Personal Planning
“Personal Planning”
Oleh :
Aziz Fajar Ariwibowo
“Berjalanlah dengan ide dan impian, karena ide mempunyai kaki dan impian mempunyai sayap.”
Adalah wajar apabila kita merasa kurang dalam hidup ini. Salah satunya adalah kurang dalam hal kesejahteraan atau materi. Dengan pendapatan yang kita terima setiap bulannya, rasa-rasanya selalu saja tidak cukup. Setelah dihitung-hitung ternyata pengeluaran kita jauh lebih banyak. Akibatnya yang muncul adalah rasa tidak puas dan menderita serta pertanyaan kenapa kita harus menanggung nasib selalu dalam keadaan kekurangan. Selalu merasa kurang memang menjadi ciri khas seorang manusia.
Mungkin ada sebagian dari kita yang memang tidak pernah merasakan kekurangan. Apapun yang diinginkan pasti akan terpenuhi. Misalnya saja anak konglomerat yang harta kekayaannya trilyunan. Namun si konglomerat sendiri sesekali pasti akan merasa kekurangan meskipun hartanya banyak. Keinginan yang tidak ada habisnyalah yang menjadi sumber utama. Karena keinginan dan kebutuhan akan selalu berbanding lurus dengan pendapatan seseorang. Semakin tinggi pendapatan kita, maka standar pemenuhan kebutuhan dan keinginan kita akan bertambah tinggi pula.
Sebagian besar dari kita masih belum mampu menahan keinginan itu sehingga menyebabkan kita berusaha keras untuk memenuhinya. Pemenuhan keinginan tersebut akan berbeda-beda tiap orang.
Ada yang melalui cara-cara legal dan masih sesuai dengan etika masyarakat. Namun tidak sedikit pula yang menghalalkan segala cara melalui berbagai macam metode ilegal dan merugikan orang lain bahkan terkadang juga tidak masuk akal. Sayangnya hanya sebagian kecil dari kita yang mampu menahan keinginan tersebut untuk disesuaikan dengan kemampuan diri sendiri. Mengukur tingkat urgensitas dari kebutuhan tersebut, memilih keinginan yang paling mendesak untuk segera dipenuhi, kemudian mengukur kemampuan diri sebatas mana kita mampu memenuhi keinginan itu. Tidak banyak orang yang mampu melakukan ketiga hal tersebut, karena sangat terkait erat dengan rasa syukur kita atas karunia Tuhan. Segala penderitaan yang kita alami bersumber pada rasa. Apabila kita mampu bersyukur maka kita tidak akan pernah merasakan penderitaan. Memang tidak mudah bagi kita untuk mengendapkan rasa syukur ini ke dalam hati, tidak hanya di otak saja. Karena memerlukan keikhlasan untuk menerima apapun kehendak Tuhan atas kita dan keyakinan bahwa Tuhan tahu yang terbaik buat kita.
Kita tidak akan terlalu jauh membahas bagaimana rasa syukur tersebut bisa muncul, karena akan membutuhkan penjelasan yang sangat panjang. Bahwa yang ingin ditekankan adalah personal planning untuk jangka waktu tertentu merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatur rencana-rencana pribadi kita sehingga dengan demikian diharapkan kita tidak lagi merasa kekurangan. Karena personal planning (perencanaan pribadi) tersebut mencakup rencana keuangan, keluarga, pendidikan, karir dan anak. Dilengkapi dengan beberapa rencana alternatif kemungkinan (contingency plan) maka personal planning tersebut sebaiknya menjadi sebuah grand design bagi hidup kita yang fleksibel dan adaptif serta mampu mengikuti perkembangan jaman. Setelah disusun, bagian terpenting dari sebuah personal planning adalah konsistensi dan disiplin dengan perencanaan yang telah kita susun sendiri. Karena tanpa kedisiplinan dan konsistensi maka personal planning tersebut hanya akan kembali masuk ke tong sampah seperti biasanya kita lakukan terhadap hal-hal yang kita anggap sebagai sampah.
Pertanyaan yang kemudian segera mengemuka adalah apakah personal planning itu dan mengapa kita perlu menyusunnya? Penulis sendiri sebenarnya juga belum begitu memahami secara definitif apa yang dimaksud dengan personal planning itu, karena sampai dengan saat ini masih dalam proses mempelajari, memahami dan mengimplementasikan konsep personal planning itu sendiri. Namun secara garis besar dapat dijelaskan bahwa personal planning adalah sebuah perencanaan dalam lingkup diri sendiri yang menentukan titik-titik dimana kita harus mengambil keputusan penting untuk menentukan langkah sebagai dasar dan arah hidup kita selanjutnya. Seberapa penting personal planning ini bagi kita, ditentukan oleh diri kita sendiri. Apakah kita merasa butuh perencanaan hidup pribadi tersebut ataukah memutuskan untuk berjalan apa adanya seperti air mengalir. Pada tahapan selanjutnya biasanya akan diikuti dengan munculnya pertanyaan yang skeptis dan sedikit sinis, yaitu buat apa kita harus repot-repot menyusun personal planning kalau tanpa itupun hidup tetap jalan terus dan bisa sukses. Tanpa personal planningpun ternyata hampir semua keinginan kita terpenuhi. Selain itu, konon secara umum orang Indonesia memang tidak suka membuat rencana. Alasan yang diajukan adalah takut tidak mampu merealisasikan atau tidak ingin terikat dan terbebani dengan rencana-rencana tersebut. Oleh karena itu orang Indonesia, konon juga, lebih sering menghindar apabila sudah berbicara tentang perencanaan.
Pertanyaan seperti itu tidak salah dan manusiawi sekali, karena kalau jalan hidup kita memang bisa disimplifikasi mengapa harus dibuat rumit. Hidup, mati, jodoh dan rejeki manusia memang berada di tangan Tuhan. Akan tetapi tidak berarti kita harus bersikap pasif dan tidak melakukan apa-apa kecuali menunggu datangnya kesuksesan secara tiba-tiba. Karena keberuntungan tidak milik semua manusia, hanya milik beberapa orang tertentu saja yang dipilih oleh Tuhan. Terlebih lagi kesuksesan tidak diberikan (given) begitu saja oleh Tuhan sebagai hadiah buat manusia, tetapi kesuksesan adalah sesuatu yang harus kita raih dengan usaha dan jerih payah. Kesuksesan adalah sebuah proses pencapaian (achieving) dalam perjalanan hidup setiap manusia, dimana tujuan akhirnya merupakan awal bagi sebuah pencapaian kesuksesan selanjutnya. Untuk itulah dibutuhkan sebuah perencanaan hidup yang komprehensif, matang dan sistematis.
Sebagian besar dari kita dapat dipastikan akan memilih untuk menjalani hidup dengan tidak ngoyo seperti air yang mengalir. Karena dengan demikian kita bisa hidup lebih tenang, lebih bersahaja dan tidak ambisius. Tidak terlalu banyak target-target yang harus ditetapkan dan tidak ada keharusan pula untuk mencapainya. Segalanya berjalan sesuai dengan alurnya. Tetapi apakah menjadi ambisius itu salah? Tentu tidak, tergantung dari sisi mana kita melihatnya. Tanpa ambisi maka tidak akan ada greget dan keinginan untuk merubah hidup. Ambisi yang dibekali dengan perencanaan yang matang dan kemampuan yang memadai, maka ambisi tersebut menjadi suatu hal yang memang wajar untuk diwujudkan. Yang tidak wajar adalah ambisi yang tidak dilengkapi dengan perencanaan dan kesadaran atas kemampuan diri, maka ambisi tersebut hanya akan menghasilkan kecaman dan cemoohan dari lingkungan.
Sebuah personal planning yang baik diawali dari kemampuan kita untuk mengenali, memahami dan mendefinisikan tujuan hidup. Tentu yang dimaksud bukan tujuan hidup untuk masuk surga, karena masih bersifat sangat abstrak dan tidak bisa dimaterialkan. Setiap orang pasti ingin masuk surga, karena Tuhan menjanjikannya sebagai imbalan bagi manusia yang mau hidup dalam jalan-Nya. Tanpa berkeinginan untuk memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat, maka tujuan yang dimaksud adalah tujuan hidup di dunia ini. Dengan demikian target-target yang ditentukan akan menjadi lebih fokus, nyata, material, dan dapat dicapai oleh kita. Masing-masing orang memiliki tujuan hidup yang berbeda. Sebagai contoh sederhana, sebagian dari kita ingin mempunyai 2 orang anak dengan jarak 5 tahun. Namun sebagian yang lain ingin mempunyai 3 orang anak dengan jarak masing-masing 2 tahun.
Ada yang ingin bekerja pada perusahaan swasta ataupun BUMN bonafid dan meniti karir disitu sampai posisi tertinggi, namun ada juga yang lebih nyaman bekerja di perusahaan sendiri dan menjadi wiraswasta. Kemampuan mendefinisikan ini akan membuat kita menjadi fokus terhadap tujuan yang kita tetapkan sendiri, sehingga dengan sendirinya kita akan berusaha mencari jalan untuk meraihnya.
Setelah mendefinisikan tujuan, tahapan selanjutnya adalah memetakan tujuan tersebut sesuai dengan tingkat urgensitasnya. Pada tahapan ini kita dituntut untuk mampu mengenali hal mana saja dalam hidup kita yang termasuk kebutuhan dan hal mana yang termasuk keinginan. Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kebutuhan adalah suatu hal yang harus dipenuhi agar kita tetap bisa bertahan hidup. Contohnya adalah makan atau minum. Sedangkan keinginan adalah kebutuhan yang sudah didukung dan dipengaruhi oleh daya beli kita. Contohnya adalah makan sate, makan pizza atau minum es teh. Pengenalan atas kebutuhan dan keinginan ini sangat bermanfaat dalam personal planning sebagai dasar untuk mengkategorikan langkah-langkah yang diambil untuk meraih tujuan hidup kita sesuai dengan tingkat kepentingan pemenuhannya.
Dalam manajemen waktu dikenal adanya pemetaan permasalahan ke dalam empat kategori yaitu hal-hal mana yang penting dan mendesak, mana yang penting tapi tidak mendesak, mana yang tidak penting tapi mendesak, serta mana pula yang tidak penting dan tidak mendesak. Keempat kategori tersebut seringkali disebut sebagai kuadran I, kuadran II, kuadran III, dan kuadran IV. Permasalahan yang penting dan mendesak seharusnya kita selesaikan terlebih dahulu dibandingkan dengan permasalahan yang penting namun tidak mendesak. Sedangkan permasalahan yang penting dan tidak mendesak seharusnya kita selesaikan terlebih dahulu dibandingkan permasalahan yang tidak penting dan tidak mendesak. Sedangkan permasalahan yang tidak penting namun mendesak biasanya muncul karena kesalahan dalam mengenali permasalahan-permasalahan kita. Sebagai contoh adalah bagi seorang manajer memahami karyawannya merupakan kewajiban, sehingga harus dilakukan setiap saat justru sebelum menjadi masalah. Artinya memahami karyawan termasuk dalam kuadran II, yaitu penting namun tidak mendesak. Begitu menjadi masalah, maka kondisinya berubah menjadi kuadran I. Sedangkan kuadran IV adalah pekerjaan-pekerjaan iseng atau usil yang sebenarnya tidak penting dan tidak mendesak untuk dilakukan. Empat kuadran kategori permasalahan tersebut kira-kira dapat digambarkan sebagai berikut :
Kuadran I : penting dan mendesak Kuadran II : penting tapi tidak mendesak
Kuadran IV : tidak penting dan tidak mendesak Kuadran III : tidak penting tapi mendesak
Pengkategorian permasalahan dalam manajemen waktu tersebut dapat kita adopsi untuk menyusun personal planning. Dari semua kebutuhan hidup dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mencapai tujuan kita, kira-kira mana saja yang termasuk dalam kuadran I, II, III atau IV. Sebagai contoh adalah untuk seseorang yang baru saja menikah biasanya kebutuhan untuk membeli rumah untuk sementara dapat digantikan dengan mengontrak rumah terlebih dahulu, sedangkan kebutuhan untuk membeli kendaraan tentunya lebih mendesak dibandingkan dengan membeli perhiasan dan baju pesta. Begitu juga apabila kita ingin mengikuti kursus-kursus bahasa asing dan melanjutkan sekolah jenjang yang lebih tinggi sebagai kemampuan penunjang untuk meniti karir. Sehingga kita dapat memasukkan kebutuhan mengontrak rumah dan membeli kendaraan ke dalam kuadran I (penting dan mendesak), membeli rumah serta kursus bahasa dan sekolah termasuk dalam kuadran II (penting, tidak mendesak), sedangkan membeli perhiasan dan baju pesta termasuk dalam kuadran IV (tidak penting dan tidak mendesak). Pengelompokan ini bisa jadi berbeda untuk masing-masing orang karena dipengaruhi oleh kondisi keuangan keluarga dan kondisi-kondisi khusus yang muncul secara tiba-tiba, sehingga keputusan yang diambil juga akan berbeda. Namun pada dasarnya kebutuhan yang harus didahulukan pemenuhannya adalah kebutuhan dalam kuadran I kemudian kuadran II.
Pada kenyataannya seringkali kita masih salah dalam mengenali dan memetakan kebutuhan. Hal-hal yang seharusnya masuk dalam kuadran III atau IV tanpa sadar kita kategorikan dalam kuadran I atau II yang berakibat terabaikannya titik-titik penting dalam hidup kita yang seharusnya segera kita penuhi. Padahal titik-titik penting (milestones) tersebut sangat menentukan langkah-langkah yang akan kita ambil dalam implementasi personal planning kita. Untuk itulah diperlukan kejelian untuk mengenali dan memetakan kebutuhan-kebutuhan hidup agar tidak salah dalam mengambil keputusan.
Apabila seluruh kebutuhan sudah dimasukkan dalam kategorinya sesuai dengan tingkat urgensinya masing-masing, maka selanjutnya adalah saatnya untuk mengimplementasikan personal planning tersebut dalam kehidupan nyata. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dalam proses implementasi ini kita dituntut untuk konsisten dan disiplin. Kita harus patuh dan taat terhadap aturan-aturan yang telah kita susun sendiri. Tanpa konsistensi dan disiplin maka personal planning hanya akan menjadi sampah. Disamping itu sebaiknya kita juga menyediakan sistem reward – punishment yang jelas untuk setiap keberhasilan dan kegagalan dalam proses tersebut. Manjakan dan senangkan diri sendiri apabila kita berhasil mencapai satu target sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilan. Sebaliknya, hukum diri sendiri dengan mengurangi kesenangan dan kemanjaan yang kita terima sebagai bentuk peringatan agar tidak diulangi lagi di kemudian hari. Sehingga kita terpacu untuk mencapai keberhasilan sebanyak-banyaknya dan mengurangi kegagalan semaksimal mungkin.
Bentuk tuangan personal planning ini sangat fleksibel, bisa dalam bentuk tulisan atau dalam bentuk diagram balok yang biasa digunakan dalam manajemen proyek. Mana yang kita pilih tergantung kebiasaan kita. Namun bentuk kedua lebih direkomendasikan karena lebih sistematis, menyajikan poin demi poin, diketahui waktunya, mudah diperbandingkan antara target satu dengan target yang lain, bisa dilihat secara keseluruhan sebagai satu kesatuan yang utuh, serta secara visual juga lebih mampu menarik perhatian dibandingkan dengan tuangan hanya dalam bentuk tulisan.
Selain konsistensi dan disiplin, satu hal penting lagi yang perlu diperhatikan adalah diperlukan fungsi kontrol dari pihak ketiga atas proses implementasi personal planning. Kontrol ini akan menjadi semacam alarm yang selalu akan berdering setiap pagi dan mengingatkan sudah sampai mana perjalanan hidup kita berdasarkan personal planning tersebut. Fungsi ini bisa dijalankan oleh salah satu anggota keluarga terdekat, yaitu orang tua atau pasangan hidup. Kemudian setiap akhir tahun, biasakan untuk melakukan kontemplasi atau perenungan diri sebagai evaluasi atas segala sesuatu yang telah kita lakukan selama ini. Apakah sudah sesuai dengan rencana, seberapa besar penyimpangan atas rencana tersebut, lalu seberapa banyak keberhasilan atau kegagalan dalam pencapaian target, mengapa kegagalan tersebut terjadi, kemudian lakukan penyesuaian personal planning dengan perkiraan kemampuan diri untuk mencapainya tanpa merubah target-target besar kita. Sehingga personal planning yang telah disusun tetap berjalan dalam relnya.
Personal planning adalah salah satu metode dari sekian banyak cara yang kita gunakan dalam proses untuk mencapai tujuan. Sebagai sebuah proses maka akan sangat wajar apabila dalam perjalanannya terjadi banyak perubahan-perubahan yang memang sengaja kita lakukan berdasarkan hasil evaluasi ataupun perubahan yang terjadi diluar kuasa kita karena kehendak Tuhan. Pada tahapan ini dibutuhkan kesadaran untuk berbesar hati dalam menerima kegagalan sebagai konsekuensi logis dari sebuah proses. Namun kegagalan tersebut jangan sampai membuat kita putus asa karena kita harus tetap yakin bahwa Tuhan akan selalu menghargai segala proses pencapaian tujuan yang telah kita lakukan selama ini. Karena Tuhan tidak pernah tidur.
Bagaimana pendapat anda?
“Keep on struggling, then you will find the amazing of believing.”
(Sumber : pengalaman pribadi dan hasil diskusi dengan beberapa orang teman)
Banyuwangi, September 2004.