aziz-fajar

November 30th, 2006

Personal Planning

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

“Personal Planning”

Oleh :

Aziz Fajar Ariwibowo

“Berjalanlah dengan ide dan impian, karena ide mempunyai kaki dan impian mempunyai sayap.”

            Adalah wajar apabila kita merasa kurang dalam hidup ini. Salah satunya adalah kurang dalam hal kesejahteraan atau materi. Dengan pendapatan yang kita terima setiap bulannya, rasa-rasanya selalu saja tidak cukup. Setelah dihitung-hitung ternyata pengeluaran kita jauh lebih banyak. Akibatnya yang muncul adalah rasa tidak puas dan menderita serta pertanyaan kenapa kita harus menanggung nasib selalu dalam keadaan kekurangan. Selalu merasa kurang memang menjadi ciri khas seorang manusia.

            Mungkin ada sebagian dari kita yang memang tidak pernah merasakan kekurangan. Apapun yang diinginkan pasti akan terpenuhi. Misalnya saja anak konglomerat yang harta kekayaannya trilyunan. Namun si konglomerat sendiri sesekali pasti akan merasa kekurangan meskipun hartanya banyak. Keinginan yang tidak ada habisnyalah yang menjadi sumber utama. Karena keinginan dan kebutuhan akan selalu berbanding lurus dengan pendapatan seseorang. Semakin tinggi pendapatan kita, maka standar pemenuhan kebutuhan dan keinginan kita akan bertambah tinggi pula.

            Sebagian besar dari kita masih belum mampu menahan keinginan itu sehingga menyebabkan kita berusaha keras untuk memenuhinya. Pemenuhan keinginan tersebut akan berbeda-beda tiap orang.

Ada yang melalui cara-cara legal dan masih sesuai dengan etika masyarakat. Namun tidak sedikit pula yang menghalalkan segala cara melalui berbagai macam metode ilegal dan merugikan orang lain bahkan terkadang juga tidak masuk akal. Sayangnya hanya sebagian kecil dari kita yang mampu menahan keinginan tersebut untuk disesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Mengukur tingkat urgensitas dari kebutuhan tersebut, memilih keinginan yang paling mendesak untuk segera dipenuhi, kemudian mengukur kemampuan diri sebatas mana kita mampu memenuhi keinginan itu. Tidak banyak orang yang mampu melakukan ketiga hal tersebut, karena sangat terkait erat dengan rasa syukur kita atas karunia Tuhan. Segala penderitaan yang kita alami bersumber pada rasa. Apabila kita mampu bersyukur maka kita tidak akan pernah merasakan penderitaan. Memang tidak mudah bagi kita untuk mengendapkan rasa syukur ini ke dalam hati, tidak hanya di otak saja. Karena memerlukan keikhlasan untuk menerima apapun kehendak Tuhan atas kita dan keyakinan bahwa Tuhan tahu yang terbaik buat kita.

            Kita tidak akan terlalu jauh membahas bagaimana rasa syukur tersebut bisa muncul, karena akan membutuhkan penjelasan yang sangat panjang. Bahwa yang ingin ditekankan adalah personal planning untuk jangka waktu tertentu merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatur rencana-rencana pribadi kita sehingga dengan demikian diharapkan kita tidak lagi merasa kekurangan. Karena personal planning (perencanaan pribadi) tersebut mencakup rencana keuangan, keluarga, pendidikan, karir dan anak. Dilengkapi dengan beberapa rencana alternatif kemungkinan (contingency plan) maka personal planning tersebut sebaiknya menjadi sebuah grand design bagi hidup kita yang fleksibel dan adaptif serta mampu mengikuti perkembangan jaman. Setelah disusun, bagian terpenting dari sebuah personal planning adalah konsistensi dan disiplin dengan perencanaan yang telah kita susun sendiri. Karena tanpa kedisiplinan dan konsistensi maka personal planning tersebut hanya akan kembali masuk ke tong sampah seperti biasanya kita lakukan terhadap hal-hal yang kita anggap sebagai sampah.

            Pertanyaan yang kemudian segera mengemuka adalah apakah personal planning itu dan mengapa kita perlu menyusunnya? Penulis sendiri sebenarnya juga belum begitu memahami secara definitif apa yang dimaksud dengan personal planning itu, karena sampai dengan saat ini masih dalam proses mempelajari, memahami dan mengimplementasikan konsep personal planning itu sendiri. Namun secara garis besar dapat dijelaskan bahwa personal planning adalah sebuah perencanaan dalam lingkup diri sendiri yang menentukan titik-titik dimana kita harus mengambil keputusan penting untuk menentukan langkah sebagai dasar dan arah hidup kita selanjutnya. Seberapa penting personal planning ini bagi kita, ditentukan oleh diri kita sendiri. Apakah kita merasa butuh perencanaan hidup pribadi tersebut ataukah memutuskan untuk berjalan apa adanya seperti air mengalir. Pada tahapan selanjutnya biasanya akan diikuti dengan munculnya pertanyaan yang skeptis dan sedikit sinis, yaitu buat apa kita harus repot-repot menyusun personal planning kalau tanpa itupun hidup tetap jalan terus dan bisa sukses. Tanpa personal planningpun ternyata hampir semua keinginan kita terpenuhi. Selain itu, konon secara umum orang Indonesia memang tidak suka membuat rencana. Alasan yang diajukan adalah takut tidak mampu merealisasikan atau tidak ingin terikat dan terbebani dengan rencana-rencana tersebut. Oleh karena itu orang Indonesia, konon juga, lebih sering menghindar apabila sudah berbicara tentang perencanaan.

            Pertanyaan seperti itu tidak salah dan manusiawi sekali, karena kalau jalan hidup kita memang bisa disimplifikasi mengapa harus dibuat rumit. Hidup, mati, jodoh dan rejeki manusia memang berada di tangan Tuhan. Akan tetapi tidak berarti kita harus bersikap pasif dan tidak melakukan apa-apa kecuali menunggu datangnya kesuksesan secara tiba-tiba. Karena keberuntungan tidak milik semua manusia, hanya milik beberapa orang tertentu saja yang dipilih oleh Tuhan. Terlebih lagi kesuksesan tidak diberikan (given) begitu saja oleh Tuhan sebagai hadiah buat manusia, tetapi kesuksesan adalah sesuatu yang harus kita raih dengan usaha dan jerih payah. Kesuksesan adalah sebuah proses pencapaian (achieving) dalam perjalanan hidup setiap manusia, dimana tujuan akhirnya merupakan awal bagi sebuah pencapaian kesuksesan selanjutnya. Untuk itulah dibutuhkan sebuah perencanaan hidup yang komprehensif, matang dan sistematis.

           Sebagian besar dari kita dapat dipastikan akan memilih untuk menjalani hidup dengan tidak ngoyo seperti air yang mengalir. Karena dengan demikian kita bisa hidup lebih tenang, lebih bersahaja dan tidak ambisius. Tidak terlalu banyak target-target yang harus ditetapkan dan tidak ada keharusan pula untuk mencapainya. Segalanya berjalan sesuai dengan alurnya. Tetapi apakah menjadi ambisius itu salah? Tentu tidak, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Tanpa ambisi maka tidak akan ada greget dan keinginan untuk merubah hidup. Ambisi yang dibekali dengan perencanaan yang matang dan kemampuan yang memadai, maka ambisi tersebut menjadi suatu hal yang memang wajar untuk diwujudkan. Yang tidak wajar adalah ambisi yang tidak dilengkapi dengan perencanaan dan kesadaran atas kemampuan diri, maka ambisi tersebut hanya akan menghasilkan kecaman dan cemoohan dari lingkungan.

Sebuah personal planning yang baik diawali dari kemampuan kita untuk mengenali, memahami dan mendefinisikan tujuan hidup. Tentu yang dimaksud bukan tujuan hidup untuk masuk surga, karena masih bersifat sangat abstrak dan tidak bisa dimaterialkan. Setiap orang pasti ingin masuk surga, karena Tuhan menjanjikannya sebagai imbalan bagi manusia yang mau hidup dalam jalan-Nya. Tanpa berkeinginan untuk memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat, maka tujuan yang dimaksud adalah tujuan hidup di dunia ini. Dengan demikian target-target yang ditentukan akan menjadi lebih fokus, nyata, material, dan dapat dicapai oleh kita. Masing-masing orang memiliki tujuan hidup yang berbeda. Sebagai contoh sederhana, sebagian dari kita ingin mempunyai 2 orang anak dengan jarak 5 tahun. Namun sebagian yang lain ingin mempunyai 3 orang anak dengan jarak masing-masing 2 tahun.

Ada yang ingin bekerja pada perusahaan swasta ataupun BUMN bonafid dan meniti karir disitu sampai posisi tertinggi, namun ada juga yang lebih nyaman bekerja di perusahaan sendiri dan menjadi wiraswasta. Kemampuan mendefinisikan ini akan membuat kita menjadi fokus terhadap tujuan yang kita tetapkan sendiri, sehingga dengan sendirinya kita akan berusaha mencari jalan untuk meraihnya.

Setelah mendefinisikan tujuan, tahapan selanjutnya adalah memetakan tujuan tersebut sesuai dengan tingkat urgensitasnya. Pada tahapan ini kita dituntut untuk mampu mengenali hal mana saja dalam hidup kita yang termasuk kebutuhan dan hal mana yang termasuk keinginan. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus dipenuhi agar kita tetap bisa bertahan hidup. Contohnya adalah makan atau minum. Sedangkan keinginan adalah kebutuhan yang sudah didukung dan dipengaruhi oleh daya beli kita. Contohnya adalah makan sate, makan pizza atau minum es teh. Pengenalan atas kebutuhan dan keinginan ini sangat bermanfaat dalam personal planning sebagai dasar untuk mengkategorikan langkah-langkah yang diambil untuk meraih tujuan hidup kita sesuai dengan tingkat kepentingan pemenuhannya.

Dalam manajemen waktu dikenal adanya pemetaan permasalahan ke dalam empat kategori yaitu hal-hal mana yang penting dan mendesak, mana yang penting tapi tidak mendesak, mana yang tidak penting tapi mendesak, serta mana pula yang tidak penting dan tidak mendesak. Keempat kategori tersebut seringkali disebut sebagai kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Permasalahan yang penting dan mendesak seharusnya kita selesaikan terlebih dahulu dibandingkan dengan permasalahan yang penting namun tidak mendesak. Sedangkan permasalahan yang penting dan tidak mendesak seharusnya kita selesaikan terlebih dahulu dibandingkan permasalahan yang tidak penting dan tidak mendesak. Sedangkan permasalahan yang tidak penting namun mendesak biasanya muncul karena kesalahan dalam mengenali permasalahan-permasalahan kita. Sebagai contoh adalah bagi seorang manajer memahami karyawannya merupakan kewajiban, sehingga harus dilakukan setiap saat justru sebelum menjadi masalah. Artinya memahami karyawan termasuk dalam kuadran II, yaitu penting namun tidak mendesak. Begitu menjadi masalah, maka kondisinya berubah menjadi kuadran I. Sedangkan kuadran IV adalah pekerjaan-pekerjaan iseng atau usil yang sebenarnya tidak penting dan tidak mendesak untuk dilakukan. Empat kuadran kategori permasalahan tersebut kira-kira dapat digambarkan sebagai berikut :

Kuadran I : penting dan mendesak        Kuadran II : penting tapi tidak mendesak

Kuadran IV : tidak penting dan tidak mendesak   Kuadran III : tidak penting tapi mendesak

Pengkategorian permasalahan dalam manajemen waktu tersebut dapat kita adopsi untuk menyusun personal planning. Dari semua kebutuhan hidup dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencapai tujuan kita, kira-kira mana saja yang termasuk dalam kuadran I, II, III atau IV. Sebagai contoh adalah untuk seseorang yang baru saja menikah biasanya kebutuhan untuk membeli rumah untuk sementara dapat digantikan dengan mengontrak rumah terlebih dahulu, sedangkan kebutuhan untuk membeli kendaraan tentunya lebih mendesak dibandingkan dengan membeli perhiasan dan baju pesta. Begitu juga apabila kita ingin mengikuti kursus-kursus bahasa asing dan melanjutkan sekolah jenjang yang lebih tinggi sebagai kemampuan penunjang untuk meniti karir. Sehingga kita dapat memasukkan kebutuhan mengontrak rumah dan membeli kendaraan ke dalam kuadran I (penting dan mendesak), membeli rumah serta kursus bahasa dan sekolah termasuk dalam kuadran II (penting, tidak mendesak), sedangkan membeli perhiasan dan baju pesta termasuk dalam kuadran IV (tidak penting dan tidak mendesak). Pengelompokan ini bisa jadi berbeda untuk masing-masing orang karena dipengaruhi oleh kondisi keuangan keluarga dan kondisi-kondisi khusus yang muncul secara tiba-tiba, sehingga keputusan yang diambil juga akan berbeda. Namun pada dasarnya kebutuhan yang harus didahulukan pemenuhannya adalah kebutuhan dalam kuadran I kemudian kuadran II.

Pada kenyataannya seringkali kita masih salah dalam mengenali dan memetakan kebutuhan. Hal-hal yang seharusnya masuk dalam kuadran III atau IV tanpa sadar kita kategorikan dalam kuadran I atau II yang berakibat terabaikannya titik-titik penting dalam hidup kita yang seharusnya segera kita penuhi. Padahal titik-titik penting (milestones) tersebut sangat menentukan langkah-langkah yang akan kita ambil dalam implementasi personal planning kita. Untuk itulah diperlukan kejelian untuk mengenali dan memetakan kebutuhan-kebutuhan hidup agar tidak salah dalam mengambil keputusan.

Apabila seluruh kebutuhan sudah dimasukkan dalam kategorinya sesuai dengan tingkat urgensinya masing-masing, maka selanjutnya adalah saatnya untuk mengimplementasikan personal planning tersebut dalam kehidupan nyata. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dalam proses implementasi ini kita dituntut untuk konsisten dan disiplin. Kita harus patuh dan taat terhadap aturan-aturan yang telah kita susun sendiri. Tanpa konsistensi dan disiplin maka personal planning hanya akan menjadi sampah. Disamping itu sebaiknya kita juga menyediakan sistem reward – punishment yang jelas untuk setiap keberhasilan dan kegagalan dalam proses tersebut. Manjakan dan senangkan diri sendiri apabila kita berhasil mencapai satu target sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan. Sebaliknya, hukum diri sendiri dengan mengurangi kesenangan dan kemanjaan yang kita terima sebagai bentuk peringatan agar tidak diulangi lagi di kemudian hari. Sehingga kita terpacu untuk mencapai keberhasilan sebanyak-banyaknya dan mengurangi kegagalan semaksimal mungkin.

Bentuk tuangan personal planning ini sangat fleksibel, bisa dalam bentuk tulisan atau dalam bentuk diagram balok yang biasa digunakan dalam manajemen proyek. Mana yang kita pilih tergantung kebiasaan kita. Namun bentuk kedua lebih direkomendasikan karena lebih sistematis, menyajikan poin demi poin, diketahui waktunya, mudah diperbandingkan antara target satu dengan target yang lain, bisa dilihat secara keseluruhan sebagai satu kesatuan yang utuh, serta secara visual juga lebih mampu menarik perhatian dibandingkan dengan tuangan hanya dalam bentuk tulisan.

            Selain konsistensi dan disiplin, satu hal penting lagi yang perlu diperhatikan adalah diperlukan fungsi kontrol dari pihak ketiga atas proses implementasi personal planning. Kontrol ini akan menjadi semacam alarm yang selalu akan berdering setiap pagi dan mengingatkan sudah sampai mana perjalanan hidup kita berdasarkan personal planning tersebut. Fungsi ini bisa dijalankan oleh salah satu anggota keluarga terdekat, yaitu orang tua atau pasangan hidup. Kemudian setiap akhir tahun, biasakan untuk melakukan kontemplasi atau perenungan diri sebagai evaluasi atas segala sesuatu yang telah kita lakukan selama ini. Apakah sudah sesuai dengan rencana, seberapa besar penyimpangan atas rencana tersebut, lalu seberapa banyak keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian target, mengapa kegagalan tersebut terjadi, kemudian lakukan penyesuaian personal planning dengan perkiraan kemampuan diri untuk mencapainya tanpa merubah target-target besar kita. Sehingga personal planning yang telah disusun tetap berjalan dalam relnya.

            Personal planning adalah salah satu metode dari sekian banyak cara yang kita gunakan dalam proses untuk mencapai tujuan. Sebagai sebuah proses maka akan sangat wajar apabila dalam perjalanannya terjadi banyak perubahan-perubahan yang memang sengaja kita lakukan berdasarkan hasil evaluasi ataupun perubahan yang terjadi diluar kuasa kita karena kehendak Tuhan. Pada tahapan ini dibutuhkan kesadaran untuk berbesar hati dalam menerima kegagalan sebagai konsekuensi logis dari sebuah proses. Namun kegagalan tersebut jangan sampai membuat kita putus asa karena kita harus tetap yakin bahwa Tuhan akan selalu menghargai segala proses pencapaian tujuan yang telah kita lakukan selama ini. Karena Tuhan tidak pernah tidur.

            Bagaimana pendapat anda?

“Keep on struggling, then you will find the amazing of believing.”

(Sumber : pengalaman pribadi dan hasil diskusi dengan beberapa orang teman)

Banyuwangi, September 2004.

November 29th, 2006

Life in Hand

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

“Life in Hand”

Oleh : Aziz Fajar Ariwibowo

Diantara sekian banyak iklan gsm provider di televisi, salah satu iklan yang menurut penulis memiliki arti filosofis yang cukup dalam adalah iklan komersial milik pro-XL dengan mottonya yang unik yaitu life in hand. Tanpa niatan untuk bermaksud ikut mempromosikannya, penulis mencoba menyampaikan ide dan gagasan melalui mediasi muatan filosofis yang terkandung dalam motto tersebut sebagai gerbang masuknya.

Dunia dalam genggaman, begitulah Pro-XL mengkomunikasikan positioningnya kepada konsumen. Bahwa dengan menggunakan Pro-XL maka akan banyak kemudahan yang diperoleh. Kemudahan tersebut misalnya dalam hal berkomunikasi, transaksi keuangan maupun informasi. Hanya dengan sentuhan jari jemari pada keypad ponsel kita, maka kemudahan-kemudahan tersebut dengan sendirinya melingkupi diri kita. Demikian mudahnya, seolah-olah segalanya dapat kita atur dengan tangan. Seolah-olah dunia dalam genggaman.

Life in hand, sebuah motto layanan yang sarat dengan semangat perubahan mandiri. Sebuah spirit yang menyatakan bahwa sebuah perubahan berada dalam pengendalian diri pribadi. Spirit tersebut bertolak dari kemampuan kita untuk mengendalikan diri sendiri dan lingkungan sekitar kita. Banyak metode yang dapat digunakan untuk melakukan perubahan melalui pengendalian terhadap sekitar. Mulai dari pemanfaatan kekerasan secara fisik, negosiasi, pendekatan secara budaya dan psikologis maupun daya pengaruh batin dan hipnotis. Salah satu metode yang sangat menarik bagi penulis karena sangat kental dengan nuansa spiritual namun tetap ilmiah dan masuk akal adalah metode yang ditawarkan oleh James Redfield dalam novelnya The Celestine Prophecy. Metode ini disebut drama pengendalian, yang dapat didefinisikan sebagai sebuah cara atau mekanisme bersikap seseorang dalam mengendalikan orang dan situasi agar memperoleh energi.

Pada setiap makhluk dan benda di alam semesta ini termasuk manusia mempunyai energi dengan kekuatan, spektrum dan aura yang berbeda-beda. Perbedaan kekuatan tersebut tidak berarti bahwa yang kuat akan secara otomatis akan menguasai yang lemah, tapi bisa saja sebaliknya. Seperti halnya tubuh manusia yang membutuhkan makanan agar tetap kuat maka spiritual kitapun juga membutuhkan makanan. Suplai makanan untuk tubuh jasmani diperoleh dari sumber-sumber karbohidrat, protein, vitamin dan zat lain yang dibutuhkan oleh manusia. Sedangkan makanan spiritual manusia berupa energi, yang diperoleh melalui interaksi dengan berbagai sumber di sekitar kita (manusia dan alam) yang tidak akan pernah habis. Cara paling mudah untuk memperoleh makanan (energi) tersebut adalah dengan mengambil energi dari orang lain yang dapat dilakukan tanpa disadari (secara otomatis) selama berlangsungnya interaksi. Proses tersebut menimbulkan efek berupa terjadinya peperangan atau perebutan energi. Yang mempunyai energi lemah akan mampu menguasai dan mengendalikan yang berenergi kuat asalkan bisa menyerap energi lawan sehingga membuat energi sendiri menjadi lebih kuat.

Dalam berinteraksi dengan orang lain tanpa kita sadari sering kali kita terlibat "peperangan" ini, contoh kecil, pada saat kita berdebat, kedua pihak akan berusaha mengendalikan/mengontrol pihak lain dengan cara dan argumen tertentu, dan bila salah satu pihak "menang", berhasil meyakinkan lawan bicaranya bahwa dia benar, maka energi pihak yang "kalah" akan mengalir kepadanya. Dalam situasi ini, yang kalah akan merasa terkuras, lemah dan agak kalut pikirannya. Pihak "pemenang" sebenarnya tidak menyadari hal ini, dia hanya melakukan apa yang membuatnya merasa paling kuat, yang kita ketahui hanyalah pada saat kita dikendalikan orang lain kita merasa lemah, dan saat mengendalikan orang lain kita merasa lebih enak. Apa yang tidak kita sadari ialah perasaan lebih enak ini menyebabkan orang lain rugi, karena energi mereka yang kita rebut.

Empat drama pengendalian diri mulai dari spektrum yang paling agresif ke yang paling pasif yaitu :

1.       Drama pengendalian diri intimidator,

2.       Drama pengendalian diri interogator,

3.       Drama pengendalian diri bersikap dingin, dan

4.       Drama pengendalian diri diriku yang

malang

.

Setiap manusia mempunyai kecenderungan pada salah satu drama pengendalian tersebut tersebut dan tidak pernah ada seorangpun yang memiliki lebih dari satu drama. Masing-masing drama dapat dicirikan dengan perilaku tertentu dimana mempunyai tujuan untuk menyedot perhatian orang lain sepenuhnya pada diri sendiri. Sedemikian sehingga pada tahapan tertentu pihak lawan akan dengan sukarela ataupun terpaksa melakukan perbuatan yang kita inginkan. Masing-masing drama pengendalian akan dijelaskan secara singkat dalam paragraf-paragraf berikut di bawah ini.

Drama pengendalian diri intimidator adalah salah satu contoh metode penguasaan orang lain melalui intimidasi, penekanan dan kekerasan. Seseorang yang menggunakan drama tersebut akan memperoleh energi dengan memanipulasi lingkungannya secara agresif, dan secara langsung memaksa orang menaruh perhatian kepada mereka. Misalnya mengancam secara verbal atau fisik. Karena takut terjadi sesuatu yang jelek pada dirinya maka orang terpaksa memperhatikannya dan dengan begitu memberikan energi yang dimilikinya kepada lawan.

Drama pengendalian diri interogator menggunakan metode pengajuan pertanyaan-pertanyaan yang cenderung bersifat menyalahkan dan interogatif Seseorang yang menggunakan drama pengendalian ini memperoleh energi dari lingkungannya dengan membangun sebuah drama berisi pertanyaan-pertanyaan dan menjelajahi dunia orang lain dengan tujuan yang spesifik, yaitu untuk menemukan sesuatu yang salah. Segera setelah menemukan itu, mereka mengkritik kehidupan orang lain. Bila strategi ini berhasil, orang yang dikritik itu ditarik kedalam drama tersebut. Mereka tiba-tiba menjadi sadar diri dan memperhatikan apa yang dilakukan serta dipikirkan sang interogator, agar tidak melakukan kesalahan yang akan dilihat olehnya. Rasa hormat psikis memberikan interogator energi yang diinginkan.

Drama pengendalian diri bersikap dingin menggunakan cara menarik diri dan tertutup untuk memperoleh perhatian dari orang lain. Seseorang yang menggunakan drama jenis ini akan memperoleh energi dari lawannya dengan menciptakan didalam angan-angannya suatu tempat yang penuh misteri dan rahasia. Kepada dirinya sendiri dia mengatakan harus bersikap hati-hati, tapi sebetulnya berharap seseorang akan ditarik kedalam drama untuk kemudian mencoba mencari tahu apa yang tengah terjadi terhadap dirinya. Ketika itu terjadi pun, sikap akan tetap terlihat samar-samar, sehingga begitu memaksa orang lain untuk berjuang, menggali dan mencoba melihat perasaan yang sebenarnya. Semakin lama membuat orang lain tertarik, menaruh perhatian perhatian dan bertanya-tanya, makin banyak energi yang diterima.

Drama pengendalian diri diriku yang

malang

mencoba menarik perhatian orang lain dengan cara memposisikan diri sebagai korban bahkan memberikan ancaman untuk menyakiti diri sendiri. Seseorang yang menggunakan drama pengendalian ini akan mencoba mengendalikan orang lain dengan membuat orang lain merasa bersalah dan bertanggung jawab akan sesuatu yang mengerikan yang tengah terjadi terhadapnya. Situasi seperti itu sengaja dikondisikan dan akan tetap berlangsung apabila orang lain tidak membantu mereka. Apapun yang mereka katakan dan lakukan akan menempatkan orang lain selalu tidak berbuat cukup baginya.

Drama pengendalian diri ini dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil kita dalam lingkungan keluarga dimana dimulai dari masa kanak-kanak, semasa berusaha untuk memperoleh perhatian, yang secara otomatis mengalirkan energi ke arah kita. Apabila metode yang kita gunakan berhasil maka kita akan mengulanginya berkali-kali dalam kehidupan sehari-hari, tanpa kita menyadarinya. Sejalan dengan teori unconsciousness-nya Carl Jung, metode tersebut yang dinamakan sebagai drama pengendalian diri akan mengendap dalam alam bawah sadar kita menjadi patron perilaku dalam kehidupan kita selanjutnya untuk memperoleh perhatian orang lain.

Masing-masing drama pengendalian diri tersebut sebagai sebuah perilaku memiliki resiko yang tidak mengenakkan terhadap penerima perilaku. Peperangan dan perebutan energi yang terjadi menimbulkan resiko negatif dalam interaksi dengan lingkungan, karena muncul rasa lemah bagi yang dikuasai dan rasa kuat atau enak bagi yang menguasai. Penggunaan salah satu drama pengendalian, secara sadar ataupun tidak sadar karena kebiasaan, untuk melakukan sebuah perubahan tentunya akan berakibat kontraproduktif bagi perubahan yang kita inginkan tersebut. Namun ketidaknyamanan dan kontraproduksi dapat diatasi dengan jalan tidak merebut energi lawan tapi mencoba berhubungan langsung dengan sumber energi di alam yang tidak akan pernah habis yaitu Tuhan.

Adalah bukan pekerjaan yang gampang untuk meninggalkan drama pengendalian diri sebagai metode yang kita gunakan dalam berkomunikasi dengan orang lain karena telah menjadi kebiasaan kita selama berinteraksi dengan lingkungan serta telah mengendap lama dalam alam bawah sadar kita. Selama drama pengendalian masih melingkupi diri kita, maka proses keterhubungan dengan sumber energi tersebut akan terhalang. Namun apabila kita mampu membuka dan memperlebar nuansa kasih diri, maka drama pengendalian kita akan beralih secara otomatis pada bentuk lain berupa komunikasi yang hangat tanpa diselimuti oleh atmosfer permusuhan dan ancaman. Pembukaan dan perlebaran nuansa kasih diri merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu cukup lama.

Langkah awal dalam proses berhubungan dengan sumber energi abadi yaitu Tuhan adalah dengan mengenali dan memahami drama pengendalian diri sendiri terlebih dahulu. Pada tahapan ini dibutuhkan kontemplasi sehingga akan diketahui proses terbentuknya drama tersebut dalam lingkungan keluarga semasa kita masih kecil. Pemahaman dan pengenalan diri merupakan bekal penting untuk melangkah ke tahap selanjutnya yaitu berhubungan dengan sumber energi. James redfield menjelaskan dalam novelnya bahwa kita dapat terhubung dengan sumber energi apabila kita mampu mengenali tahapan evolusi spiritual manusia melalui 9 wawasan mulai dari wawasan pertama mengenai kejadian-kejadian kebetulan hingga wawasan kesembilan mengenai keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Penulis tidak akan membahas evolusi spiritual tersebut karena membutuhkan penjelasan yang sangat panjang. Yang terpenting adalah proses kontemplasi awalnya yaitu mengenali drama pengendalian diri sendiri.

Kontemplasi untuk memahami drama pengendalian tentu akan membutuhkan waktu yang cukup lama. Karena dalam kontemplasi tersebut kita mencoba menggali pengalaman-pengalaman masa kecil pada saat kita berusaha menarik perhatian keluarga dan lingkungan sekitar. Perjalanan virtual ini bisa sangat menyenangkan apabila pengalaman masa kecil kita cukup menyenangkan, namun bisa juga akan menyiksa diri kita apabila ternyata masa kecil kita penuh dengan pengalaman pahit dan tidak menyenangkan. Menurut Sigmund Freud, penggalian masa lalu bisa diibaratkan sebagai masuk ke lobang WC dan menyelam ke dalam kotoran kita sendiri. Lamanya waktu yang dibutuhkan oleh masing-masing orang untuk melakukan kontemplasi tidak akan sama, karena sangat dipengaruhi oleh pengalaman spiritualnya selama ini, kemauan untuk berubah, serta kemampuannya untuk bertahan dalam proses penggalian masa lalu.

Sesulit-sulitnya kita menggali masa lalu, tetap saja kita dapat melakukan rekayasa terhadap proses tersebut. Rekayasa bukan dalam arti bahwa kita dapat dengan seenaknya menyusun cerita bohong-bohongan tentang masa lalu. Akan tetapi rekayasa ini lebih berorientasi pada akselerasi proses. Percepatan waktu penggalian masa lalu ini dapat dilakukan apabila kita mampu menanamkan kesadaran dalam benak kita bahwa perubahan atas diri hanya dapat dilakukan oleh diri kita sendiri, bukan oleh orang lain, keadaan ataupun keberuntungan. Selama masa kontemplasi, kita harus meyakini bahwa perjalanan virtual mengenang masa lalu adalah perjalanan yang sangat menyenangkan. Kita harus mampu memfokuskan niat kita pada upaya untuk mentransformasikan drama pengendalian diri yang selama ini kita gunakan menjadi sebuah bentuk komunikasi baru yang hangat dan penuh cinta kasih. Komunikasi yang tidak menimbulkan perebutan energi dengan lingkungan. Karena kita telah terhubung langsung dengan sumber energi yang tidak akan pernah habis, yaitu Tuhan. Energi dari Tuhan akan terus mengalir ke diri kita tanpa kita minta dan tanpa harus diperebutkan.

Bentuk komunikasi baru tersebut akan membawa nuansa penuh persahabatan di dalam lingkungan, yang tidak akan pernah kita temui apabila kita masih menggunakan salah satu drama pengendalian diri sebagai metode komunikasi kita. Segala ketidaknyamanan yang selama ini muncul sebagai akibat dari mekanisme drama pengendalian diri akan sirna. Komunikasi yang berlangsung bukan dalam konteks saling mengalahkan dan menguasai namun saling menguatkan dan saling mengisi. Sehingga kesadaran yang muncul adalah untuk saling mengerti dan memahami kebutuhan dan kepentingan masing-masing.

Apabila kita kembalikan dalam konteks perubahan seperti yang dibicarakan di awal tulisan ini, maka sebuah perubahan akan dapat kita ciptakan apabila kita mampu berkomunikasi dengan komunitas, dimana perubahan tersebut akan berlangsung, dalam suasana yang penuh cinta kasih, bersahabat, dan saling mengerti. Kemampuan tersebut kita peroleh apabila kita sudah tidak lagi menggunakan drama pengendalian diri, namun langsung berhubungan dengan sumber energi abadi. Transformasi diri, itulah kuncinya. Semangat untuk melakukan perubahan yang bermuara pada pengendalian dan penguasaan diri. Kenali dan kuasai diri sendiri, maka kita akan mampu menguasai orang lain. Banyak sekali jargon yang menyatakan hal yang sama, bahwa sebuah perubahan dapat kita ciptakan apabila kita mampu merubah diri sendiri terlebih dahulu. Seperti A’a Gym katakan bahwa kunci keberhasilan adalah 3 M yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai saat ini juga.

Bagaimana pendapat anda ?

“…you’ve got to stand up straight, carry your own weight, these tears are going nowhere, baby…” (Stuck in a moment – U2)

(Sumber : The Celestine Prophecy – James Redfield dan hasil diskusi dengan beberapa teman.)

Banyuwangi, Agustus 2004.

November 24th, 2006

Manusia, Komunikasi dan Manajemen

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

“Manusia, Komunikasi dan Manajemen”

Memahami manusia sebagai entry gate dalam memperbaiki komunikasi

Oleh : Aziz Fajar Ariwibowo

Salah satu aspek penting dalam manajemen adalah komunikasi. Melalui komunikasi yang efektif dan efisien, manajemen dapat diaplikasikan secara efektif pula dan mampu menghasikan output yang optimal. Manajemen adalah sebuah proses, dimana segala sumber daya (man, money, material, machine, methods) yang dimiliki oleh sebuah organisasi dipergunakan seoptimal mungkin untuk memperoleh hasil yang maksimal.

            Komunikasi adalah kunci dalam efektivitas manajemen. Hasil komunikasi membentuk persepsi masing-masing personal yang akan sangat mempengaruhi keputusan lanjutan yang diambil. Komunikasi yang buruk akan menciptakan persepsi yang buruk pula. Sebaliknya, komunikasi yang bagus akan meciptakan persepsi yang bagus dalam benak seseorang. Sedemikian berpengaruhnya metode komunikasi yang dipergunakan dalam proses manajemen untuk menentukan hasil yang optimal, maka kita dituntut agar mampu memahami manusia dengan bermacam ragam karakternya. Kita dituntut untuk mampu menyampaikan pesan kepada manusia lain dengan metode yang efektif dan efisien.

            

Ada

beberapa prinsip dalam usaha memahami manusia yang harus diketahui sebelum kita melakukan komunikasi dengan orang lain agar proses komunikasi menjadi lebih efektif. Tiga prinsip tersebut akan dijelaskan dalam paragraf-paragraf berikut di bawah ini.

Prinsip 1 : Bagaimana kita belajar dan membeli.

Seorang manusia melakukan pengenalan atas dunia sekelilingnya menggunakan indera yang dimiliki. Indera mata (penglihatan) memiliki peran terbesar dalam proses pembelajaran tersebut sebesar 83%, disusul oleh telinga (pendengaran) sebesar 11%, kemudian hidung (penciuman) sebesar 3,5%, telapak tangan dan kulit (sentuhan) sebesar 1,5% dan terakhir adalah rasa sebesar 1%.

Hal ini berarti bahwa contoh perilaku dari seorang pemimpin akan sangat berpengaruh dalam membentuk perilaku bawahan dibandingkan apabila sang pemimpin hanya berbicara saja. Sebagai contoh, Deddy Corbuzier dalam sebuah acara ilusinya, mengajak penonton di studio untuk melatih konsentrasi. Dia meminta agar penonton memegang bagian tubuh masing-masing yang disebutkan olehnya, dengan catatan mereka harus berkonsentrasi penuh mendengarkan dan melihat kepada Deddy. Pada awalnya, Deddy selalu memegang bagian tubuhnya sendiri sama seperti dengan yang dia sebutkan. Sehingga penonton juga tidak ada yang salah dan masih bisa berkonsentrasi dengan baik. Namun pada saat Deddy memegang bagian tubuh yang berbeda dengan yang disebutkan, maka para penonton mulai salah memegang bagian tubuhnya masing-masing. Telinga yang disebutkan oleh Deddy, sedangkan Deddy sendiri memegang pipi, maka secara tidak sadar penonton akan memegang pipinya sendiri. Contoh tersebut merupakan bukti bahwa penglihatan seseorang sangat mempengaruhi tindakan yang akan diambil.

Selain itu, dalam konteks marketing, segala bentuk produk yang akan kita jual harus mempunyai kemasan yang eye catching sehingga cepat menyita perhatian konsumen. Apabila produk tersebut menyenangkan dilihat, maka dengan mudah kita bisa mempengaruhi konsumen untuk membelinya. Percayalah bahwa falling in love from the first sight tidak hanya berlaku bagi remaja dengan cinta monyetnya, tapi juga berlaku dalam bisnis.

            Prinsip nomor 1 ini pada dasarnya mencoba menyampaikan moral of story kepada kita bahwa menjadi seorang pemimpin yang sukses adalah pemimpin yang mampu memberikan contoh kepada bawahannya.

Prinsip 2 : Bagaimana kita mengingat informasi.

            Begitu pula pada saat manusia berinteraksi dengan lingkungannya, metode yang digunakan selama proses interkasi tersebut mempengaruhi seberapa besar informasi yang mampu diserap dan diingat. Sebanyak 90% informasi mampu diserap oleh otak dari apa yang kita katakan ketika kita melakukan sesuatu, kemudian sebanyak 70% informasi mampu diserap oleh otak dari apa yang kita katakan ketika kita berbicara. Sedangkan informasi dari apa yang kita lihat dan dengar mampu kita serap sebanyak 50%, 30% informasi dari apa yang kita lihat, 20% informasi dari apa yang kita dengar dan hanya 10% informasi dari yang kita baca.

            Sejalan dengan prinsip nomor 1 bahwa indera mata (penglihatan) memiliki peran terbesar (83%) dalam sebuah proses pembelajaran, maka pada prinsip nomor 2 dijelaskan otak manusia mampu menerima, menyaring dan mangingat beragam informasi yang disampaikan kepada kita melalui penjelasan yang secara langsung mengiringi sebuah tindakan nyata. Daya serap otak melalui metode tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan metode lain seperti hanya melalui penjelasan lisan semata meskipun dari orang pertama, ataupun dari pengumuman yang kita tempel di papan pengumuman.

            Oleh karena itu banyak sekali komunikasi dalam manajemen yang tidak berhasil karena sang manajer hanya mengandallkan sistem komunikasi secara tertulis ataupun hanya melalui lisan. Dalam sebuah organisasi, koordinasi yang dilakukan melalui sebuah pertemuan mutlak tetap diperlukan. Namun itu saja tidak cukup, karena agar komunikasi berjalan lancar dibutuhkan juga perilaku yang membumi dari atasan. Sehingga segala komunikasi lisan tidak hanya melulu menjadi sampah mampu namun mampu terbukti secara nyata.

            Prinsip nomor 2 ini memberikan moral of story kepada kita bahwa proses komunikasi dalam manajemen membutuhkan perilaku-perilaku yang membumi dari atasan sebagai eye catcher sehingga segala penjelasan lisan ataupun tulisan yang diberikan dilihat oleh bawahan sebagai hal yang faktual dan memang membutuhkan perhatian.

Prinsip nomor 3 : Efektivitas metode instruksi.

            Salah satu bentuk komunikasi vertikal dalam manajemen adalah pemberian instruki dari atasan kepada bawahannya. Banyak ragam metode yang digunakan oleh seorang manajer dalam bentuk komunikasi tersebut.

Ada

manajer yang merasa nyaman memberikan perintah melalui tulisan ataupun lisan saja. Namun sebaliknya ada pula manajer yang merasa lebih nyaman apabila memberikan instruksi kepada bawahannya hanya dengan tindakan saja tanpa penjelasan yang mencukupi. Tabel berikut di bawah ini memberikan ilustrasi kepada kita bagaimana metode instruksi yang digunakan oleh seorang pemimpin agar mampu direkam oleh alam bawah sadar sehingga tidak akan diulangi kembali oleh bawahannya.

Metode

Instruksi

Daya ingat

3 jam kemudian

Daya ingat   3 hari kemudian

Hanya memberi tahu

70%

10%

Hanya memperlihatkan

72 %

20%

Memberi tahu & memperlihatkan

85 %

65%

            Instruksi yang diberikan hanya melalui lisan atau tulisan dan bersifat pemberitahuan mampu diingat oleh bawahan sebesar 70% dalam jangka waktu 3 jam kemudian, namun hanya membekas 10% dalam ingatan bawahan dalam jangka waktu 3 hari. Lalu instruksi yang diberikan hanya melalui tindakan saja tanpa ada penjelasan yang mencukupi akan mampu diingat sebanyak 72% dalam 3 jam kemudian namun hanya sebanyak 20% setelah 3 hari kemudian. Sedangkan instruksi yang diberikan melalui sebuah tindakan disertai dengan penjelasan yang mencukupi akan mampu diingat sebanyak 85% setelah 3 jam kemudian serta mampu tertanam sebesar 65% dalam benak bawahan setelah jangka waktu 3 hari kemudian.

            Seorang atasan yang mampu memberikan instruksi didukung oleh tindakan nyata dan disertai penjelasan yang mencukupi memang membutuhkan pengetahuan dan pemahaman yang cukup mendalam atas permasalahan yang sedang terjadi. Cukup berat bagi seorang manajer untuk bisa memahami seluruh permasalahan yang terjadi dalam organisasinya. Namun itulah tuntutan sebagai seorang problem solver, menyelesaikan masalah dengan baik tanpa menimbulkan potensi munculnya permasalahan yang lain. Pada titik ini proses mengalami menjadi sangat penting, dimana proses tersebut mampu membentuk karakter seseorang melalui alam bawah sadarnya.

            Prinsip nomor 3 ini menyampaikan kepada kita bahwa instruksi yang diberikan oleh atasan akan mampu dilaksanakan secara efektif oleh bawahan apabila diberikan tidak hanya melalui metode pemberitahuan secara lisan ataupun tertulis namun juga didukung oleh kemampuan teknis sang atasan dalam upaya penyelesaian permasalahan. Sehingga atasan mampu memberikan contoh kepada bawahan secara teknis bagaimana prosedur yang seharusnya untuk melaksanakan instruksi tersebut.

            Komunikasi merupakan unsur penting dalam hidup manusia yang sangat berpengaruh terhadap persepsi masing-masing dalam menentukan sudut pandangnya atas sebuah permasalahan. Persepsi inilah yang menjadi dasar dalam setiap pengambilan keputusan. Demikian juga dalam manajemen, dimana segala prinsip dalam manajemen (planning, organizing, actuating dan controlling) tidak akan berarti apa-apa tanpa komunikasi yang efektif. Komunikasi menjadi efektif apabila kita mampu memahami orang lain sebagai manusia.

            Apabila kita melihat secara keseluruhan pada 3 prinsip dalam memahami manusia tersebut di atas, maka benang merah yang dapat diambil adalah bahwa seorang atasan yang sukses dituntut untuk mampu melakukan komunikasi interaktif antara atasan dengan bawahan. Sehingga bawahan mempunyai kesempatan untuk melihat metode-metode penyelesaian masalah yang diambil oleh atasan sebagai acuan bagi dia. Sebaliknya sang atasan juga mempunyai waktu untuk memberikan arahan langsung kepada bawahan berdasarkan kondisi faktual yang ada pada saat itu. Kondisi seperti itu akan dapat dicapai apabila atasan bersedia turun dari singgasananya di langit dan berjalan-jalan di atas bumi. Kepala boleh berada di atas langit, namun kaki tetap menginjak bumi. Dalam film Godfather, hal tersebut seiring dengan prinsip kepemimpinan yang dianut oleh para pentolan mafia di Italia, yaitu manage by wandering around.

            Satu hal terpenting yang harus selalu diperhatikan dalam setiap proses manajemen adalah bahwa segala bentuk komunikasi, arahan ataupun instruksi dari atasan kepada bawahan, akan menjadi efektif apabila disertai dengan tindakan nyata secara konsisten dan argumentatif oleh atasan.

(Sumber : Skill with People – Les Giblin)

Banyuwangi, Agustus 2004.

  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: