknologi dan keilmuan yang paling mutakhir. Sehingga percepatan antara industri dan universitas akan selalu sama dan seiring, tidak ada yang meninggalkan salah satu. Pada akhirnya, muara atas kebutuhan ilmu dan teknologi paling mutakhir adalah kemampuan dosen untuk terus meng-upgrade level keilmuannya. Untuk kemudian disebarkan ke mahasiswanya.

Tentang alumni, bagi saya brawijaya adalah “salah satu” tempat saya menimba ilmu. Banyak universitas kehidupan yang juga saya datangi diluar brawijaya. Lekatnya brawijaya dalam hati saya ternyata kalah kuat dengan universitas-universitas kehidupan itu. Kalau pengen alumni lebih punya ikatan emosional dengan universitasnya, menurut saya, peran dosen di sini sangat krusial. Semakin dekat dosen dengan mahasiswanya, semakin kuat ikatan emosional yang muncul. Tapi gimana mau deket, kalau dosen-dosen masih banyak yang duduk di singgasananya tanpa mau turun dan berbicang dengan mahasiswa di lapangan rumput di depan rektorat. Padahal proses knowledge transfer akan jauh lebih efektif apabila dilakukan dalam situasi yang informal. Begitu juga dengan “pembangunan” (bukannya pembentukan) karakter personal mahasiswa yang menurut saya menjadi sangat penting sebagai bekalnya mengarungi hidup kelak. Karena karakter dibentuk dalam rumah, sedangkan tugas pendidikan tinggi adalah mengembangkan dan membangun karakter tersebut agar tidak menjadi karakter yang menghancurkan lingkungannya. Proses pembangunan karakter membutuhkan sebuah wadah yang tidak cukup hanya dengan metode classical tutorial. Tapi lebih merupakan bentuk interaksi antara dua orang yang sejajar, egaliter. Tidak ada yang lebih pinter dan tidak ada juga yang lebih bodoh.

Sekali lagi, peran dosen sangat penting di sini. Karena sebenarnya ikatan antara institusi dengan personal memang sangat susah dibentuk. Yang lebih mudah adalah ikatan emosional antar manusia.

Apalagi nantinya di dunia kerja, identitas alumni universitas akan semakin bias. Bahkan mungkin tidak dibutuhkan lagi. Meskipun tidak menutup mata, masih banyak klan klan yang di bentuk berdasarkan alumni universitasnya. Tapi saya yakin, klan-klan itu akan dengan sendirinya hancur. Karena nantinya kualitas yang bicara, bukan klan.

Semoga cukup membantu dan memberikan masukan buat kemajuan brawijaya.

Salam

Aziz Fajar Ariwibowo

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: