aziz-fajar

August 24th, 2009

The power of subconscious mind, adakah?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

The power of subconscious mind, adakah?

Begitu banyak pembahasan mengenai kekuatan alam bawah sadar atau pikiran bawah sadar selama ini. Begitu banyak juga motivator dan trainer yang mengajarkan bagaimana cara untuk membangkitkan kekuatan tersebut yang pada umumnya dilakukan melalui dua metode yaitu autosuggestion dan visualization. Subconscious mind ini kemudian menjadi sebuah mantra sakti untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita. Dreams come true.

Bahkan dalam sebuah pelatihan motivasi yang pernah saya ikuti, sang trainer mengilustrasikan bahwa kesuksesan beliau salah satunya disebabkan oleh keajaiban pikiran bawah sadar. Beliau pernah sangat menginginkan untuk melanjutkan pendidikan pasca sarjananya ke Oxford. Sebagai stimulusnya setiap hari beliau berimajinasi membayangkan seolah-olah beliau bersama keluarganya sedang bermain-main di salah satu taman kota di lingkungan Oxford. Sedemikian kuatnya imajinasi tersebut, beliau sudah bisa merasakan benar-benar berada di sana. Menghirup udaranya yang dingin, belajar di salah satu ruangannya, dan juga belajar di perpustakaannya.

Salah satu trainer yang saya kenal juga menggunakan metode visualization untuk membuktikan kekuatan pikiran bawah sadar tersebut. Pada akhir proses visualization, beliau menggunakan anchoring untuk “mengikat” mimpi tersebut sehingga menjadi lebih definitif dan lebih mudah untuk mewujud.

Memang benar, kemampuan manusia sesungguhnya diluar yang bisa kita bayangkan dalam batasan rasionalitas manusia sendiri. Banyak kemampuan manusia yang belum digali dan dimanfaatkan untuk mengejar masa depan yang lebih cerah. Akan tetapi benarkah subconscious mind power an sich ini memang menjadi mantra sakti untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita? Bukankah setiap kejadian di alam semesta ini harus memperoleh ijin terlebih dulu dari kekuatan Maha Besar yang meliputi segala sesuatu? Karena meskipun proses visualizationnya berhasil dan sangat kuat, apabila Allah tidak mengijinkan hal itu terjadi, apakah masih bisa mewujud?

Saya akan menceritakan pengalaman salah satu sahabat yang (secara tidak sengaja) menggunakan kekuatan pikiran bawah sadar dalam rangka mewujudkan salah satu mimpinya.

Sebut saja namanya Eko. Dia bercita-cita untuk bisa melanjutkan sekolah S2-nya ke salah satu negara di Eropa dengan beasiswa dari salah satu lembaga beasiswa internasional. Semua persyaratan sudah dia penuhi, tidak ada satu item-pun yang berada di bawah standar. Eko sendiri percaya sepenuhnya bahwa apabila kemudahan-kemudahan akan selalu disediakan oleh Allah apabila kita percaya kepada kekuasaan-Nya.

Eko bercerita bahwa kemudahan itu bahkan sudah dia rasakan sejak melakukan tes Internet-based TOEFL di Surabaya. Di saat lembaga kursus lain seperti EF dan IALF menmberikan harga private course rata-rata di atas 15 juta untuk kursus TOEFL selama 3 bulan (semakin singkat waktu kursus semakin tinggi biayanya), maka Eko menemukan sebuah lembaga kursus TOEFL preparation yang cukup murah yaitu hanya 5 juta selama 2 minggu. Instrukturnya juga ternyata adalah anggota majelis pengajian yang selama ini diikuti oleh Eko, sehingga proses kursus tersebut menjadi sangat cair dan lancar.

Saat tes pun juga dia merasa dimudahkan karena biasanya penyelenggaran Internet-based TOEFL dilakukan di satu ruangan dengan peserta 5 – 10 orang. Saat tahapan speaking (setelah reading dan listening namun sebelum writing skills), meskipun memakai head set, tentunya setiap peserta akan mendengar percakapan rekan disebelahnya. Bahkan mungkin saja ruangan tersebut akan menjadi sangat crowded. Kemungkinan besar situasi tersebut akan mengganggu konsentrasi peserta lainnya sehingga tidak akan bisa mencapai nilai maksimal. Banyaknya peserta tes juga berpengaruh terhadap lambat atau cepatnya koneksi internet dengan ETS. Nah saat itu ternyata jadwal tes Eko hanya diikuti oleh dia sendiri, sehingga dia bisa konsentrasi penuh pada setiap tahapan tes Internet-based TOEFL tanpa terganggu oleh speaking peserta lainnya. Koneksi internet dengan dengan ETS-pun juga sangat lancar. Benar-benar anugerah dari Allah menurut Eko.

Saat hasil tes diumumkan, score yang diperoleh Eko juga jauh diluar dugaan. Score TOEFL yang dipersyaratkan oleh universitas adalah 80 (setara dengan TOEFL 213 Computer-Based atau 554 Pencil & Paper-based). Namun score internet-based TOEFL yang diperoleh Eko adalah 92. Menurut pengakuan Eko, dia sampai menangis sendiri melihat score yang diperolehnya itu. Benar-benar membuktikan bahwa Allah sangat bermurah hati kepada dia, kata Eko.

Selama proses pengiriman aplikasi beasiswa, Eko merasa sangat dekat dengan negara yang dia tuju. Seperti trainer saya yang saya ceritakan di atas, Eko juga bisa merasakan bahwa dia sudah tidak lagi berada di Indonesia. Dia merasa sudah berada di sana, sudah mulai menuntut ilmu di universitas yang dia inginkan. Tubuh dan hatinya sudah terasa sangat ringan, sehingga dia bisa merasakan proses perpindahan dirinya dari Indonesia ke Eropa. Bahkan visualisasi tersebut sampai masuk ke dalam mimpi-mimpi dalam tidurnya.

Namun ternyata aplikasi beasiswa Eko ditolak sehingga dia tidak jadi berangkat ke Eropa. Wah, kok bisa, tanya saya dalam hati.

Saya terheran-heran mendengarkan cerita Eko ini. Proses yang dia lakukan sama seperti trainer saya. Visualisasi yang Eko lakukan juga sama persis dengan trainer saya. Tapi hasil akhirnya berbeda jauh. Saya bertanya-tanya dalam hati, mengapa kekuatan pikiran bawah sadar Eko tidak bekerja pada dia layaknya kekuatan pikiran bawah sadar trainer saya tersebut. Apakah proses visualisasi Eko tidak sempurna? Apakah mungkin masih ada perasaan ragu dalam hati dia sehingga menyebabkan proses anchoring itu menjadi terganggu dan akhirnya gagal.

Saat saya konfirmasi, Eko menjelaskan bahwa meskipun tidak secara sengaja dia lakukan, namun visualisasi itu sudah dipenuhi dengan perasaan positif. Tidak ada sama sekali perasaan negatif yang memasuki pikiran dan hati dia. Nah lho, kemudian apa yang menyebabkan kegagalan Eko untuk berangkat ke Eropa?

Eko selanjutnya menjelaskan bahwa apapun hasilnya, dia percaya sepenuhnya ini adalah yang terbaik bagi dia. Dia tidak mau pusing-pusing mempertanyakan kembali kegagalan itu. Tidak ada satupun kejadian di alam semesta ini yang tidak memiliki tujuan, kata Eko. Kegagalan dia untuk berangkat ke Eropapun juga pasti mempunyai tujuan, dan dia percaya bahwa pasti itu adalah tujuan yang jauh lebih baik.

Pada akhirnya, cerita Eko tersebut membawa saya pada satu kesimpulan bahwa kekuatan pikiran bawah sadar ada hanya dan hanya jika Allah menghendaki kekuatan itu untuk ada. Sekuat apapun dan dengan cara apapun manusia berusaha untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, selama Allah belum mengijinkan itu terjadi, maka mimpi-mimpi tidak akan terwujud. Akan tetapi, apabila Allah sudah berkehendak, dalam kondisi hati dan pikiran manusia seperti apapun, secara sadar diinginkan ataupun tidak, maka mimpi kita akan terwujud tanpa ada yang mampu menghalanginya.

Janganlah pengabulan do’a yang tertunda, sementara kamu merasa telah bersungguh-sungguh dalam memohon kepada Allah Swt, memutuskan harapanmu. Karena Allah SWT menjamin akan mengabulkan do’amu dalam bentuk yang Dia kehendaki untukmu, bukan dalam bentuk yang kamu kehendaki. Do’amu itu akan dikabulkan pada waktu yang Dia tentukan, bukan pada waktu yang kamu tentukan.” (Al Hikam – Ibnu Atha’illah Asy Syakandari)

Banyuwangi, 15 Mei 2009

Aziz Fajar Ariwibowo

see my blog : http://aziz-fajar.blogs.friendster.com/azizfajar/

December 16th, 2008

Suami-suami takut isteri

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Suami-suami takut isteri

Tentu kita tidak asing lagi dengan tayangan di salah satu stasun televisi swasta yang bertajuk seperti judul diatas. Apalagi kemudian tayangan tersebut (suami-suami takut isteri – SSI) diangkat ke dalam layar lebar dengan pemeran yang sama, tentunya akan membuat penonton menjadi semakin penasaran.

Tayangan ini sebenarnya patut mendapat acungan jempol karena masih mampu bertahan hingga kini dan diputar hampir setiap hari pada prime time, artinya SSI masih mampu memikat hati penonton televisi untuk tidak memindahkan channel televisinya. Harus diakui memang plot cerita SSI dibuat sederhana dan terjadi pada kehidupan sehari-hari, sehingga penonton tidak harus menyimak dengan serius sambil mengernyitkan dahinya. Pemilihan para pemain juga terlihat pas dengan tokoh yang diperankan, apalagi mereka termasuk dalam kategori pemain baru sehingga mampu menyajikan sesuatu yang segar di antara dominasi pemain sinetron yang itu-itu saja.

Pada awalnya saya juga suka menonton SSI, namun setelah beberapa waktu buat saya pribadi SSI menjadi sedikit membosankan karena metode yang digunakan untuk membuat penonton tertawa tidak berubah. Selalu para suami yang mata keranjang disuruh pulang oleh para isteri dengan caranya masing-masing. Ada yang dipukul, dicubit, dilempar sandal, serta disuruh jalan pocong dan bebek. Terasa SSI menjadi berkurang kreativitasnya, karena dari satu episode ke episode selanjutnya terlihat tidak ada perubahan yang signifikan. Rasanya sama seperti sedang melihat serial kartun anak-anak Tom and Jerry.

Selain itu, ada satu hal yang pada akhirnya membuat saya menjadi tidak menyukai SSI yaitu kekerasan isteri kepada suami yang ditayangkan pada waktu dimana kemungkinan dilihat oleh anak-anak sangat tinggi. Saya kuatir apabila kekerasan itu ditayangkan kepada anak-anak, selucu apapun dan meskipun dengan tujuan hanya untuk menghibur, akan mengendap dalam ketidaksadaran mereka dan suatu saat nanti akan keluar sebagai sebuah kebiasaan sekaligus menjadi sebuah kebenaran. Pembenaran bagi perilaku anak-anak kita nantinya bahwa sah bagi isteri untuk melakukan kekerasan terhadap suaminya.

Kekerasan, dari siapapun, kepada siapapun dan dalam bentuk apapun sangat tidak dibenarkan baik oleh prinsip kemanusiaan apalagi menurut dasar agama. Saya sendiri sangat menentang segala bentuk kekerasan domestik yang dilakukan oleh para suami kepada isterinya. Begitu juga hal yang sama akan saya lakukan apabila kondisi tersebut diposisikan terbalik, dimana para isteri yang melakukan kekerasan kepada suaminya.

Tidak pada tempatnya seorang isteri memukul suaminya. Karena Allah mengajarkan kepada manusia cara berumah tangga yang baik melalui syariat shalat. Ibaratnya shalat adalah sebuah rumah tangga, dimana imam adalah sang suami dan ma’mum adalah sang isteri dan anak-anaknya. Maka selama imam melaksanakan shalat sesuai ajaran Nabi Muhammad serta bacaannya benar, maka wajib bagi ma’mum untuk tunduk dan mengikuti segala gerakan imam.

Syariat shalat sangat demokratis. Terbukti saat imam melakukan kesalahan, ma’mum diperbolehkan memperingatkan imam dengan membaca subhanallah (untuk anak laki-laki) atau bertepuk tangan satu kali (untuk isteri dan anak perempuan). Apabila imam batal, atas kesadarannya sendiri, imam diwajibkan untuk mengundurkan diri dari posisi sebagai imam dan digantikan oleh salah satu ma’mumnya sesuai syariat.

Metode ini menuntut pengertian yang tinggi baik dari imam (suami) maupun ma’mum (isteri), karena apabila salah satu pihak melakukan kesalahan maka mereka harus bersedia untuk diperingatkan. Lebih jauh lagi, sang imam (suami) juga dituntut untuk tidak egois mempertahankan posisinya sebagai pemimpin apabila dia memang melakukan kesalahan vital yang menyebabkan posisinya sebagai pemimpin menjadi batal.

Saya ngeri sendiri membayangkan seandainya anak-anak perempuan kita yang saat ini menonton SSI setelah besar nanti menganggap bahwa memukul suami adalah sah dan benar. Bahwa kesetaraan gender diwujudkan dalam pengambilalihan posisi imam oleh isteri meskipun sang suami yang sedang menjadi imam tidak melakukan kesalahan apapun dan juga sedang tidak batal. Betapa banyak pertengkaran dalam kehidupan rumah tangga anak-anak kita nantinya akibat pemahaman salah tersebut yang berasal dari ketidaksadaran mereka di masa kecil. Pemahaman bahwa suami bukanlah lagi imam tetapi berubah menjadi isteri sebagai imam, sehingga suami wajib tunduk dan patuh kepada isterinya.

Satu hal yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah berharap. Berharap semoga semua itu tidak terjadi. Semoga hiburan tetaplah dianggap sebagai hiburan belaka. Semoga SSI tidak mengendap dalam alam ketidaksadaran anak-anak kita sebagai sebuah sebuah prinsip hidup. Semoga Allah terus berkehendak menjaga akidah kita dan anak-anak kita nantinya sehingga tetap lurus berada pada jalan-Nya.

Ihdinashshirâth al mustaqîm, shirâth alladzîna an’amta ‘alaihim ghairil maghdlûbi ‘alaihim waladhdhâllîn.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al Fatihah ayat 7 – 8).

Banyuwangi, 10 Desember 2008

Aziz Fajar Ariwibowo

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (5)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Apabila kita runut keenam tahapan doa tersebut di atas satu persatu, terlihat bahwa pelaksanaan rukun islam sesungguhnya adalah doa itu sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai doa yang sesungguhnya, dimana proses merubah ”keadaan diri kita saat ini” dilakukan melalui pelaksanaan lima rukun islam secara sebenar-benarnya dan pada jalan yang lurus.

Ikhlash yang mengkristal dalam syahadat adalah doa, meminta adalah bagian dari doa, istiqamah yang terwujud dalam shalat adalah doa, bentuk syukur dalam zakat adalah doa, sikap tawadhu’ dalam puasa adalah doa dan wujud tawakkal sepenuhnya dalam haji adalah juga doa. Sehingga apabila kelima rukun islam tersebut sudah terpenuhi semuanya dengan sebenar-benarnya pada jalan yang lurus, maka pada saat itulah doa kita menjadi makbul. Pada saat itulah Allah pasti akan mengabulkan setiap permohonan kita.

Tahapan-tahapan dalam doa tersebut, ikhlash – meminta – istiqamah – syukur – tawadhu’ – tawakkal, sangat bersandar kepada ke-Maha Besar-an dan ke-Maha Kuasa-an Allah. Dengan begitu diharapkan kita tidak keluar dari rambu-rambu Islam, tidak menjadi murtad atau musyrik, dan tetap sejalan dengan rukun islam dan rukun iman.

Kemudian apakah teori dalam LoA bisa sesuai dan selaras dengan prinsip-prinsip Islam menurut saya tergantung pada diri kita, dimana akan sangat dipengaruhi oleh keyakinan yang kita pegang atas konsep ketuhanan serta keberadaan manusia di alam semesta ini. Namun, bagi saya pribadi, LoA tidak akan menjadi sebuah jebakan kesesatan apabila saya mampu memaknai tahapan ask – believe – receive ke dalam konsep doa. ”Ask” bisa diterjemahkan sebagai tahapan ikhlash (syahadat) dan meminta, ”believe” diterjemahkan sebagai tahapan istiqamah (shalat) dan tawadhu’ (puasa), sedangkan ”receive” diterjemahkan sebagai tahapan syukur (zakat) dan tawakkal (haji).

Bagaimanapun juga, pada kenyataannya jebakan-jebakan jalan yang tidak lurus tersebut bertebaran di muka bumi ini dan seringkali tidak kita sadari sebagai sebuah jebakan. Karena perbedaan antara jalan yang lurus dengan yang tidak lurus sangatlah tipis dan menggoda. Begitu tipisnya sehingga diibaratkan sebagai rambut dibelah tujuh.

Menurut saya, satu-satunya cara agar kita tetap lurus berada pada koridor agama Islam adalah dengan jalan:

Ø       Mengimani dengan sepenuhnya enam rukun iman,

Ø       Melaksanakan dan berpedoman pada lima rukun islam,

Ø       Menghayati dan memaknai setiap tahapan dan aktivitas yang kita lalui dalam proses mengimani rukun iman dan melaksanakan rukun islam tersebut.

InsyaAllah, kita akan selalu diberikan petunjuk oleh Allah agar tetap berada jalan yang lurus.

Ihdinashshirâth al mustaqîm, shirâth alladzîna an’amta ‘alaihim ghairil maghdlûbi ‘alaihim waladhdhâllîn.

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Al Fatihah ayat 7 – 8).

Allâhumma innâ na’ûdzubika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu wa nastaghfiruka limâ lâ na’lamuhu

Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami mohon ampun kepada-Mu untuk sesuatu yang tidak kami ketahui (Al Ma’tsurat, Hasan Al Banna).

Banyuwangi, 31 Juli 2008

Aziz Fajar Ariwibowo

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (4)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Ikhlash: Segala sesuatu apabila dimulai dan diniati dengan hati yang ikhlash hanya untuk Allah, maka hasilnya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri tapi juga membawa barakah bagi sekitar kita. Batasan ikhlash kira-kira adalah sebagai berikut::

Radlîtu billâhi rabban wa bil islâmi dînan wa bi muhammadin nabiyyan warasû

lan

Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul (Al Ma’tsurat, Hasan Al Banna).

Ikhlash pada titik yang tertinggi adalah pada saat kita benar-benar melaksanakan rukun islam yang pertama yaitu membaca syahadat.

Asyhadu an lâ ilâha illa Allâh, wa asyhadu anna muhammadan rasûlu Allâh

Saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah, dan saya bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

Bayangkan betapa ajaibnya syahadat tersebut karena kita percaya dan bersaksi bahwa Allah ada, padahal Allah adalah gaib dan tidak pernah kita saksikan material-Nya. Kita juga tidak pernah bisa melihat Allah melalui indera mata fisik kita. Ajaib sekali karena kita percaya dan bersaksi kepada Nabi Muhammad sebagai Rasulullah padahal kita belum pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan Nabi Muhammad sama sekali. Rasulullah sendiri hidup sekian waktu yang lalu bahkan sebelum kita lahir.

Akan tetapi berbekal keikhlashan yang tertinggi, tanpa paksaan dari manapun, kita sepenuhnya menerima keajaiban tersebut dan mewujud dalam prinsip hidup seorang muslim yaitu bersyahadat.

Meminta: Dalam berdoa pasti terdapat permintaan kepada Allah atau hajat kita. Hanya saja hajat atau keinginan tersebut sebenarnya baru merupakan satu langkah awal saja, yang seringkali bisa berubah-ubah dalam proses perjalanannya. Oleh karena itu hajat akan menjadi lebih hebat dan definitif apabila kita transformasikan ke dalam niat. Sebuah niat yang istiqamah.

Istiqamah: Istiqamah juga menjadi bagian dari rangkaian doa karena apapun yang kita lakukan tidak akan menjadi optimal apabila tidak istiqamah. Seringkali kita dengar mutiara hikmah yang menyatakan bahwa satu istiqamah jauh lebih hebat dibandingkan dengan seribu karamah. Manusia yang mampu menjaga istiqamahnya tidak akan pernah khawatir dengan hasil akhir, karena itu adalah hak prerogatif Allah. Kata Allah:

Inna alladzîna qâlu rabbuna allâhu tsumma astaqâmu falâ khaufun ’alaihim walâ hum yahzunûn

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Al Ahqaaf ayat 13).

Dari Aisyiyah ra, Rasulullah saw bersabda, "Tingkatkanlah amalmu dengan baik, atau lebih dekatlah kepada kebaikan dan bergembiralah, karena amal seseorang tiada dapat memasukkannya ke surga". Tanya para sahabat, "Amal Anda juga begitu, ya Rasulullah ?”, jawab Rasulullah, "Amalku juga begitu. Tetapi Allah melimpahiku dengan rahmat-Nya. Dan ketahuilah, bahwa amal yang paling disukai Allah ialah amal yang dikerjakan secara terus ­menerus walaupun sedikit". (HR. Bukhari, Muslim dan Nasa’i).

Bentuk perwujudan dari sikap istiqamah adalah dengan melaksanakan rukun islam yang kedua yaitu shalat. Shalat melatih kita untuk mampu menjaga disiplin dan ketekunan, karena dalam shalat ada aturan-aturan baik dalam gerakan, bacaan maupun waktunya.

Setiap jam tertentu sebanyak lima kali dalam satu hari kita dilatih oleh Allah untuk melaksanakan shalat wajib. Terus menerus semenjak kita baligh hingga nanti kita berpulang kepada Allah. Bahkan pada jam-jam tertentu pula kita disunnahkan untuk melakukan shalat-shalat sunnah. Begitu seterusnya sehingga pada akhirnya sikap istiqamah akan menginternalisasi di dalam diri dan menjadi sebuah kebiasaan untuk tekun dan konsisten. Sedangkan salah satu kunci sukses dalam melakukan apapun adalah ketekunan dan konsistensi.

Syukur: Sedangkan bersyukur dibutuhkan agar hati kita menjadi lapang dan luas sehingga mampu melihat dunia ini dalam sudut pandang yang lebih menyeluruh. Berbekal paradigma yang holistik maka dunia akan menjadi sangat terjangkau oleh kemampuan kita dalam aspek apapun. Kata Allah:

Wa idz ta’adzdzana rabbukum lainsyakartum la adzîdannakum walainkafartum inna ‘adzâbî lasyadîd

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih (QS Ibrahim ayat 7).

Bentuk pengejawantahan dari sikap bersyukur adalah dengan melaksanakan rukun islam yang ke tiga yaitu berzakat atau bershadaqah. Zakat dan shadaqah merupakan ekspresi syukur seorang muslim atas segala nikmat yang selama ini diberikan oleh Allah secara cuma-cuma. Kita diberikan oleh Allah nikmat berupa hidup, nafas, air, angin, matahari, tumbuhan, hewan, dan lain-lain yang tidak terhitung banyaknya. Semuanya gratis tanpa ada kewajiban bagi manusia untuk mengembalikannya. Begitu banyaknya sehingga apabila kita ingin menuliskan nikmat Allah kepada manusia, tidak akan cukup jika seluruh pohon di alam semesta ini dijadikan penanya dan seluruh air laut dijadikan tintanya. Jadi sangat wajar apabila kita mensyukuri semua nikmat tersebut dengan cara membahagiakan orang lain secara cuma-cuma juga.

Tawadhu’: Tahapan selanjutnya dalam berdoa adalah sikap tawadhu’ yang menjadi salah satu ciri akhlaq seorang muslim. Definisi tawadhu’ kira-kira mengandung tiga hal sebagai berikut:

Ø Melebur dan merendahkan diri di hadapan Allah serta dihadapan hamba-hamba Allah lainnya.

Ø Menghargai orang lain dimana kita menganggap bahwa orang lain lebih baik, lebih benar dan lebih mulia. Namun penghargaan ini sifatnya proporsional sehingga tidak mengarah pada bentuk taklid buta.

Ø Membuka hati dan bersedia menerima kebenaran dari siapapun datangnya tanpa melihat siapa yang berbicara.

Wa ’ibâdu arrahmâni alladzîna yamsyûna ’ala al ardli haunan wa idzâ khâthabahumu al jâhilûna qâlu salâman

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (QS Al Furqaan ayat 63).

Walâ tusha’ir khaddaka linnâsi walâ tamsyi fî al ardli marahan, inna Allâha lâ yuhibbu kulla mukhtâlin fakhûrin

Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Lukman ayat 18).

Sikap tawadhu’ ini mewujud dalam pelaksanaan rukun islam yang ke empat yaitu berpuasa, karena melalui puasa inilah kita diajari oleh Allah untuk tidak bersikap sombong. Apabila ke empat rukun islam yang lain adalah bentuk ibadah yang masih bisa dilihat oleh orang lain secara fisik dan harfiah, sehingga masih ada kemungkinan untuk munculnya penyakit hati berupa riya’ dan takabur, maka puasa adalah ibadah dimana hanya Allah dan orang yang berpuasa saja yang tahu.

Seandainyapun misalnya ada orang yang tahu bahwa kita sedang berpuasa, maka apakah puasa kita batal atau tidak, apakah kita mampu mengendalikan hawa nafsu atau tidak, apakah kita sedang berbohong atau tidak, maka mereka sama sekali tidak tahu. Tetap yang tahu hanya kita dan Allah saja. Di dalam proses berpuasa Allah mengajari manusia untuk selalu merendahkan diri dan hatinya tidak hanya di hadapan Allah, tapi juga di hadapan manusia yang lain.

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

Barangsiapa yang bersikap tawadhu’ karena mencari ridla Allah maka Allah akan meninggikan derajatnya. Ia menganggap dirinya tiada berharga, namun dalam pandangan orang lain ia sangat terhormat. Barangsiapa yang menyombongkan diri maka Allah akan menghinakannya. Ia menganggap dirinya terhormat, padahal dalam pandangan orang lain ia sangat hina, bahkan lebih hina daripada anjing dan babi” (HR. Al-Baihaqi).

Tawakkal: Satu tahapan dalam doa yang paling menentukan adalah tawakkal, atau berserah diri kepada Allah. Bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini, dimana segala sesuatu yang ada di alam semesta sudah diatur dan dipelihara oleh Allah. Bahwa segala ikhtiar yang dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari izin-Nya. Bahwa iradat manusia berada di dalam lingkup iradat Allah. Bahwa hidup manusia sejatinya hanya satu detik saja. Tidak ada masa lalu juga tidak ada masa depan, yang ada hanya saat ini, detik ini. Detik kedua kita sudah tidak tahu lagi apakah kita masih hidup atau sudah mati. Detik berikutnya kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi dengan diri kita.

Hasbiyallâhu lâ ilâha illâ huwa ‘alaihi tawakkaltu wa huwa rabbu al ‘arsyi al ‘adhîm

Cukuplah Allah bagiku, tiada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘arsy yang agung (QS Taubah ayat 129).

“Tak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini : kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengkabulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya” (Hadits Riwayat Imam Ahmad dan Al-Hakim).

Lâ yakun takhkhuru amadi al ‘athâi ma’al ilhâhi fiddua’âi mûjiban liya sika

Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang doa-doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu (Hikmah ke 6, Kitab Al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî)

Qul lan yushîbanâ illâ mâ kataballâhu lanâ huwa maulânâ, wa ’alall âhi falyatawakkali al mukminûn

Katakanlah: "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal." (QS At Taubah ayat 51).

Bentuk aplikasi dari sikap tawakkal adalah dengan melaksanakan rukun islam yang kelima yaitu berhaji. Dalam proses menunaikan haji kita sepenuhnya menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah. Apapun yang akan terjadi selama proses tersebut kita tidak pernah tahu dan segalanya terjadi atas kehendak Allah. Bahkan keberangkatan seorang muslim untuk berhajipun adalah hanya apabila diundang oleh Allah saja, sehingga jika Allah tidak berkehendak memanggil kita untuk menunaikan rukun islam yang ke lima, maka tidak mungkin kita bisa berhaji.

Labbaik Allâhumma labbaik, labbaika lâsyarîkalaka labbaik

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu (Bacaan Talbiyah)

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (3)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Manusia hakikatnya hanya “sakderma nglampahi” hidup di dunia ini sesuai dengan kehendak Allah. Kata Allah:

Wamâ tasyâûna illâ an yasyâ allâhu rabbu al ‘âlamîn

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan yang lurus itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam (QS At-Takwir ayat 29).

Di dalam penjelasan suratAt Takwir disampaikan bahwa turunnya ayat tersebut merupakan sanggahan Allah bagi Abu Jahal yang merasa mampu untuk menentukan jalan hidup atas dirinya sendiri. Dirinya sendirilah yang memutuskan apakah akan menempuh jalan yang lurus atau tidak. Namun Allah membantah anggapan itu dan menegaskan bahwa Allahlah yang menentukannya. Apabila Allah tidak berkehendak, manusia tidak akan mampu melakukan usaha apapun.

Namun, manusia tetap wajib berdoa karena kita diberikan anugerah oleh Allah berupa akal dan pikiran. Melalui sarana berupa doa inilah manusia diperintahkan untuk menjalani sunnatullah dengan sebaik-baiknya serta agar hidup kita bisa menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.

Seperti apapun kesadaran manusia atas keberadaannya di alam semesta ini, Allah tetap memberikan perintah untuk terus meminta. Bahkan Allah menjamin akan selalu mengabulkan permintaan kita apabila kita berdoa hanya kepada-Nya. Ini haq, karena Allah sendiri yang berkata dalam QS Al Mu’min ayat 60 dan Al Baqarah ayat 186:

Wa qâla rabbukumu ud ‘ûnî astajiblakum, Inna alladzîna yastakbirûna ‘an ‘ibâdatî sayadkhulûna jahannama dâkhirîn 

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina (QS Al Mu’min ayat 60).

Waidzâ salaka ’ib âdî ’annî fainnî qarîb, ujîbu da’wataddâ’i idzâ da’âni falyastajîbu lî wal yukminû bî la’allahum yar syudûn

Dan apabila hamba-hamba–Ku bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila berdo’a kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran (QS Al Baqarah ayat 186).

Namun doa seperti apa yang layak kita sampaikan ke Allah apabila sebenarnya kita berada pada posisi “tidak ada”? Apakah berupa doa yang sekedar kita ucapkan di mulut tapi tidak membekas sama sekali dalam hati? Ataukah berupa doa yang mewujud sebagai perilaku dalam keseharian manusia meskipun tidak pernah kita ucapkan melalui mulut kita ini? Kemudian apakah doa dan permintaan kita bisa merubah takdir Allah atas hidup kita?

Inna allâha lâ yughoyyiru mâ biqaumin hattâ yughoyyiru mâ bianfusihim

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS Ar-Ra’d ayat 11)

Dzâlika bianna allâha lam yaku mughayyiran ni’matan an’amahâ ‘alâ qaumin hattâ yughayyiru mâ bianfusihim, wa anna allâha samî’un ‘alîm

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al Anfal ayat 53)

Berdasarkan kedua ayat tersebut, sepemahaman saya, atas kehendak-Nya, Allah akan merubah takdir manusia dengan syarat apabila kita sudah selesai merubah “keadaan diri kita saat ini”. Dari belum shalat menjadi sudah shalat, dari belum bershadaqah menjadi sudah bershadaqah, dari belum melaksanakan rukun islam menjadi sudah melaksanakan rukun islam, dari belum sepenuhnya mengimani rukun iman menjadi benar-benar sudah mengimani rukun iman, dan lain-lain. Intinya adalah proses merubah diri dari belum melakukan sesuatu menjadi sudah melakukan sesuatu.

Proses merubah keadaan diri sendiri itulah yang menurut saya disebut sebagai doa yang dikabulkan oleh Allah dan mampu merubah takdir seseorang. Dalam artian bahwa, apabila seharusnya setiap qadha akan selalu mewujud menjadi kepastian sebagai qadar, maka qadha seseorang, atas kehendak-Nya, mungkin saja bisa tidak mewujud menjadi qadar dan berubah menjadi qadar yang lain. Bahwa dalam prosesnya, apabila Allah berkehendak, berdasarkan doa manusia maka Allah akan merubah sesuatu yang belum mewujud menjadi suatu kepastian menjadi suatu kepastian yang lain.

Maka doa yang pantas kita sampaikan kepada Allah sebagai manusia yang berada pada posisi ”tidak ada” bukanlah hanya berupa permintaan yang kita ucapkan melalui mulut ini, tapi lebih berupa doa yang mewujud dalam perilaku keseharian kita. Bukan semata doa yang berhenti pada tahapan teori belaka, tapi doa yang benar-benar kita yakini dan laksanakan dalam hidup ini.

Bagaimana dengan LoA, mengapa menurut saya LoA hanya merupakan sebagian kecil dari doa? Karena dalam pemahaman saya, LoA belum sepenuhnya menyandarkan diri kepada ke-Maha Besar-an Allah. Bahkan LoA menolak konsep qadha dan qadar. Begitu juga dengan tahapan-tahapan dalam LoA, menurut saya bukan hanya ask, believe dan receive saja. Sehingga apabila kita sepenuhnya hanya mempercayai teori dalam LoA, saya khawatir kita akan terjebak pada kemusyrikan. Karena seandainya ada satu rukun saja dari enam rukun iman kita ingkari, maka kita sudah keluar dari koridor jalan yang lurus.

Saya sendiri sebenarnya tidak begitu paham apakah LoA benar-benar meyakini atas keberadaan Tuhan atau tidak. Yang pasti LoA menamakan kekuatan dahsyat di luar sana, yang berperan mewujudkan keinginan manusia, sebagai kekuatan alam semesta, bukan sebagai Allah. Sehingga definisi kekuatan tersebut menjadi sesuatu yang samar-samar atau meragukan. Perbedaan yang sangat tipis antara keyakinan kepada alam semesta dengan keyakinan kepada Allah ditakutkan akan menggelincirkan kita kepada jebakan syirik.

Kemudian LoA juga menolak adanya “papan kehidupan di langit” yang ditulis oleh Tuhan mengenai maksud dan tujuan hidup manusia. Dalam teori tersebut ditegaskan bahwa akal atau pikiran manusia sendirilah yang membentuk semesta, tidak ada campur tangan siapapun atau apapun dalam perjalanan hidup manusia. Manusia adalah penguasa kehidupan manusia sendiri. Artinya Loa tidak mengakui adanya takdir atau sunatullah. LoA tidak mengakui rukun iman yang ke lima yaitu iman kepada qadha dan qadar.

Akibatnya tahapan dalam LoA juga, bagi saya, masih terasa sangat rasional, yaitu ask (meminta) – believe (percaya) – receive (menerima).

Mungkin apabila LoA kita ganti dengan doa, maka tahapannya akan berubah menjadi sebagai berikut: ikhlash – meminta – istiqamah – syukur – tawadhu’ – tawakkal. Dimana terjemahan atas tahapan doa tersebut akan mewujud dalam pelaksanaan lima rukun islam. Masing-masing tahapan dalam doa dijelaskan pada paragraf-paragraf di bawah ini.

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (2)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Betapa Maha Berkuasanya Allah dikatakan sendiri oleh Allah dalam QS Yasin ayat 81 – 82:

Awalaisalladzî khalaqassamâwâti wal ardla biqâdirin ‘alâ an yakhluqa mitslahum balâ wahuwal khallaqu al ‘alîm, Innamâ amruhû idzâ arâda syaian an yaqûla lahû kun fayakûn

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia (QS Yasin ayat 81 – 82)

Manusia tidak ada artinya dan tidak mempunyai kekuatan apapun di hadapan Allah. Oleh karena itu keberadaan manusia pada hakikatnya adalah tidak ada, tidak eksis, kosong. Hakikatnya yang ada di alam semesta ini hanyalah Allah semata. Allah tidak pernah meruang, tidak pernah mewaktu, dan tidak termaterialkan. Bahkan Allah meliputi segala sesuatu. Yang meruang, mewaktu dan termaterialkan adalah makhluk-Nya.

Mukhalafatuhû lil hawâditsi. Salah satu sifat Allah adalah berbeda dengan makhluk-Nya. Dan tidak ada satupun di alam semesta ini yang mampu menyamai-Nya.

Qul huwa allâhu ahad, Allâhu ashshamad, Lam yalid wa lam yûlad, walam yakun lahû kufuwan ahad

Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia (QS Al Ikhlash ayat 1 – 4).

Perspektif atas eksistensi manusia yang saya pegang hingga saat ini adalah bahwa Allah itu sungguh Maha Meliputi segala sesuatu yang ada di alam semesta ciptaan-Nya. Oleh karena itulah, Allah mewujud seperti segala sesuatu yang terlihat di semesta ini baik yang terlihat melalui indera mata fisik kita maupun mata bashirah kita. Selalu ada unsur Allah dalam segenap materi. Ibaratnya mungkin galaksi bima sakti adalah hanya sehelai rambut-Nya. Seorang aziz mungkin hanya seperti secuil ujung kuku jari kaki-Nya. Singkatnya apabila semesta dianalogikan sebagai sebuah papan tulis, maka manusia hanyalah setitik hitam di dalam area papan tulis yang tidak akan mampu melihat sebesar apa papan tulis yang menjadi tempat dia untuk hidup. Dan Allah sejatinya adalah semesta itu sendiri.

Akan tetapi tetap saja Allah adalah Allah, sedangkan makhluk adalah tetap saja makhluk. Allah bukan makhluk dan makhluk juga bukan Allah.

Pada titik inilah muncul pemahaman saya atas takdir Allah kepada makhluk-Nya yang biasa kita sebut sebagai sunnatullah. Bahwa terhadap “ketiadaan” manusia, Allah telah menyediakan jalan masing-masing bagi setiap anak manusia seperti yang tertulis dalam lauhi al mahfudz. Itulah jalan yang akan kita lalui, tanpa bisa dihindari. Sungguh tidak ada yang kebetulan di alam semesta ini, segala sesuatu sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah sehingga selalu tercapai keseimbangan dan berpasang-pasangan. Apabila sepertinya ada kesempatan atau chance maka sejatinya itu adalah penyebab. Apabila sepertinya ada kecelakaan atau accident maka hakikatnya itu adalah akibat.

Yamhuu Allâhu mâ yasyâu wa yutsbitu, wa ‘indahû ummu al kitâb

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh) (QS Ar Ra’du ayat 39)

Apakah manusia mempunyai pilihan dan mampu untuk memilih? Hakikatnya pilihan hanyalah ilusi belaka, yang dibuat oleh pihak yang berkuasa bagi pihak yang tidak mempunyai kekuasaan. Yang dibuat oleh Allah bagi makhluk-Nya. Pilihan dibuat oleh Allah hanya agar dapat dibaca oleh manusia kemudian menggunakan akal pikirannya untuk menjalani takdir dengan sebaik-baiknya.

Wa ‘asâ an takrahû syaian wahuwa khairun lakum, wa ‘asâ an tuhibbu syaian wahuwa syarrun lakum, wallâhu ya’lamu wa antum lâ ta’lamûn

…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS Al Baqarah ayat 216)

…Fahuwa dlamina laka al ijâbata fîmâ yakhtâruhu laka lâ fîmâ takhtaruhu linafsika, wa fî al waqti alladzî yurîdu lâ fî al waqti alladzî turîd

Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihan-Nya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendaki-Nya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki (Hikmah ke 6, Kitab Al-Hikam, Ibnu ‘Athâillâh As-Sakandarî).

Warabbuka yakhluqu mâ yasyâu wayakhtâru, mâ kâna lahumu al khiyaratu, subhânalâhi wata’âlâ ‘ammâ yusyrikûn

Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia) (QS Al Qashash ayat 68).

Bertolak dari pemahaman tersebut, dalam kaitannya dengan doa, kemudian akan muncul pertanyaan: Mengapa kita harus berdoa (meminta) kepada Allah, kalau sejatinya manusia tidak eksis? Mengapa kita harus berdoa kalau hakikatnya kita tidak punya pilihan atas takdir kita? Mengapa Allah malah menyuruh manusia untuk berdoa dan mengatakan sombong kepada mereka yang tidak mau meminta kepada-Nya?

Sebagai seorang muslim dan mu’min kita wajib mengimani qadha dan qadar Allah seperti yang tertulis dalam rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat, nabi dan rasul, kitab Allah, qadha dan qadar, serta hari akhir.

Dalam pemahaman saya, qadha adalah ketentuan Allah yang belum terjadi, sedangkan qadar adalah ketentuan Allah yang sudah terjadi. Dengan kata lain qadha adalah proses penciptaannya, sedangkan qadar adalah puncak atau akhir dari proses penciptaan tersebut dan menjadi sebuah kepastian. Keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam satu istilah yaitu takdir.

Sebagai ciptaan Allah, manusia tidak pernah tahu seperti apa ketentuan Allah atas kita nantinya. Kita tidak pernah tahu bagaimana tepatnya takdir kita seperti yang tertulis dalam lauhi al mahfudz.

Alam ta’lam annallâha ya’lamu mâ fissamâi wal ardli, inna dzâlika fî kitâbin, inna dzâlika ‘alallâhi yasîr

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah (QS Al Hajj ayat 70).

Wa ‘indahû mafâtihu al ghaibi lâ ya’lamuhâ illâ huwa, wa ya’lamu mâ fi al barri wal bahri, wamâ tasquthu min waraqatin illâ ya’lamuhâ walâ habbatin fî dhulumâti al ardli walâ rathbin walâ yâbisin illâ fî kitâbin mubîn

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz) (QS Al An’am ayat 59).

August 11th, 2008

Antara LoA dan Doa (1)

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Antara LoA dan Doa

Bismillâhi alladzî lâ yadlurru ma’asmihî syaiun fî al ardli wa lâ fissamâi wa huwa assamî’u al‘alîm

Dengan nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak akan membahayakan sesuatupun yang ada di bumi dan langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al Ma’tsurat – Hasan Al Banna)

Mengiringi fenomena LoA (Law of Attraction) yang menjadi perbincangan banyak orang di seluruh dunia, beberapa pihak (termasuk diri saya sendiri) merasa tidak puas dengan teori tersebut. Membaca buku The Secret karya Rhonda Byrne terasa kering sekali, mungkin karena penjelasan-penjelasan yang ilmiah dalam buku itulah yang menyebabkan sisi spiritualnya menjadi terabaikan. Atau karena posisi Allah dalam The Secret didefinisikan sebagai kekuatan maha dahsyat bernama alam semesta. Atau mungkin karena prinsip human centris yang termaterialkan dalam tahapan LoA yaitu “ask, believe dan receive”. Atau mungkin juga karena LoA menolak adanya “papan kehidupan di langit” yang memuat tulisan tentang perjalanan hidup manusia mulai lahir sampai meninggal dunia.

Tapi, apapun “rasa” yang muncul di permukaan, menurut saya LoA merupakan satu tahapan pencapaian yang hebat dan bermanfaat bagi umat manusia. Karena LoA mengajak kita melakukan beberapa hal yang sangat penting agar keinginan kita bisa terwujud serta membangun dunia yang damai tanpa peperangan, yaitu iman, yakin, berpikir positif, optimis, membangun perasaan baik, segera bertindak untuk mewujudkan, bersyukur, dan selalu berterimakasih.

Bagi saya pribadi, berdasarkan keyakinan yang saya anut sebagai seorang muslim, LoA merupakan sebagian kecil dari hakikat sebuah doa. Penjelasan atas pernyataan saya tersebut nantinya merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut: Bagaimana kita memandang posisi doa dalam kehidupan manusia? Apakah doa sama dengan tahapan ”ask” dalam LoA? Ataukah doa adalah merupakan bahasa yang lain dari ketiga tahapan dalam LoA? Apabila tidak sama seperti dalam tahapan LoA, seperti apa sebenarnya doa itu?

Saya akan coba berbagi pemahaman saya tentang LoA dan doa terkait dengan takdir Allah atas manusia. Seluruh uraian saya nantinya didasarkan pada perspektif saya sebagai seorang Muslim. Pemahaman ini akan menjadi benar-benar sangat personal, karena diawali dari definisi saya sendiri tentang konsep ketuhanan serta eksistensi manusia di alam semesta ini. Tentunya definisi masing-masing orang akan sangat berbeda, bahkan mungkin juga ada yang merasa tidak perlu mendefinisikan eksistensinya di alam semesta. Namun perbedaan tersebut tidak perlu dipertentangkan, karena Allah akan menunjukkan jalan bagi masing-masing makhluknya dengan tidak ada satupun yang sama persis. Masing-masing dari kita akan menemukan jalannya sendiri-sendiri.

Kata Allah dalam sebuah hadits qudsi:

Anâ ’inda dhanni ’abdî bî wa anâ ma’ahu idzâ dzakaranî

Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepada-Ku.

Konsep ketuhanan yang saya ugemi diawali dengan pemahaman bahwa semesta ini tidak mungkin tercipta dengan sendirinya. Pasti ada zat yang Maha Besar dan Maha Kuasa yang menciptakannya, yaitu Allah. Karena ada penciptanya, maka semesta dan segala isinya termasuk manusia pastinya berjalan berdasarkan kehendak Allah. Berdasarkan iradat Allah. Berdasarkan sunnatullah. Berdasarkan takdir Allah. Rotasi bumi pada porosnya adalah takdir Allah. Begitu juga dengan revolusi bumi mengelilingi matahari, adalah takdir Allah.

Begitu juga dengan manusia sebagai sekedar ciptaan Allah saja, hanya sekedar boneka Allah, juga memiliki takdir. Perjalanan hidup manusia sejak masih dalam kandungan sampai nanti di alam akhirat sudah ditentukan oleh Allah. Mengapa saya lahir di dunia ini, karena Allah sudah menetapkan takdir saya untuk menjadi manusia dan lahir di Indonesia. Bukan menjadi hewan atau tumbuhan yang lahir di Alaska. Saya menikah dengan istri saya hakikatnya bukan karena saya cinta kepada istri saya, tapi karena Allah berkehendak bahwa yang terbaik bagi saya adalah menikah dengan istri saya bukan dengan perempuan lain. Sudah menjadi kehendak Allah bahwa takdir saya saat ini adalah mempunyai dua orang anak perempuan, bukan dua orang anak laki-laki atau satu anak perempuan dan satu anak laki-laki. Itulah yang pas dan terbaik buat saya saat ini. Karena apabila saya mempunyai anak bukan dua orang anak perempuan maka mungkin tidak akan membawa kebaikan bagi saya. Allah sudah menetapkannya jauh sebelum saya dilahirkan di dunia ini.

Tapi tidak kemudian saya hanya berdiam diri saja tanpa melakukan ikhtiar apapun. Karena Allah melengkapi manusia dengan akal dan pikiran. Dengan akal itulah Allah menyuruh manusia untuk berzikir. Arti zikir dalam pemahaman saya bukan hanya wirid saja, tapi lebih dalam arti mengingat dan berfikir. Mengingat-ingat dan berfikir tentang ciptaan Allah setiap saat. Berfikir sepanjang waktu tanpa henti membaca tanda-tanda alam. Salah satu jalan yang diberikan oleh bagi manusia untuk mengingat Allah adalah dengan shalat. Kata Allah:

Innanî anallâhu lâ ilâha illa ana fa’budnî wa aqimishshalâta lidzikrî 

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku (QS Thahaa ayat 14).

Betapa manusia hanya boneka Allah tersirat dalam makna basmalah, yang kita dawamkan dalam doa iftitah pada setiap shalat kita, dan kemudian mengkristal dalam konsep lâ haula walâ quwwata illâ billâhi al ’aliyyi al ’adhîm.

Makna basmalah bagi saya sejatinya adalah bentuk penghambaan manusia kepada Allah. Bismillâhi arrahmâni arrahîm, dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sebuah kesaksian bahwa manusia bukanlah apa-apa, hanya sekedar ciptaan Allah. Karena melalui bacaan basmalah ini kita meminta ijin dan ridla kepada Sang Pencipta untuk melakukan segala sesuatu. Sebelum tidur kita membaca basmallah, “ya Allah ijinkan saya untuk memejamkan mata dan tidur sejenak dalam semesta di bawah langit milik-Mu ini ya Allah. Ijinkan saya merebahkan badan saya”. Sebelum makan kita mengucap basmallah, “ya Allah saya minta ijin kepada-Mu ya Allah untuk memakan makanan kepunyaan-Mu ini. Makanan ini bukan milik saya ya Allah, karena itu ijinkanlah saya makan”. Sebelum naik kendaraan kita juga mengucap basmallah, “ya Allah saya minta ijin kepada-Mu untuk mengendarai mobil kepunyaan-Mu ini ya Allah. Mobil ini bukanlah kepunyaan saya ya Allah”.

Begitu seterusnya sehingga sebelum melakukan aktivitas apapun kita mengucap basmalah sebagai bentuk permohonan ijin kepada Allah karena segala sesuatu di semesta alam ini adalah milik Allah. Tidak ada satupun yang menjadi milik manusia.

Lebih jelas lagi terlihat dalam doa iftitah yang kita baca minimal sebanyak 5 kali dalam satu hari sejak kita baligh hingga meninggal dunia.

Innî wajjahtu wajhiya lilladzî fatharassamâwâti wal ardla hanîfan musliman wa mâ anâ minal musyrikîn, inna shalâtî wanusukî wamahyâya wamamâtî lillâhi rabbi al ‘âlamîn, lâ syarîkalahu wa bidzâlika umirtu wa anâ mina al muslimîn 

(Aku hadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri dan aku bukanlah dari golongan kaum musyrikin. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata hanya untuk Allah seru sekalian alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan yang demikian itu aku diperintahkan untuk tidak menyekutukan bagi-Nya. Dan aku adalah dari golongan orang-orang Islam).

Kristalisasi dari konsep penghambaan kepada Allah tersebut mewujud dalam bacaan dzikir lâ haula walâ quwwata illâ billâhi al ’aliyyi al ’adhîm.

Tiada daya upaya serta kekuatan kecuali dengan izin Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.

June 22nd, 2008

Doa yang sesungguhnya

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Doa yang sesungguhnya

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina."

(QS Al Mu’min ayat 60)

Pengalaman pribadi yang akan saya tulis dalam paragraf-paragraf di bawah tidaklah berarti saya berusaha mendahului kehendak Allah. InsyaAllah saya 100% meyakini qadha dan qadar yang ditetapkan Allah bagi saya. Saya juga yakin bahwa setiap potongan episode hidup saya sudah ditentukan dan ditulis oleh Allah dalam kitab terpelihara Lauhil Mahfudz. Sehingga apabila nanti ada yang menganggap saya seperti itu, mohon dengan hormat agar saya dimaafkan.

Oke, saya mulai saja cerita saya ini.

Pertengahan tahun 2007 kemarin saya mencoba mengirim aplikasi beasiswa untuk postgraduate ke Australia melalui Australian Development Scholarship (ADS). Sebagai rangkaian dari ikhtiar agar niat saya tersebut tercapai, saya bersilaturahmi dan mohon bantuan doa kepada beberapa orang yang menurut pandangan saya lebih dekat kepada Allah. Selama ini saya memang mempunyai prinsip bahwa saya tidak tahu doa siapa yang makbul. Belum tentu doa saya sendiri yang dikabulkan oleh-Nya. Oleh karena itu semakin banyak yang ikut mendoakan saya, insyaAllah akan semakin baik. Karena mungkin saja salah satunya akan dikabulkan oleh Allah.

Cukup lama saya bersilaturahmi ke masing-masing dari beliau, karena selain mohon bantuan doa saya juga bertanya beberapa hal yang selama ini saya belum memahaminya. Dalam obrolan tersebut, terlontar pertanyaan mengenai kemungkinan lolos atau tidaknya saya dalam seleksi beasiswa ADS.

Menurut beliau-beliau, apabila saya bersungguh-sungguh dan terus berdoa kepada Allah, insyaAllah akan diijinkan oleh Allah untuk lolos seleksi beasiswa ADS dan berangkat sekolah ke Australia. Berdasarkan pengamatan beliau-beliau, insyaAllah “garis” saya menunjukkan titik cukup terang untuk berangkat ke sana.

Menjelang akhir tahun 2007, saya memperoleh e mail dari ADS bahwa saya tidak lolos seleksi beasiswa postgraduate ke Australia. Kemudian saya mengabarkan informasi ini kepada beliau-beliau. Beliau-beliau mengatakan hal yang kurang lebih sama atas kabar tersebut, bahwa kegagalan saya bukan berasal dari luar tapi berasal dari diri saya sendiri. Sebagai introspeksi ujar beliau-beliau, coba diingat-ingat lebih dulu apakah ada kondisi-kondisi sebelumnya dimana selama proses pembuatan dan pengiriman aplikasi saya merasa ragu dan tidak yakin.

Seingat saya sih saya sudah merasa yakin sepanjang proses pembuatan dan pengiriman aplikasi ke ADS. InsyaAllah selama proses itu saya sudah merasa yakin bahwa aplikasi saya layak dipertimbangkan oleh ADS sebagai salah satu kandidat penerima beasiswa postgraduate ke Australia.

Tetapi malamnya sebelum tidur, saya kembali berusaha mengingat-ingat apakah saya pernah merasa ragu. Ternyata memang benar bahwa sesaat sebelum saya mengirimkan aplikasi ke ADS saya pernah merasa ragu apakah nanti saya akan berhasil lolos seleksi atau tidak. Hanya sesaat itu saja, selainnya insyaAllah hati saya selalu diliputi keyakinan. Dalam hati saya berpikir mungkin rasa ragu inilah yang dimaksudkan oleh beliau-beliau. Satu titik keraguan saja ternyata mengalahkan sekian panjang rasa yakin.

Terlepas dari tidak ada kebetulan di semesta ini karena semua adalah sunnatullah yang sudah ditentukan bahkan jauh sebelum saya diciptakan ke dunia, serta bahwa ketetapan Allah yang terbaik bagi saya saat ini adalah memang gagal lolos seleksi beasiswa ADS karena mungkin saja apabila saya berangkat ke Australia akan membawa lebih banyak membawa mudharat dibandingkan maslahatnya, saya merasa Allah sedang memberikan pelajaran bagi saya mengenai doa yang sesungguhnya.

Sesuai janji-Nya dalam Al Mukmin ayat 60, Allah pasti akan mengabulkan semua permintaan manusia yang berdoa kepadanya. Ini haq, karena sudah ditulis dalam Al Qur’an dan saya sebagai seorang muslim wajib mengimaninya. Hanya saja, doa seperti apa yang dimaksud oleh Allah. Apakah doa yang sekedar saya ucapkan di mulut tapi tidak membekas sama sekali dalam hati? Apakah doa yang mewujud sebagai perilaku dalam keseharian saya meskipun tidak pernah saya ucapkan melalui mulut saya ini?

Saya jadi teringat dengan janji Allah yang lain dalam surat Ar-Ra’d ayat 11, bahwa sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Pada titik inilah saya sadar, bahwa qadha seseorang bisa saja tidak mewujud menjadi qadar. Sebagai contoh, mungkin saja qadha saya adalah berangkat melanjutkan sekolah ke Australia melalui beasiswa dari ADS. Namun ternyata qadar saya berubah tidak sesuai dengan qadha tersebut. Tentunya perubahan tersebut sudah pasti atas kehendak Allah, dan tidak boleh disesali malah harus disyukuri. Karena Allah berjanji akan menambah nikmat kepada makhluk-Nya yang bersyukur (QS Ibrahim ayat 7).

Pada sisi lain, atas izin Allah saya yakin bisa merubah qadha menjadi qadar yang lain. Caranya adalah dengan meminta kepada Allah melalui doa. Bukan doa yang hanya kita ucapkan melalui mulut ini, tapi doa yang mewujud dalam perilaku keseharian kita selama ini. Bukan semata doa yang berhenti pada tahapan teori belaka, tapi doa yang benar-benar kita yakini dan laksanakan dalam hidup ini.

Kondisi inilah yang juga disebut sebagai istiqamah, dimana terjadi alignment antara otak, ucapan dan hati yang mengkristal dalam perilaku sehari-hari. Satu istiqamah jauh lebih hebat dibandingkan dengan seribu karamah. Inilah doa yang sesungguhnya. Doa yang mampu menembus arsy dan menyentuh-Nya. Doa yang insyaAllah akan dikabulkan oleh Allah.

Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

(QS Ar-Ra’d ayat 11)

(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

(QS Al Anfal ayat 53)

Banyuwangi, 22 April 2008

Aziz Fajar Ariwibowo

March 11th, 2008

Kamu adalah surgaku…

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

Kamu adalah surgaku…

Kamu-kamu adalah surga yang ada,

Dalam hidupku, dalam kenyataanku,

Kamu aku adalah penghuni surga,

Ucapkan salam pada hidup dan mati…”

== The Rock feat Ahmad Dhani ==

Beberapa bulan yang lalu anak kedua saya lahir. Alhamdulillah, oleh Allah saya masih dipercaya mampu mendidik anak perempuan lagi. Namanya Izza. Anak pertama saya memang perempuan dan saat ini berumur kurang lebih 2,8 tahun, Ennea namanya. Setiap kali pulang kerja, Ennea selalu berlari ke depan sambil berteriak memanggil saya. “Ayah, ayah, ayah…” kata dia. Seakan-akan seluruh rasa capek di tubuh hilang seketika, berganti dengan keceriaan yang nampak lewat wajah dan tingkah lakunya.

Seringkali Ennea protes karena waktu saya lebih banyak tersita untuk urusan pekerjaan. “Bapak jangan kerja ya.” katanya pada saat ngobrol dengan saya malam hari sepulang dari kantor. Kadang-kadang dia juga berkata “Bapak, aku jangan ditinggal ya”. Hehe…

Mengiringi kelahiran anak kedua saya ini, cukup banyak pengalaman yang berkesan di dalam hati saya dan semakin menambah keimanan saya kepada Allah. Pengalaman-pengalaman itu membuktikan banyak hal mengenai kebesaran-Nya. Rasanya semakin kecil saja diri ini di hadapan Allah, serasa semakin tidak ada artinya. Dua pengalaman di antaranya akan saya share lewat tulisan ini.

Sebenarnya saya berencana baru menambah momongan setelah anak pertama saya berumur tiga atau empat tahun. Dengan pertimbangan anak pertama sudah cukup mandiri sehingga bisa ditinggal untuk fokus kepada anak kedua. Lagipula kalau jaraknya empat tahun lebih mudah nantinya pada masa anak sekolah terutama di sekolah dasar dan menengah.

Atas kuasa Allah, isteri saya hamil saat anak pertama baru berusia 1,5 tahun. Memang isteri saya tidak ikut KB. Kami berdua menggunakan sistem kalender sambil iseng-iseng mencoba untuk belajar berpuasa dan menahan diri. Selain itu segala cara sudah kami coba untuk mencegah agar isteri tidak hamil. Tapi ternyata sekuat apapun saya berusaha untuk tidak membuat isteri saya hamil, apabila Allah sudah berkehendak, isteri saya hamil juga.

Saya dan isteri bersepakat tidak menggunakan istilah kebobolan untuk kehamilan kedua ini. Karena hakikatnya kami tidak mampu untuk memilih apapun, semuanya sudah diberikan begitu saja oleh Allah. Kami merasa bahwa kelahiran Izza adalah anugerah, murni pemberian Allah untuk kami berdua. Kami merasa dipercaya oleh Allah bahwa kami layak untuk diberikan amanah dua orang anak perempuan yang cantik dan menggemaskan. Saya dan isteri berkewajiban untuk menjalankan dan menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya.

Itulah pelajaran pertama saya, bahwa Allah akan memberikan anugerah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Pilihan hanyalah ilusi belaka, hakikatnya manusia tidak mampu untuk memilih apapun. Kewajiban manusia adalah sekedar menjalani takdirnya dengan sebaik-baiknya. Segala di alam semesta ini adalah anugerah, tidak ada yang namanya musibah. Terminologi musibah muncul ketika manusia memandang anugerah itu dari sisi negatif. Tidak lebih dari itu.

Pelajaran kedua saya peroleh beberapa minggu lalu setelah Izza lahir. Suatu saat di malam hari saya merenung sendirian. Saya masih melihat ada pandangan umum di masyarakat yang mengatakan bahwa memiliki anak laki-laki lebih baik daripada anak perempuan. Kata mereka garis keturunan keluarga berlanjut hanya melalui anak laki-laki bukan anak perempuan.

Apa iya benar seperti itu, tanya saya dalam hati. Kalau memang benar, untuk apa Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan? Kalau memang garis keturunan hanya melalui anak laki-laki, untuk apa Allah menciptakan anak perempuan? Semuanya pasti ada maksudnya, ada hikmahnya. Allah menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini tidak ada yang sia-sia. Laki-laki tidak lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan perempuan. Karena sudah jelas bahwa yang paling tinggi derajatnya di hadapan Allah ditentukan berdasarkan tingkat ketaqwaannya, bukan berdasarkan jenis kelamin.

Lalu mengapa hingga kini masih saja beredar stereotip seperti itu? Apa yang akan dibuktikan dengan mempunyai dua anak laki-laki semuanya? Apa yang akan diraih dengan mempunyai dua anak perempuan semuanya? Keperkasaan sang suami? Bahwa anak laki-laki nanti yang akan menjaga dan membela kehormatan keluarganya?

Tidak ada sama sekali! Tidak ada yang dapat dibuktikan dengan mempunyai anak laki-laki. Karena apabila dikembalikan kepada Allah, maka sesungguhnya manusia tidak mempunyai pilihan apapun dalam hidup ini. Manusia diberikan akal pikiran hanya sekedar dalam rangka menjalani takdir yang dipilihkan oleh Allah untuknya. Tidak ada daya dan upaya kecuali hanya milik Allah semata.

Dalam skala yang lebih luas, apabila kita sempat mencermatinya, pada saat kita sudah meraih sesuatu maka pada saat itulah kita akan merasa kosong. Nol. Tidak ada artinya. Tidak ada yang dapat dibuktikan dengan pencapaian itu. Karena tanpa izin Allah kita tidak akan mampu mencapainya. Tanpa izin dan ridla dari Allah kita tidak akan mampu meraihnya.

Beberapa hari kemudian saya silaturahmi ke salah satu ulama di daerah Banyuwangi selatan. Saat itu tidak ada orang lain yang berkunjung, jadi saya bisa dengan hikmat berbincang banyak hal dengan beliau. Silaturahmi itu adalah yang kedua bagi saya, setelah cukup lama saya tidak sowan ke sana.

Dalam salah satu obrolannya, beliau bertanya kepada saya ”berapa anaknya mas, laki-laki atau perempuan?”. Saya menjawab bahwa anak saya dua, perempuan semua. Alhamdulillah, ujar beliau. Dijelaskan oleh beliau bahwa anugerah dua anak perempuan itu bukanlah tanpa maksud. Allah akan memilih keluarga mana saja yang akan diberikan anak laki-laki atau perempuan. Keluarga yang diberikan anak perempuan adalah keluarga yang nantinya diharapkan mampu mendidik dan menempatkan anak perempuannya pada posisi yang tepat menurut agama Islam. Tidak melebih-lebihkan atau menguranginya.

Dalam perjalanan pulang saya kembali merenungi kata-kata beliau tersebut. Allah tidak pernah salah. Apapun takdir Allah, itulah yang terbaik buat manusia. Apa yang menurut manusia baik, belum tentu baik menurut Allah. Sedangkan apa yang menurut manusia jelek, belum tentu juga jelek menurut Allah. Manusia tidak ada yang tahu rahasia Allah tersebut. Hanya manusia yang sombong dan berlebih-lebihanlah yang berani memutuskan sesuatu itu baik atau jelek.

Anakku Izza, engkau adalah anugerah dan amanah dari Allah. Insyaallah kami, kedua orang tuamu, akan berusaha sekuat tenaga menjaga amanah ini. Kami percaya sepenuhnya bahwa Allah memilih kami sebagai orang tuamu. Kami juga percaya sepenuhnya bahwa Allah memilih engkau untuk lahir melalui rahim ibumu dan menjadi anak kami. Semua itu sudah ditentukan dan ditulis oleh Allah dalam kitab yang terpelihara. Bukan kebetulan, bukan pula ketidaksengajaan.

Yakinlah anakku Izza, bahwa hatimu adalah hati kami. Saat engkau menangis, maka sebenarnya air mata orang tuamu inilah yang menetes. Yakinlah anakku Izza, bahwa saat engkau disakiti, maka kami orang tuamu inilah yang lebih dulu terluka.

Anakku Izza, bagi kami engkau adalah surga yang ada di dunia ini. Engkau adalah surga yang ada dalam kenyataan kami. Kesedihanmu adalah kesedihan kami. Kebahagiaamu adalah juga kebahagiaan kami. Tersenyumlah Izza, karena engkau adalah penghuni surga. Ucapkan salam pada hidup dan mati…

Dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? Benar, Dia berkuasa. Dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.”

==QS Yasin ayat 81 – 82==

Banyuwangi, 10 Maret 2008

Aziz Fajar Ariwibowo

see my blog : http://aziz-fajar.blogs.friendster.com/azizfajar/

(Terimakasih untuk Ahmad Dhani atas kejeniusannya menciptakan lagu “Kamu-kamulah surgaku”.)

Kamu-kamulah surgaku

Tahukah kamu kuciumimu

Di saat kamu terlelap

Tahukah kamu kudekap kamu

Di saat kamu bermimpi

Tahukah kamu ya Cuma kamu

Pemilik hatiku

Tahukah kamu hatiku ini

Adalah hatimu

Tahukah kamu di setiap tidurmu

Kukagumi wajahmu

Nanti kau kan tahu

Nanti kau dengar

Bahwa aku begitu

Reff.:

Kamu-kamu adalah surga yang ada

Dalam hidupku dalam kenyataanku

Kamu aku adalah penghuni surga

Ucapkan salam pada hidup dan mati

Tahukah kamu disaat kamu menangis

Adalah air mataku yang jatuh berlinang

Tahukah kamu disaat kamu tersakiti

Adalah aku yang pertama terluka

Tahukah kamu ya Cuma aku

Yang punya cinta untukmu

Tahukah kamu ya Cuma aku

Yang rela mati untukmu

Reff.:

Kamu-kamu adalah surga yang ada

Dalam hidupku dalam kenyataanku

Kamu aku adalah penghuni surga

Ucapkan salam pada hidup dan mati

December 23rd, 2007

The Secret, Sebuah Pendalaman ataukah Pendangkalan?

Posted by aziz-fajar in Uncategorized

The Secret, Sebuah Pendalaman ataukah Pendangkalan?

Saya tidak tahu apakah tulisan saya ini termasuk basi atau tidak, karena hiruk pikuk bahasan tentang the secret saat ini sudah mulai agak surut. Booming the secret sendiri sudah terjadi kira-kira dua atau tiga bulan yang lalu. Tapi, ah saya tidak peduli. Saya hanya ingin berbagi perspektif saya pribadi atas teori law of attraction tersebut. Saya juga tidak ingin berbicara tetang benar atau salah. Karena saya yakin kita sudah mampu mencernanya dalam hati nurani masing-masing. Okey, mari kita mulai.

Membaca buku the secret rasanya seperti kembali membaca diri saya sendiri beberapa waktu yang lalu. Saat saya masih kuliah dulu, meskipun tidak persis berada pada sudut pandang yang sama dengan Rhonda Byrne, saya menganggap bahwa diri pribadi saya berperan sangat penting pada setiap langkah dalam hidup ini. Saya adalah penguasa kehidupan saya di dunia. Sedangkan Allah saya letakkan pada barisan terakhir penentu nasib. Saat itu saya sangat yakin bahwa apabila saya selalu mengafirmasi diri melalui pikiran ataupun tulisan maka keinginan saya pasti akan terwujud. Hanya tinggal menunggu waktu saja.

Akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu, prinsip tersebut juga ikut berubah. Bagi saya selalu ada Allah di balik apapun yang terjadi di alam semesta ini. Dalam lauhil mahfudz sudah tertulis semua perjalanan hidup setiap manusia. Saya haya tinggal menjalaninya saja. Tidak lebih dari itu.

Membaca buku the secret terasa seperti membaca pikiran manusia yang sangat rasional. Logika-logika yang diketengahkan juga disertai dengan argumen yang rasa-rasanya sulit untuk dibantah. Namun rasa yang berbeda muncul saat saya membaca the alchemist-nya Paulo Coelho. Meskipun sama-sama berbicara tentang semesta yang akan membantu mewujudkan keinginan kita, namun sense yang muncul dari the alchemist jauh lebih lembut. Jauh lebih spiritual. Rasanya the alchemist seperti berasal dari hati, sedangkan the secret berasal dari otak.

Sebenarnya the secret juga mengakui kekuatan yang tak kasat mata. Rhonda mengajak pembacanya untuk mengimani dan meyakini kekuatan yang maha hebat diluar dimensi manusia. Kekuatan itu dia definisikan sebagai kekuatan semesta yang bernama hukum tarik menarik.

Selain tentang iman dan yakin, beberapa hal lain dari the secret yang saya kagumi adalah ajakan untuk selalu berpikir positif, optimis, selalu membangun perasaan baik, segera bertindak untuk mewujudkan, bersyukur dan menghargai atas apa yang kita miliki saat ini, dan selalu berterimakasih. Dua hal terakhir inilah yang menurut saya menjadi sisi spiritual dari the secret meskipun bahasa yang digunakan juga sangat rasional.

Saya jadi ingat firman Allah dalam QS Ibrahim ayat 7 yang menyatakan bahwa ”sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. Bersyukur, sebuah kata yang sangat indah menurut saya. Konsep syukur ini kemudian diaplikasikan dengan selalu mengucap terimakasih dalam kondisi apapun dalam setiap kejadian keseharian di kehidupan kita.

Syukur dan terimakasih inilah yang seringkali terlupakan oleh mayoritas dari kita. Padahala apabila dua hal ini ”diugemi” dan dijadikan sebagai panduan hidup, sungguh hasilnya akan menjadi sangat hebat. Tidak ada lagi intrik yang muncul akibat ego masing-masing. Yang ada hanya rasa optimis dan pikiran positif. Tidak akan ada lagi terminologi musuh ataupun pesaing. Yang ada hanya kawan dan partner. Mengasyikkan rasanya apabila hidup dalam dunia seperti itu.

Satu hal dari the secret yang tak kalah menarik adalah pemahaman bahwa tidak ada papan tulis di langit yang ditulis oleh Tuhan mengenai maksud dan tujuan hidup kita. Menurut Rhonda, akal atau pikiran kita sendirilah yang membentuk semesta. Tidak ada campur tangan siapapun atau apapun dalam perjalanan hidup manusia. Kita adalah penguasa kehidupan kita sendiri, kata Rhonda.

Secara eksplisit terlihat bahwa the secret tidak mengakui adanya takdir. Padahal beberapa tahun terakhir ini masyarakat barat melalui film-filmnya sudah banyak yang mulai memahami bahwa tidak ada yang kebetulan di semesta ini. Ada grand design yang melatarbelakangi segala kejadian di dunia. Grand design itulah yang mereka sebut sebagai destiny. Takdir. Bahkan as sekop, dalam buku miteri soliter, mengatakan bahwa yang mengetahui takdirnya harus menjalaninya.

Dalam pemahaman saya, memang semuanya akan selalu bermuara kepada diri sendiri. Apapun yang kita cari, jawabannya ada di hati dan diri kita. Dalam bahasa salah seorang kenalan, kambing hitam tidak berada di mana-mana tetapi ada di diri sendiri. Namun tidak berarti bahwa manusia kemudian merasa sombong dan mengatakan bahwa “saya yang menciptakan semesta, sehingga semesta ini milik saya, dan hanya saya yang berhak untuk mengaturnya”.

Dalam keyakinan yang saya anut, wajib hukumnya untuk meyakini dan mengimani enam hal yang salah satunya adalah percaya pada qadha dan qadar. Percaya pada ketentuan Allah yang sudah tertulis bahkan sebelum kita diciptakan ke dunia. Keyakinan tersebut mengkristal dalam konsep “la haula wala quwwata illa billah”. Tiada daya dan tiada upaya kecuali hanya milik Allah.

Seakan-akan manusia memang memiliki free will untuk memilih. Namun pada hakikatnya sama sekali manusia tidak memiliki kemampuan untuk berbuat apapun. Segala sesuatu terjadi atas izin Allah. Pada hakikatnya manusia dan semesta ini sesungguhnya tidak ada, yang ada hanya Allah.

Pada posisi manakah the secret berada? Saya yakin bahwa sebenarnya Rhonda dan rekan-rekannya yang memunculkan konsep the secret adalah para filosof yang telah mengalami begitu banyak hal di dalam kehidupannya. Saya juga yakin sesungguhnya mereka adalah para spiritualis dan shaman yang dalam proses perjalanan dan pencariannya telah menemukan sangat banyak hal. Namun apabila kesimpulan yang mereka ambil adalah tidak ada papan tulis kehidupan di langit yang ditulis oleh Tuhan mengenai maksud dan tujuan hidup kita, apakah merupakan sebuah penggalian yang lebih dalam? Ataukah malah sebuah pendangkalan?

Mari kita tanyakan jawabannya kepada hati nurani kita masing-masing.

Banyuwangi, 16 Desember 2007

Aziz Fajar Ariwibowo

Next Page »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Meta: